Soekarno, konsep partai Negara dan demokrasi terpimpin




1.Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia masa penuh gejolak, khususnya dalam bidang politik. Gagasan dan praktik politik diwarnai ketegangan

2.Pada masa ini, tokoh pergerakan nasional berupaya kembangkan konsep negara yang tepat untuk Indonesia pasca merdeka. Jalannya tak mulus.

3.Dalam perjalanannya, masa ini diwarnai dengan perubahan demi perubahan sistem politik, cermin benturan ide di kalangan tokoh pergerakan.

4.#Soekarno adalah tokoh yang berada di garis depan yang berusaha membangun gagasan dan praktik politik yang tepat untuk Indonesia.

5.#Soekarno pria penuh karisma, menawan, dan kontroversial dalam sejarah nasional Indonesia. Kali ini, kita akan membicarakan sosoknya.

6.Dalam membicarakan pemilik gelar ‘Putra Sang Fajar’ ini, saya akan rangkum artikel Wilson, #Soekarno, Staatpartij dan Demokrasi Terpimpin.

7.Artikel Wilson tentang #Soekarno ini termuat dalam majalah Prisma, Edisi Khusus Volume 32, No. 2 & No. 3, 2013. Menarik!

8.Sebagaimana judul artikel, Wilson memang bahas #Soekarno terkait dengan dua gagasannya yang terkenal: Partai Negara & Demokrasi Terpimpin.

9.Kita akan lihat gagasan #Soekarno tentang Partai Negara berusaha dihalang-halangi dan konsep Demokrasi Terpimpin ditunggangi militer.

10.Kita akan mulai dari pencegalan pertama terhadap #Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama yang melibatkan Hatta dan Sjahrir.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Bincang Ringan Sore Bersama Putu Oka Sukanta





Terbangun dalam keadaan sedikit kalut. Seperti anak mahasiswa yang terlambat bangun sementara final mata kuliah yang diulang-ulang setiap semester sudah dimulai. Hari ini aku berniat ikut diskusi dan bedah buku di Fakultas Sastra Unhas. Tapi aku bangun pukul sepuluh.

Aku segera mengirim pesan ke seorang junior di kampus, apakah diskusinya sudah berjalan. “Diskusinya sudah dimulai, kak!” jawab junior saya itu lewat SMS.

Aku segera mandi. Ganti pakaian. Segera keluar dan menyusuri jalan. Jika aku harus naik mobil ke kampus dari depan BDP, kompleks tempat aku menginap beberapa malam terakhir, berarti aku  harus menyambung mobil dua kali. Tapi kalau berjalan beberapa ratus meter, aku akan tiba pada pemberhentian mobil kampus 08 (pete-pete khusus bolak-balik kampus). Aku ambil opsi kedua: berjalan ke tempat menunggu mobil 08.

Ternyata aku salah: berjalan dari kompleks menuju tempat ambil pete-pete 08 itu jauh. Jam di handphone-ku sudah menunjukkan pukul 10.30 wita. Makassar pada jam itu panas sekali. Aku berkeringat. Padahal baru saja mandi.

Setiba di tempat menunggu pete-pete, tak ada yang menuju kea rah kampus. Lama aku menunggu. Gusar. Karena tak datang-datang juga, aku memutuskan mengambil taxi yang melintas pelan di hadapanku.

“Ke mana, pak?” tanya sopir taxi.

“Ke kampus. Fakultas sastra,” jawabku.

Aku menutup pintu. Ia menatapku sejenak. “Argo tak usah saya jalankan, ya pak?”

Loh kenapa?” spontan aku bertanya.

“Sekedar cari uang rokok, pak! Susah sekali bela cari uang rokok! Dua bulan nyopir baru bisa dapat.”

Saat itu yang ada di pikiranku aku harus segera tiba di kampus. Jadi dengan cepat kuiyakan permintaannya.
Aku tiba dengan cepat di kampus. Dan aku membayarnya dengan seharga dua kali naik pete-pete. Ia ambil juga dengan sumringah di bibirnya.

Aku percepat langkahku menuju aula Mattulada. Setiba di sana, junior-juniorku berkerumun di depan aula. Memang acara bedah buku itu diadakan oleh jurusan ilmu sejarah, jurusan tempat aku menuntut ilmu. Mereka menjaga meja absen dan melayani orang-orang yang ingin membeli buku yang tengah dibedah. Aku membeli buku itu satu. Sulawesi Bersaksi. Ada dua buku yang dijual. Satunya lagi dengan judul sampul yang besar: 1965.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

#AksiMassa, Peran Besar yang Diabaikan






1.Saya baru saja usai membaca catatan penutup buku  ‘Sejarah Alternatif Indonesia’ (Malcolm Caldwell & Ernst Utrecht) ditulis oleh Max Lane.

