Percakapan Tentang Mimpi-Mimpi Kecil

Jumat, 06 Maret 2009
Aku begadang lagi. Jam empat subuh baru bisa tertidur. Sementara saya mesti cepat bangun untuk ke kampus menjadi pembicara dalam acara diskusi: Budaya Mahasiswa”. Sebetulnya acaranya siang, seusai jumatan. Namun, berhubung saya harus membaca beberapa referensi dan berniat diskusi dengan teman-teman mahasiswa (ceilee…), saya niatkan untuk bangun pagi.
Malamnya saat aku telat tidur, kejadian yang sedikit mendebarkan saya alami. Itu bermula dari SMS yang dikirimkan Reza—saya memanggilnya Eca—lewat HP-nya ke nomornya Ana, junior saya di UKPM. Saya memang meminta dia men-SMS Ana memakai nama saya. Saya minta Ana membawa jurnal Pendidikan Popular yang ia pinjam untuk saya baca sehari saja, untuk referensi dalam rangka menjadi pembicara diskusi di Fakultas Ilmu Budaya. Ana mejawab, “iya, saya akan membawanya besok jam delapan.” Dan tanpa sepengetahuan saya, Eca me-replay jawaban SMS itu dengan kalimat kurang lebih seperti ini: iya, kalau masih tidurko, nanti biar Fahri yang jemput itu buku. Terima kasih de’na.” Muhamma’, kontan saja saya marah pada dia. Kamu jangan bikin konflik antara saya dengan Ana. Saya tak mau terlibat seperti yang lainnya dalam mencandai Ana dengan Fahri. Saya tak mau terlibat.

