Pak Desa
“Sudah mi ki ta’ baca Jalan Tiada Ujung Mochtar Lubis?”
Aku arahkan pandangan ke samping kanan beranda. Pak Desa, laki-laki yang kutanyakan, berada di sana bertelanjang dada, hanya mengenakan sarung yang dililit tak rapi.
“Saya belumbaca. SayahanyamembacaHarimau-harimau!”
Ia menjawab dengan nada khas logat Konjo Sinjai: satu kata berburu dengan kata sesudahnya. Cepat, nyaris tanpa koma. Pagi itu, sesaat sebelum berangkat ke kantor, laki-laki rambut pendek dengan kumis pendek, itu berleha-leha sejenak di atas motor Honda Supra miliknya.
“Saya justru belum baca yang Harimau-harimau!”
Saya menanggapi. Lalu perbincangan pun mengalir tentang pengarang dan judul buku. Khususnya sastra. Pak Desa menyenarai daftar pengarang dan judul buku yang ia kenal dan pernah ia baca. Mochtar Lubis, NH Dini, Marah Rusli, Hamka, Ave Maria, dan lain-lain. Ia juga menjelaskan dengan pandangannya sendiri soal kualitas pengarang beserta buku yang mereka hasilkan.
Percakapan tentang pengarang dan buku tidak sekali itu saya lakukan bersama Pak Desa. Dimulai tahun 2008 silam, kedatangan pertama kali saya ke Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah, ini saya sering kali terlibat perbincangan menyangkut karya-karya sastra bersama Pak Desa. Di saat-saat istirahat menyusun rencana aktifitas bersama teman-teman, perbincangan tentang sastra selalu tersaji di kursi sofa hitam yang sudah agak ringsek. Pak Desa, menurut pengakuannya, yang ia ulangi lagi pagi itu, senang memang dengan karya sastra milik pengarang masa-masa jelang revolusi merebut kemerdekaan Indonesia.
“Bahasanya lembut. Isinya tentang manusia dan masalahnya. Penuh hikmah!”
Begitu kesannya terhadap karya-karya sastra itu.
“Karya sastra zaman ini saya kurang bisa nikmati. Bahasanya tak nyaman. Saya juga tak terlalu mendapat pelajaran penting di dalamnya!”
Begitu perbandingan kualitas sastra masa revolusi dengan masa reformasi yang ia tuturkan. Dengan fasih juga Pak Desa menjelaskan tentang fenomena kondisi politik masing-masing zaman yang turut mempengaruhi isi dan distribusi karya. Masa dulu, karya-karya itu sulit didapatkan. Pada zaman Soeharto, karya yang dinilai tak sejalan dengan ideology rezim dilarang dan dibakar. Masa sekarang, karya-karya sastra berseliweran mengepung pasar. Ia setuju saat saya mengatakan, membanjirnya karya sastra tidak sebanding dengan kualitas yang dikandung.
Menurut saya pribadi, jawaban dan tanggapan Pak Desa sudah galib saya dapatkan dari percakapan bersama teman-teman di kampus. Namun, yang menarik di balik jawaban-jawaban itu, adalah latar belakang si penutur yang unik.
***
Pak Anshar, begitu ia dipanggil penduduk desa. Saat ini (masih) menjabat posisi Kepala Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai. Saya bersama teman-teman yang beraktifitas di desa ini akrab memanggilnya ‘Pak Desa’ saja. Ia memiliki seorang anak perempuan usia kurang lebih tiga belas tahun. Nurul, begitu ia dipanggil. Saat ini duduk di kelas dua SMP.
Pendidikan terakhir pak Desa adalah SMP. Ia masuk ujung tahun 1983 dan menamatinya tahun 1987. Masa itu, ia harus menempuh jarak total pulang-pergi dari desa ke sekolah 14 kilometer. Ia menempuhnya dengan jalan kaki. Untungnya, masa itu jalan raya sudah mulai pengerasan dan akan diaspal. Sebab itulah, segelintir temannya ada yang mengayuh sepeda ke sekolah.
