Musik



Irama berkejaran. Adrenaline terpancing. Serupa meditasi yang sunyi di luar, namun di dalam bergemuruh dan liar. Ada stakkato, ada dentuman, ada lengkingan, ada dentingan. Seluruhnya berpadu dalam musik bising yang menyajikan candu. Aku suka itu! Ya, aku sangat suka itu!

Bunyi-bunyi berontak, bunyi-bunyi di dalam kepalaku berontak. Mereka tak ingin ditaklukkan aturan. Mereka bebas meliuk-liuk, seperti rute jalan arena balap. Ia merobek, ia menembus, ia menghunus, ia meringkus, ia terbang, ia melesat, ia menolak tertangkap udara. Terus menantang arus. Bunyi-bunyi itu menantang arus, bunyi-bunyi itu terus menantang arus...

Musik meditasi ini kacau namun indah. Riuh namun merdu. Dengkingnya menenangkan. Teriakan apapun yang kau lesatkan ke udara, ia akan segera menelan dan menghancurkannya. Kau tak punya ruang untuk mendengar suaramu sendiri. Musik ini menginginkan kau menghempaskan diri ke dalam dirimu sendiri. Memahami diri yang keruh. Mengenali hati yang terisi keluh.

Musik ini melemparkan dirimu ke bibir jurang. Di sana kau menemukan diri berpayung. Sementara awan hitam kelam dan badai bertiup ke arah ngarai. Musik ini memprovokasi angin agar menghempaskan kau ke jurang yang dipenuhi binatang-binatang purba yang abadi, dan kelaparan. Musik kian pekak saat tubuhmu seakan mengejar payung yang tertiup badai dan lepas dari genggamanmu. Kau meniru gerakan payung yang menari-nari di udara, terhempas tebing, menggelincir menghantam batu-batu, dan meluncur lancar ke dalam mulut buaya yang beribu-ribu tahun menganga.

Musik masih bergema. Kini semakin sunyi. Kau merasakan aroma asam memanaskan kulitmu. Matamu perih dan berdarah. Kakimu kebas dan panas. Dadamu terasa bengkak. Lambungmu mual, lalu seperti balon yang terisi udara yang ditiup bocah tak henti-henti, kau meledak, berserpih, dagingmu koyak di dalam, gigi-gigimu rontok, rambutmu tercerabut dari kepala, dan tulang-tulangmu lumat. 

Kau hilang, dimakan kelaparan binatang yang dilupakan tuhan.

Selamat menyambut kelahiran baru! Jadilah manusia! Jadilah!

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Catatan Harian Seorang Penggerutu



Selamat pagi hai kamu, yang mengetik ditemani kopi setengah manis. Kamu sebetulnya tidak pantas ditemani apa pun. Kamu hanya seorang penggerutu, dan seorang penggerutu tak pantas dimanjakan apapun. 

Hah, ini jenis pembukaan tulisan macam apa? Aku memang tidak terlatih menulis lagi. Tidak mampu lagi menahan penderitaan. Dimanjakan waktu, tidak mau bertarung dengan keadaan yang berat. Mau jadi apa kamu?

Di balik jendela dan pintu kamar kost mu begitu manis, awan-awan tidak pernah sepi pelintas, baik burung-burung, layang-layang, angin yang menuntun awan-awan berpencar, dan lain-lain. Di dalam lembaran-lembaran buku-bukumu yang bertumpuk-tumpuk itu terhampar dunia maha luas, selaksa cerita, selaksa pengetahuan, selaksa kebijaksanaan, tapi kau tak juga beranjak menyesap mereka. Kamu memang sungguh tak berguna!

Kamu kesepian. Kamu kesepian. Kamu kesepian. Kamu kesepian. Dan kamu mengira kesepian adalah keadaan yang kosong, keadaan yang menekan. Kamu kehilangan daya kreatifmu. Kok bisa kesepian itu kosong? Kok bisa dia membebani? Kamu ingin belajar menulis, tapi kau lupa tambang emas seorang penulis adalah kondisi-kondisi yang berat dan menekan, di sana tersimpan masalah yang berlimpah untuk ditambang dan disepuh menjadi tulisan yang berkilau. Kau setengah mati menunggu kondisi yang ceria, keadaan yang bahagia, sebuah pagi yang penuh cahaya matahari. Kisah menarik apa yang diharapkan dari kondisi semacam itu?

Barangkali setahun sudah kamu tidak menghasilkan apa-apa. Kamu sibuk mengeluh. Otakmu laksana laci-laci meja tua di gudang, penuh kecoa dan serangga, menggerogoti dokumen-dokumen penting di sana. Otakmu seperti septic tank, penuh tinja kuning yang busuk…

Hei pengeluh, selamat pagi! Itu sapaan yang cocok buatmu! Sekarang tugaskan dirimu untuk merayakan kepengecutanmu atas hidup yang tak terekam dalam tulisan-tulisanmu. Hari-hari ke depan, teruslah menulis keluhan-keluhanmu itu. Rayakan semua itu!