Rasa khawatir Ana akan berubah sikap kepada saya semakin bertambah ketika Ia tidak lagi membalas SMS terakhir itu. Eca, Eca. Kau betul-betul…
Dan akhirnya saya bangun pukul delapan pas. Turun ke lantai dasar, menuju PKM 2. Di sana saya menyetel beberapa lagu—tentu saja masih Efek Rumah Kaca sebagai andalan—dan mendengar sesaat. Lalu mandi.
Seusai mandi, saya ke kampus. Saya menenteng jurnal wacana insist yang dibawa Ana dan saya temukan tergeletak sendiri di atas meja dengan judul: pendidikan popular. Ada beberapa penjelasan tentang paradigma pendidikan serta pengaruhnya terhadap konsep/kurikulum dan pelaksanaan pendidikan. Dan saya anggap hal itu penting untuk dijelaskan dan didiskusikan bersama-sama terkait dengan budaya mahasiswa. Agar teman-teman mahasiswa—ceilee…sekali lagi—tahu dan terus ingat tentang watak pendidikan yang mereka hadapi. Ini penting, agar corak segala macam usaha dan pergerakan yang akan dibawa—dan dibudayakan—memiliki target yang jelas dan terarah. Yah, semacam mengingat adagium lawas: kenali musuhmu dengan sungguh-sungguh.
Orang pertama yang saya temani berdiskusi adalah Yusuf, kami di Himpunan Ilmu Sejarah memanggilnya Ucu. Ia junior saya di Jurusan Ilmu Sejarah angkatan 2003. Awalnya ia membaca judul jurnal yang saya bawa. Lalu berkomentar dengan bertanya:
“Menurut ta’, apa yang bermasalah di pendidikan sekarang.”
“Mahal. Ongkosnya mahal.”
“Selain itu?”
“ada banyak. Tapi, itu yang paling bermasalah.”
Lalu ia memberi pendapat. Menurutnya, pendidikan sekarang membuat kita (mahasiswa) lupa dengan asal-usul kita. Ia memberi perumpamaan dari pengalamannya sendiri. Katanya, di daerah tempat ia tinggal, Belopa, Palopo, banyak tanah-tanah terbengkalai. Itu disebabkan tak ada lagi orang-orang tua yang mampu menggarap tanah mereka. Sementara anak-anak mereka ada yang kuliah, dan yang telah lulus justru lebih tertarik menjadi pegawai negeri.
“Dalam buku ini ada menjelaskan sedikit tentang hal itu,” kataku, mengangkat buku itu dengan sebelah tangan. “Dikatakan bahwa, salah satu paradigma pendidikan yaitu paradigma liberal, menginginkan kurikulum pendidikan disesuaikan dengan keinginan dunia industri.”
“Benar. Sarjana pertanian tidak lagi tertarik untuk kembali ke desa dan membangun dunia pertanian yang berguna bagi petani.”
Pembicaraan kami menjadi panjang, berkelok-kelok, bersahut-sahutan, tapi menarik. Kami saling berbagi pengalaman tentang daerah kami terkait dengan pendidikan. Sampai pembicaraan pamungkas pada keinginan-keinginan dan mimpi kecil yang baik untuk dicoba.
“Menurutmu, hal apa saja yang mesti dilakukan dan terus dibudayakan oleh seorang mahasiswa?” tanya saya.
“Kalau saya pribadi, hal terkecil yang akan saya lakukan adalah berbagi pengetahuan baik lewat bacaan atau yang lain kepada orang yang membutuhkan.”
Lalu ia bercerita tentang masa KKN-nya. Katanya, program yang ia jalankan waktu KKN adalah membangun perpustakaan rakyat. Ia membangun perpustakaan rakyat itu di Musholla, dengan pertimbangan kalau ia dan teman-teman KKN-nya ditarik oleh Universitas untuk kembali ke kampus, akan ada orang yang menjaganya.
Seusai pembicaraan saya dengan Ucu, tema beralih ke masalah sekolah menulis yang diadakan oleh teman-teman Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Makassar. Tema itu saya bicarakan dengan Irfan. Kebetulan Irfan, seorang dedengkot PMII, datang. Saya segera menyampaikan ide yang saya dapatkan selepas materi minggu terakhir lalu.
“Irfan,” sapa saya sambil merapikan duduk saya di sofa merah yang kusam,”saya punya ide terkait sekolah menulis teman-teman.”
“Hmm…,”gumamnya sembari meletakkan tas kecil hitam bertuliskan BIKES NOT BOMBS,”apa itu?
“Begini. Sebetulnya beberapa pertemuan yang telah dijalani, saya masih gamang tentang mau dibawa ke mana kita punya sekolah menulis. Awalnya saya hendak membawa sekolah menulis ini ke penulisan fiksi, tapi saya pikir belum saatnya. Tapi, di beberapa pertemuan, teman-teman sering menyentil satu aktifitas di TPA (Tempat Pembuangan Air: daerah tempat banyak pemulung mencari nafkah di Antang) itu yang dilakukan beberapa teman-teman. Nah, saya jadi berfikir bagaimana kalau daerah itu kita jadikan proyek penulisan saja, dan sekolah menulis teman-teman diarahkan ke pelatihan etnografi.”
“Wah, bagus itu,” ia lebih mencondongkan wajahnya ke arahku, antusias,”saya sangat sepakat.”
“Bung Irfan hari Minggu lusa tidak punya kesibukan, kan?”
“Hmmm, tanggal berapa itu hari Minggu?”
“Tanggal Sembilan.”
“Oo, bisa, bisa.”
“Supaya kita bicarakan sama-sama kurikulumnya. Juga agar ada orang yang bisa memandu dan punya proximitas lebih kepada teman-teman nanti.”
“Wah, Ded. Kalau betul begitu konsepnya, saya harus ikut.”
Lalu ia bercerita bahwa ia sangat ingin menuliskan hal-hal yang bergaya etnografi. Meskipun latar pendidikan tingginya adalah Antropologi, ia masih awam dengan dunia etnografi. Ia bertanya banyak hal tentang etnografi, dan aku menjawab alakadarnya, yang mampu kujawab dengan menarik kembali ingatan ketika mengikuti kelas etnografi bersama teman-teman di Ininnawa, dipandu Nurhady Sirimorok, penulis dan penerjemah yang pada saat itu baru pulang dari liburan semester kuliah S2-nya di Belanda.
Pembicaraan itu harus berjeda sebab Irfan yang berniat shalat jumat.
Bersama segelintir orang di kantin sederhana samping himpunan Ilmu Sejarah, aku tak sholat, dan harus rela menerima cercaan nyinyir dari mace’ yang dengan wajah cemberut menyuruh kami untuk sholat. Aku tak menggubrisnya. Bahkan beberapa kalimat aku jawab dengan hal-hal yang konyol. Dari alasan aku adalah muhammadiyah—selalu sholat jumat sehari sebelum jumat dalam kalender pemerintah—sampai dengan alasan aku hendak pindah agama.
Untuk alasan terakhir, aku jadi berfikir,”jangan-jangan, secara tidak disadari, aku memang telah pindah agama. Atau malah tak lagi percaya pada agama.”
Wah, ini kacau. Sangat kacau. Cukup aku saja yang tahu. Tapi, bisa jadi benar…

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.