Dari masa menjalani pendidikan inilah Pak Desa bersentuhan dengan banyak karya sastra. Jika ada waktu luang, ia selalu memilih menghabiskannya dengan membaca. Bacaan itu ia dapatkan dari perpustakaan sekolah. Pak Desa beruntung, sebab, menurut penuturannya, SMP tempat ia sekolah adalah SMP ‘modern’ di masa itu, meski baru beberapa tahun didirikan.
Buku sastra yang benar-benar membuat Pak Desa terkesan di masa awal sekolah adalah Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, karangan Hamka. Harus diakui kebenaran perkataan Pak Desa. Pada satu malam di minggu akhir Februari 2011 ini, di tengah-tengah kesibukan istri dan anaknya membungkus kripik pisang dan kemiri untuk dijual di pameran Perayaan Hari Jadi Sinjai ke-447, ia merisalahkan lagi kisah dalam buku itu. Meski agak tertatih, tapi detail cerita tetap utuh dalam ingatannya. Ia sungguh menceritakannya sebagaimana halnya roman: kisah dari lahirnya si tokoh sampai mangkat dari dunia. Bahkan pula, meski tidak benar-benar persis, ia masih bisa mengingat kalimat akhir buku. Selama kurang lebih satu jam saya terhanyut oleh kisah cinta tragis si Zainuddin dengan Hayati, dua tokoh yang ada dalam buku itu.
Pak Desa juga mengisahkan perihal ‘kehausannya’ akan ‘mineral’ bacaan sastra. Pada saat masih duduk di bangku kelas 5 SD—Pak Desa mengenang, ruang kelasnya masih di bawah kolong rumah penduduk di kampungnya—ia pernah diberi tugas menyelesaikan satu bacaan sastra berjudul ‘Alibaba dan Empat Puluh Pencuri’. Pak Desa begitu menyenangi karya itu. Tak sampai seminggu, buku, yang katanya cukup tebal itu, tuntas dibaca. Ia mengisahkan kembali cerita dalam buku itu dengan sangat baik. Tentu saja sang guru terkagum-kagum dengan kemampuan Pak Desa.
Setamat SMP, ia merantau ke Kalimantan kurang lebih dua tahun. Sekembali dari merantau, ia mengabdikan diri di pemerintahan desa. Ia dikenal cakap dan ulet dalam bekerja. Sebelum terangkat menjadi kepala desa tahun 2007, ia menjabat Kasi Pemerintahan.
Ia sendiri berpendapat, kepercayaan dari masyarakat tidak terlepas dari pengetahuannya yang cukup luwes dan terbuka. Dan pengetahuan itu tentu saja ia dapatkan dari kegandrungannya pada bacaan.
“Dengan membaca karya sastra, kita sebetulnya belajar juga soal kehalusan berbahasa dalam komunikasi, serta menyelami sesuatu dengan lebih peka.”
Begitu kira-kira yang ia pernah ungkapkan 2008 silam. Ia belajar memahami persoalan kompleksitas manusia dari karya sastra. Ia belajar menyelami bagaimana konflik dihadapi dan diselesaikan oleh manusia, melalui karya sastra. Ia belajar banyak hal dari karya sastra…
Saya sendiri kadang mendapatkan pernyataan-pernyataan dan jawaban-jawaban yang ‘sastrawi’ jika berbincang-bincang dengan Pak Desa. Tak jarang pernyataan dan jawaban itu terekam lama di bilik kepala, hanya sedikit di antaranya yang hancur oleh ingatan-ingatan baru yang datang.
Satu peristiwa yang sampai hari ini betul-betul mendekam di ingatan adalah saat pagi hari saya memandangi pohon pepaya samping kiri rumah, hanya beberapa meter dari jejak longsor yang melanda desa tahun 2006 silam. Saya menyaksikan burung-burung pipit asyik berebutan mematuk satu buah pepaya masak yang menggantung.