2.Judul catatan Max Lane: Paradigma-paradigma untuk Sejarah Alternatif: Ketiadaan Analisis Kelas dalam Studi-studi Sejarah Kontemporer.

3.Menarik. Ia menyoal studi yang ditulis sejarawan barat yang mengabaikan peran #AksiMassa sebagai faktor penentu sejarah politik Indonesia.

4.Tesis utamanya: krisis & mobilisasi #AksiMassa-lah faktor penentu pada titik-titik balik utama dalam sejarah politik periode 1949-2008.

5. Max: #AksiMassa dapat dilihat dengan gamblang dalam sejarah Indonesia. hadir sebagai protes, juga berkembang menjadi metode gerakan utama

6.#AksiMassa jadi pilihan jitu dan efektif yang hadir dalam setiap kejadian gerakan anti-kolonial, jauh sebelum bangsa Indonesia terbentuk.

7.Anehnya, sebagian besar catatan para sejarawan Barat cenderung mengabaikan peran penting #AksiMassa bagi perubahan politik yang penting.

8.Studi akademik tentang sejarah politik Indonesia ini didominasi para teoritikus dan sarjana Amerika, Australia dan Eropa. #AksiMassa.

9.Anehnya ide penulis Indonesia dijadikan objek studi, jarang sebagai perangkat teoritik-analitik untuk memahami sejarah politik. #AksiMassa

10.ini cermin arogansi neo-kolonial dan akademik. Mereka menolak ide para pemimpin Indonesia, dianggap tak punya daya penjelasan. #AksiMassa

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Surat-Surat Sarpin kepada Fatimah



Review kali ini adalah bagian ketiga—Antara Tanah dan Hati—yang berisi delapan cerita. Dan semua cerita di bagian ketiga ini seluruhnya berkisar pada kawan karib si Abas, narator dalam kisah-kisah dalam buku ini, yang bernama Sarpin Danuasmara. Lebih tepatnya lagi: tentang surat-surat si Sarpin untuk kekasihnya bernama Fatimah.

Dalam sebagian besar cerita, selalu ada surat-surat si Sarpin yang dikutip utuh. Surat itu adalah balasan untuk setiap surat yang dikirimkan oleh kekasihnya. Tapi surat Fatimah tak dikutip oleh si Abas. Surat-surat Sarpin membuka tabir-tabir misteri diri Sarpin, cita-citanya, pandangannya tentang berbagai hal terkait kehidupan: Negara, bangsa, perjuangan, revolusi, hingga persoalan cinta.

Surat-surat itu diamanahkan kepada si Abas, kawan karib Sarpin. Amanah itu diberikan si Sarpin saat ia menyatakan niatnya untuk melarikan diri dari tahanan. Ia tahu risikonya bakal seperti apa. Ia tahu jika ia melarikan diri, maka pemburuan dan pembunuhan akan berlaku atas dirinya. Tapi niatnya kukuh benar. Abas tak percaya dengan niat Sarpin.

Sarpin berkata, ia menyimpan salinan surat-suratnya kepada Fatimah di sebuah tempat tempat kakus tawanan. Ia menyerahkan kertas-kertasnya kepada si Abas. Ia minta jika Fatimah datang menjenguk, surat-surat itu diberikan kepadanya. Tapi Abas tetap tidak percaya. Tapi pagi hari saat matahari terbit keesokan harinya, Sarpin benar-benar pergi.


Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Birahi Abas dan Kisah Mami Si Babu



Catatan ini adalah review bagian kedua dari Mereka Yang Dilumpuhkan karya Pramoedya Ananta Toer. Bagian kedua ini diberi judul: Antara Laut dan Keringat. Di dalam bagian kedua ini ada delapan cerita, sama dengan bagian pertama—Bubu. Bagian kedua ini tak kalah seru dan menariknya dari bagian pertama.

Jika pada bagian pertama kita diperkenalkan pada beragam tokoh beserta watak dan ceritanya sendiri-sendiri, maka pada bagian kedua ini kita akan dibawa masuk ke latar kisah baru: kerja paksa. Dalam kerja paksa ini cerita bergulir pada persoalan antara para tawanan, babu, dan para jongos dengan komandan pesanggerahan yang disebut dengan si mata kucing. Salah satu cerita yang cukup menjadi fokus di delapan cerita di dalamnya adalah soal babu perempuan yang dijadikan target seks oleh si komandan. 