Sudah, sekarang sesap habis kopimu. Tuntaskan list lagu-lagu dari folder laptopmu. Seusai itu, beranjaklah dari tempat dudukmu, dan pergilah ke mana sekiranya hidup ini menjanjikan petualangan.

Semangat, hei pengeluh!


Gang Melati Putih. Rembiga, Mataram. Senin, 27/02/16

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Soekarno, konsep partai Negara dan demokrasi terpimpin




1.Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia masa penuh gejolak, khususnya dalam bidang politik. Gagasan dan praktik politik diwarnai ketegangan

2.Pada masa ini, tokoh pergerakan nasional berupaya kembangkan konsep negara yang tepat untuk Indonesia pasca merdeka. Jalannya tak mulus.

3.Dalam perjalanannya, masa ini diwarnai dengan perubahan demi perubahan sistem politik, cermin benturan ide di kalangan tokoh pergerakan.

4.#Soekarno adalah tokoh yang berada di garis depan yang berusaha membangun gagasan dan praktik politik yang tepat untuk Indonesia.

5.#Soekarno pria penuh karisma, menawan, dan kontroversial dalam sejarah nasional Indonesia. Kali ini, kita akan membicarakan sosoknya.

6.Dalam membicarakan pemilik gelar ‘Putra Sang Fajar’ ini, saya akan rangkum artikel Wilson, #Soekarno, Staatpartij dan Demokrasi Terpimpin.

7.Artikel Wilson tentang #Soekarno ini termuat dalam majalah Prisma, Edisi Khusus Volume 32, No. 2 & No. 3, 2013. Menarik!

8.Sebagaimana judul artikel, Wilson memang bahas #Soekarno terkait dengan dua gagasannya yang terkenal: Partai Negara & Demokrasi Terpimpin.

9.Kita akan lihat gagasan #Soekarno tentang Partai Negara berusaha dihalang-halangi dan konsep Demokrasi Terpimpin ditunggangi militer.

10.Kita akan mulai dari pencegalan pertama terhadap #Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama yang melibatkan Hatta dan Sjahrir.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Bincang Ringan Sore Bersama Putu Oka Sukanta





Terbangun dalam keadaan sedikit kalut. Seperti anak mahasiswa yang terlambat bangun sementara final mata kuliah yang diulang-ulang setiap semester sudah dimulai. Hari ini aku berniat ikut diskusi dan bedah buku di Fakultas Sastra Unhas. Tapi aku bangun pukul sepuluh.

Aku segera mengirim pesan ke seorang junior di kampus, apakah diskusinya sudah berjalan. “Diskusinya sudah dimulai, kak!” jawab junior saya itu lewat SMS.

Aku segera mandi. Ganti pakaian. Segera keluar dan menyusuri jalan. Jika aku harus naik mobil ke kampus dari depan BDP, kompleks tempat aku menginap beberapa malam terakhir, berarti aku  harus menyambung mobil dua kali. Tapi kalau berjalan beberapa ratus meter, aku akan tiba pada pemberhentian mobil kampus 08 (pete-pete khusus bolak-balik kampus). Aku ambil opsi kedua: berjalan ke tempat menunggu mobil 08.

Ternyata aku salah: berjalan dari kompleks menuju tempat ambil pete-pete 08 itu jauh. Jam di handphone-ku sudah menunjukkan pukul 10.30 wita. Makassar pada jam itu panas sekali. Aku berkeringat. Padahal baru saja mandi.

Setiba di tempat menunggu pete-pete, tak ada yang menuju kea rah kampus. Lama aku menunggu. Gusar. Karena tak datang-datang juga, aku memutuskan mengambil taxi yang melintas pelan di hadapanku.

“Ke mana, pak?” tanya sopir taxi.

“Ke kampus. Fakultas sastra,” jawabku.

Aku menutup pintu. Ia menatapku sejenak. “Argo tak usah saya jalankan, ya pak?”

Loh kenapa?” spontan aku bertanya.

“Sekedar cari uang rokok, pak! Susah sekali bela cari uang rokok! Dua bulan nyopir baru bisa dapat.”

Saat itu yang ada di pikiranku aku harus segera tiba di kampus. Jadi dengan cepat kuiyakan permintaannya.
Aku tiba dengan cepat di kampus. Dan aku membayarnya dengan seharga dua kali naik pete-pete. Ia ambil juga dengan sumringah di bibirnya.

Aku percepat langkahku menuju aula Mattulada. Setiba di sana, junior-juniorku berkerumun di depan aula. Memang acara bedah buku itu diadakan oleh jurusan ilmu sejarah, jurusan tempat aku menuntut ilmu. Mereka menjaga meja absen dan melayani orang-orang yang ingin membeli buku yang tengah dibedah. Aku membeli buku itu satu. Sulawesi Bersaksi. Ada dua buku yang dijual. Satunya lagi dengan judul sampul yang besar: 1965.

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

#AksiMassa, Peran Besar yang Diabaikan






1.Saya baru saja usai membaca catatan penutup buku  ‘Sejarah Alternatif Indonesia’ (Malcolm Caldwell & Ernst Utrecht) ditulis oleh Max Lane.