“Sayang sekali pepaya masak itu dipatuk dan hancur begitu saja oleh burung. Kalau dipetik kan bisa dimakan!”
Rupanya, kalimat yang saya lontarkan senada gumam itu, terdengar di telinga Pak desa, yang kehadirannya di belakang saya tak saya sadari.
“Kita membutuhkan kicau burung-burung itu. Maka kita harus memberi mereka makan. Jika sebuah desa tak terdengar lagi kicauan burung, artinya desa itu kering dan tandus. Tak ada pohon, tak ada tumbuhan, tak ada ‘kehidupan’!”
Pagi itu benar-benar memberi saya ‘kehidupan’. Tiba-tiba segalanya menjadi begitu bermakna. Saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Bukan karena lontaran pernyataan saya. Tapi kesadaran yang tinggal di batok kepala-lah yang membuat saya malu. Secara tidak sadar, saya sudah menjadi konvoi manusia modern, yang memusatkan segala hal pada kepuasan diri, tanpa memandang dan peduli kepada kehidupan yang menunjang kepuasan saya.
Mulai saat itu, saya semakin sering berdiskusi tentang hal yang ‘sastrawi’ bersama Pak Desa. Untuk memperlancar serta memperkaya tema perbincangan, saya selalu membawa beberapa buku sastra dari Makassar. Tapi ia tidak terlihat puas dengan buku yang saya bawa. Mungkin karena buku-buku yang saya bawa adalah karya penulis muda dalam ranah sastra Indonesia. Meski begitu, buku-buku itu selalu habis ia baca dalam waktu singkat. Pak Desa memang haus bacaan…
Lalu saya dan teman-teman mulai membawa beberapa buku sastra karya penulis tua untuk Pak Desa. Di saat yang sama, dua teman saya berinisiatif mendorong beberapa anak SMP di desa Kompang memiliki dan mengelola perpustakaan sendiri. Kami pun menyumbang beberapa buku sebagai ‘rangsangan’ awal. Usaha itu cukup berhasil. Setidaknya, beberapa anak sekolah mulai ada yang datang membaca juga meminjam buku.
Karya sastra yang cukup ‘lahap’ di-‘santap’ Pak Desa adalah Tetralogi Pulau Buru, karangan Pramoedya Ananta Toer. Awalnya saya tak terpikir untuk mengenalkan Tetralogi kepada Pak Desa, mengingat citra sang pengarang yang buruk berkat propaganda rezim orde baru. Saya khawatir Pak Desa termasuk orang yang termakan usaha propaganda itu. Namun di luar dugaan saya, justru Pak Desa pernah membaca beberapa karya Pram. Dan menyukainya. Terlepas dari beberapa kritiknya terhadap isi buku si pengarang, Pak Desa adalah orang yang mampu memahami serta kritis terhadap kebijakan-kebijakan rezim menyangkut karya sastra dan pengarangnya. Teman saya pun membawa Pramoedya hasil pinjaman perpustakaan Biblioholic di Makassar ke Desa Kompang. Pak Desa sungguh menikmatinya.
Saat saya aktif lagi di Desa Kompang mengampu sebuah program bersama teman-teman tahun 2011 ini, saya semakin sering diskusi soal karya sastra bersama Pak Desa. Minggu pertama Februari saya membawa ‘oleh-oleh’ sebuah buku sastra berjudul ‘Robohnya Surau Kami’, karangan AA Navis. Buku itu adalah terbitan ulang Kompas Gramedia. Saat menyerahkan buku itu ke tangannya, Pak Desa ragu-ragu membuka segel plastic pembungkus.
“Itu untuk Pak Desa!”
Kalimat saya itu segera menuntun jari-jarinya membuka segel dan membolak-balik halamannya. Tak lama kemudian, buku itu sudah bertengger di atas sebuah buku pemberianku juga: Ronggeng Dukuh Paruk, karangan Ahmad Tohari. Saya menghadiahi Ahmad Tohari kepada Pak Desa atas alasan, saya merasa prihatin melihatnya berjibaku dengan buku versi e-book di laptop hitamnya.