Komandan pesanggerahan ini dikenal kejam oleh para tawanan. Ia senang menggunakan cawat hitam ke mana-mana. Tak ada yang berani membantah perintahnya. Membantah berarti bertaruh nyawa. Komandan ini diam-diam memanfatkan beberapa babu yang ia hasrati untuk memuaskan birahinya. Salah satunya bernama Mami.

Selalu ada kopi hitam pekat setiap kali (karya-karya) Pram. Srruppp...


Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment

Kobar Revolusi di Atas Kapal Kani Kosen




Revolusi. Satu kata yang menggetarkan. Juga subversif. Di dalamnya ada tersimpan mimpi dan cita-cita yang besar. Lalu diwujudkan dalam aksi nyata yang senantiasa penuh gejolak, intrik, dan berdarah. Revolusi lahir dari rahim penindasan yang tak tertanggungkan. Revolusi juga adalah harapan yang tidak tinggal diam untuk dimanifestasikan. Ia aktif dan progresif. Tidak bergerak mundur.

Kani Kosen, atau Kapal Pengolahan Kepiting, telah menjadi rahim revolusi bagi para buruh yang bekerja dalam kondisi memprihatinkan. Kapal besar dalam cerita yang ditulis Kobayashi Takiji itu menjadi satu gambaran utuh genealogi lahirnya pemberontakan satu kelas tertindas. Tercerabut dari kehidupan alaminya, para buruh bekerja di bawah penindasan sang mandor, kemudian perlahan-lahan beberapa buruh tak tahan ditindas, lalu mulai protes dan melancarkan pemogokan, dan dalam proses itu mereka pun belajar mengorganisir diri secara rapih serta membangun solidaritas demi cita-cita pembebasan.

Kobayashi adalah seorang sastrawan Komunis asal Jepang. Ia mati muda dalam usia 29 tahun pada tahun 1933. Kematiannya nyaris sama mengenaskan dengan kematian beberapa tokoh ceritanya yang tewas disiksa sang mandor—Kobayashi meninggal dalam siksaan kepolisian Jepang. Kani Kosen adalah novel yang ia tulis pada 1929, lalu dilarang beredar oleh rezim militer Jepang. Secara mengejutkan, novel ini menjadi best-seller di kalangan anak muda Jepang, 80-an tahun kemudian, yakni pada 2008-2009. Tahun itu disebut-sebut sebagai booming Kani Kosen.

Memang ada kondisi yang nyaris sama antara pada awal terbitnya Kani Kosen (1929) dengan masa best-seller-nya pada 2008. 1929, sebagaimana diketahui, adalah era Great Depression. Dan 2008 adalah tahun di mana krisis melanda dunia. Anak muda Jepang melihat nasib kehidupan mereka dalam kehidupan para buruh yang tertindas di atas kapal Kani Kosen (Kani=Kepiting, Ko=pabrik, Sen=kapal)—kapal pengolahan kepiting.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

Gula: Kolonialisme dan Perbudakan




Kolonialisme dan perbudakan adalah dua hal yang berjalin-kelindan dalam sejarah gula. Penaklukan, peperangan dan sejarah kelam kerja paksa para budak tidak bisa dipisahkan dari proses perjalanan sejarahnya yang panjang. Sepanjang apapun sejarah gula itu, sepanjang itu juga warna suram merentang mengikutinya. Warna suram itu berupa kematian berjuta-juta budak karena penyakit dan beban berat, penaklukan berdarah yang berbuah pemberontakan, dan pembukaan perkebunan besar dengan membabat hutan yang merusak lingkungan.  

Pada mulanya, gula adalah barang mewah. Ia diproduksi terbatas dan cara ia diproduksi dirahasiakan. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui dan memahami pengolahannya. Di Pulau Nugini, tulis Rich Cohen dalam ‘Manisnya Gula (kisah yang tidak begitu manis), tebu ditanam 10.000 tahun lalu. Masyarakatnya mengunyahnya mentah-mentah, dan airnya diteguk setiap kali ada ritual keagamaan (sekarang sudah tergantikan coca cola). Bahkan ada mitos yang menyebutkan umat manusia di dunia ini lahir atas percintaan manusia pertama dengan sebatang tebu.

Lalu gula mulai menyebar dari pulau ke pulau. Dalam perjalanannya, teknologi produksinya disempurnakan dan pengolahannya perlahan menjadi industri. Tapi dalam perjalanan itu pula, permintaan gula meningkat, perdagangan budak juga meningkat, dan hutan-hujan dibabat dalam skala luas.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments
Powered by Blogger.