2.Judul catatan Max Lane: Paradigma-paradigma untuk Sejarah Alternatif: Ketiadaan Analisis Kelas dalam Studi-studi Sejarah Kontemporer.

3.Menarik. Ia menyoal studi yang ditulis sejarawan barat yang mengabaikan peran #AksiMassa sebagai faktor penentu sejarah politik Indonesia.

4.Tesis utamanya: krisis & mobilisasi #AksiMassa-lah faktor penentu pada titik-titik balik utama dalam sejarah politik periode 1949-2008.

5. Max: #AksiMassa dapat dilihat dengan gamblang dalam sejarah Indonesia. hadir sebagai protes, juga berkembang menjadi metode gerakan utama

6.#AksiMassa jadi pilihan jitu dan efektif yang hadir dalam setiap kejadian gerakan anti-kolonial, jauh sebelum bangsa Indonesia terbentuk.

7.Anehnya, sebagian besar catatan para sejarawan Barat cenderung mengabaikan peran penting #AksiMassa bagi perubahan politik yang penting.

8.Studi akademik tentang sejarah politik Indonesia ini didominasi para teoritikus dan sarjana Amerika, Australia dan Eropa. #AksiMassa.

9.Anehnya ide penulis Indonesia dijadikan objek studi, jarang sebagai perangkat teoritik-analitik untuk memahami sejarah politik. #AksiMassa

10.ini cermin arogansi neo-kolonial dan akademik. Mereka menolak ide para pemimpin Indonesia, dianggap tak punya daya penjelasan. #AksiMassa

Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Surat-Surat Sarpin kepada Fatimah



Review kali ini adalah bagian ketiga—Antara Tanah dan Hati—yang berisi delapan cerita. Dan semua cerita di bagian ketiga ini seluruhnya berkisar pada kawan karib si Abas, narator dalam kisah-kisah dalam buku ini, yang bernama Sarpin Danuasmara. Lebih tepatnya lagi: tentang surat-surat si Sarpin untuk kekasihnya bernama Fatimah.

Dalam sebagian besar cerita, selalu ada surat-surat si Sarpin yang dikutip utuh. Surat itu adalah balasan untuk setiap surat yang dikirimkan oleh kekasihnya. Tapi surat Fatimah tak dikutip oleh si Abas. Surat-surat Sarpin membuka tabir-tabir misteri diri Sarpin, cita-citanya, pandangannya tentang berbagai hal terkait kehidupan: Negara, bangsa, perjuangan, revolusi, hingga persoalan cinta.

Surat-surat itu diamanahkan kepada si Abas, kawan karib Sarpin. Amanah itu diberikan si Sarpin saat ia menyatakan niatnya untuk melarikan diri dari tahanan. Ia tahu risikonya bakal seperti apa. Ia tahu jika ia melarikan diri, maka pemburuan dan pembunuhan akan berlaku atas dirinya. Tapi niatnya kukuh benar. Abas tak percaya dengan niat Sarpin.

Sarpin berkata, ia menyimpan salinan surat-suratnya kepada Fatimah di sebuah tempat tempat kakus tawanan. Ia menyerahkan kertas-kertasnya kepada si Abas. Ia minta jika Fatimah datang menjenguk, surat-surat itu diberikan kepadanya. Tapi Abas tetap tidak percaya. Tapi pagi hari saat matahari terbit keesokan harinya, Sarpin benar-benar pergi.


Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments

Birahi Abas dan Kisah Mami Si Babu



Catatan ini adalah review bagian kedua dari Mereka Yang Dilumpuhkan karya Pramoedya Ananta Toer. Bagian kedua ini diberi judul: Antara Laut dan Keringat. Di dalam bagian kedua ini ada delapan cerita, sama dengan bagian pertama—Bubu. Bagian kedua ini tak kalah seru dan menariknya dari bagian pertama.

Jika pada bagian pertama kita diperkenalkan pada beragam tokoh beserta watak dan ceritanya sendiri-sendiri, maka pada bagian kedua ini kita akan dibawa masuk ke latar kisah baru: kerja paksa. Dalam kerja paksa ini cerita bergulir pada persoalan antara para tawanan, babu, dan para jongos dengan komandan pesanggerahan yang disebut dengan si mata kucing. Salah satu cerita yang cukup menjadi fokus di delapan cerita di dalamnya adalah soal babu perempuan yang dijadikan target seks oleh si komandan. 

Komandan pesanggerahan ini dikenal kejam oleh para tawanan. Ia senang menggunakan cawat hitam ke mana-mana. Tak ada yang berani membantah perintahnya. Membantah berarti bertaruh nyawa. Komandan ini diam-diam memanfatkan beberapa babu yang ia hasrati untuk memuaskan birahinya. Salah satunya bernama Mami.

Selalu ada kopi hitam pekat setiap kali (karya-karya) Pram. Srruppp...


Read more »

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 1 Comment
Powered by Blogger.