Dan saya merasa senang melihat Pak Desa membaca AA Navis di tengah malam yang tenang…
Pernah satu kali Pak Desa mengungkapkan impiannya kepada saya untuk memiliki perpustakaan mini sendiri di rumahnya. Ia ingin ada satu ruangan di rumahnya di mana buku menjadi hiasannya. Mungkin impian ini lahir seiring dengan aktifitas perkuliahan jarak jauh yang tengah ia tempuh. Jurusan yang ia ambil adalah soal perpustakaan. Saya takjub dengan impian Pak Desa.
Saya terkadang bertanya-tanya, bagaimana usaha Pak Desa mewujudkan impiannya yang sederhana itu? Tak ada toko buku di kota Sinjai. Di Makassar jarak terlalu jauh. Lagi pula waktunya tersita oleh kerja di kantor dan di sawah. Satu-satunya perpustakaan super mini yang selalu ia kunjungi adalah kamar kami samping ruang tamu yang sebagiannya berisi buku-buku yang kami bawa dari Makassar.
Pernah iseng saya dan teman bertanya, apakah Pak Desa, jika nanti masyarakat berharap ia maju lagi, mau menjadi Kepala Desa untuk kedua kali? Ia menjawab:
“Terus terang saya tak punya minat lagi untuk maju. Saya ingin berhenti. Memulai mengurus kebun yang terbengkalai.”
Saya membayangkan, jika memang itulah yang menjadi sikap Pak Desa, bertahun-tahun kemudian saya menyaksikan Pak Desa sibuk mengurus kebun. Di saat-saat santai di malam hari bersama istri dan seorang anak gadisnya, ia akan meraih sebuah buku sastra pada satu rak di salah-satu ruangan dalam rumahnya.
Ia pun memulai membaca di perpustakaan mininya…
(Desa Kompang, Sinjai Tengah, Sulawesi Selatan:Senin, 14 Februari 2011)
Mengenai Saya
- belukarhujan
- Di dunia maya, khususnya di Facebook, saya menamakan diri Dedy Ahmad Hermansyah. Nama asli saya bisa ditebak dengan menghilangkan Ahmad di tengahnya. Ahmad itu sendiri adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati. Saya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tempat kuda dan rusa dan lebah berkeliaran. Selama ini, saya masih menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi. Bisa fiksi, narasi, maupun jurnalistik. Saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih serius, tentang hal-hal serius, khususnya menyangkut satu kondisi social yang memiliki muatan yang penting untuk diadvokasi. Tapi belum bisa. Saya ingin menulis dengan gaya santai, namun dengan substansi permasalahan yang urgen.
Arsip Blog
Populer
-
Perlu untuk memahami karakter suatu pemerintahan, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah gerakan protes atau perlawanan. Pers mahasi...
-
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan peri...
-
Saya punya seorang teman perempuan Tionghoa, namanya Merlin Herlina. Cukup dipanggil Merlin. Kami bertemu pada acara pelatihan penulisan bu...
-
Selasa, 10 Maret 2009 Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. ...
-
Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin Penulis : Aslan Abidin Penerbit : Ininnawa Cetakan : Pertama, Juni 2008 Halaman : 114...
-
Judul : Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia Penulis : Keith Foulcher Penerbit : Komunitas Bambu Cetak...
-
Ini adalah TOR (Term of Reference) yang saya buat untuk acara bedah buku 'Nicotine War: Perang Nikotin dan Pedagang Obat' karya Wanda Hamil...
-
(Hitler Mein Kampf adalah judul buku manga tentang otobiografi Hitler: Mein Kampf. Buku ini diterbitkan PT Elex Media Komputindo, (mungkin)...
-
........ Alam telah menetapkan ruang Aktifitas dimana binatang harus terus bergerak, dan binatang pun terus menjalani hidupnya di dalam rua...
-
Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang menggu...

wah.......salut, pak Desa yg cerdas, salam kenal, mariki'....