Awan-awan Kapuk Beterbangan
Musim kemarau terlambat tiba. Hawa panas juga semakin tak terpahami. Tingkah cuaca seperti ini memang menerbitkan rasa jengkel bagi banyak orang. Rasa serupa kami alami pula, meski bayang-bayang pohon nangka dan jambu batu yang sesekali meranggas menutupi kepala kami dari kepungan cahaya matahari. Dan awan-awan kapuk dari pohon randu alas yang berjejer rapi ke arah timur terus berjatuhan, terperangkap jaring-jaring biru transparan. Hanya beberapa yang luput dan terbaring di tanah, menatap sekelompok lainnya diangkut adikku menuju karung putih di samping salah satu pohon randu alas itu.
Ini adalah salah-satu ritual tahunan keluarga kami jika memasuki musim kemarau. Biasanya, kami membaginya dalam tiga tim kecil: tim satu memegang rentangan jaring untuk kapuk-kapuk yang beterbangan, tim dua mengumpulkan kapuk-kapuk tua yang masih utuh (memiliki kulit kerutan hijau tua), dan tim tiga membawa karung mendekat ke jaring dan pengumpul kapuk yang masih utuh dalam kulitnya, lalu memasukkannya ke dalam karung.
Saya bersama dua saudara muda saya senang sekali berada di tim satu. Ada kepuasan tersendiri ketika kami harus berlari, mengejar-ngejar kapuk-kapuk yang berhamburan ditiup angin timur, lalu berharap ketika telah lelah, kapuk itu akan berhenti terbang jauh, dan tenggelam ke dalam gelombang udara lengkungan jaring kami. Dan ketiga saudara tua saya akan masuk di tim tiga. Mereka hanya akan mendekat ketika isi jaring kami telah penuh dan tumpukan dari buah-buah randu utuh yang dikumpulkan ayah ibuku (mereka adalah tim dua) dalam beberapa tumpukan.
Pohon-pohon randu alas itu ditanam kakek dari pihak ayahku. Kini mereka terus tumbuh mencapai ketinggian lebih dari tiga-puluh meter. Dan sekarang, ketika pertama kali sejak aku menyelesaikan kuliah, randu-randu itu tak mengalami pertumbuhan yang berarti. Hanya beberapa ditebang ayah untuk membuat pagar di sebelah selatan yang sering diterobos babi hutan.
Selain bisa untuk memahami musim, randu ini tiba-tiba membawaku ke setiap tempat dalam sejarah masa kecil dan menjelang dewasaku. Maka pertama kali yang kulakukan ketika mendatangi barisan pohon-pohon randu itu adalah mencari sepasang nama dalam sebuah lingkaran model hati. Saya menemukannya. Ia terpahat di pohon kelima dari sisi timur. Kedua nama itu ditulis seorang teman dekatku. WAFA VS INDAH. Wafa adalah teman sepermainanku. Ia sangat kagum dengan seorang perempuan berambut keriting dari sekolah dasar yang berbeda. Dan informasi yang kudapat, Indah kini telah memiliki satu anak dengan seorang tentara asal Jawa yang datang bertugas ke desa kami. Sementara Wafa kini kerja di Pabrik Tambang di kabupaten. Kabarnya ia gagal menikah tahun lalu dengan perempuan yang baru menyandang profesi pegawai negeri karena uang prasyarat yang tak genap.
Dari Wafa, lamat-lamat ingatan tentang banyak teman masa kecil dan remajaku menyerbu otakku. Teman yang paling dekat biasanya teman yang memiliki wilayah rumah atau sawah dan kebun yang berdekatan. Kebun yang membatasi kebun randu alas milik kami adalah milik ayah Ruslan. Di sebelah barat adalah milik ayah Jawe, teman perempuanku. Di sebelah selatan adalah milik ayah Baya, juga teman perempuan dekatku. Dan di arah utara adalah milik ayah teman laki-lakiku, Refa.
Menjelang tamat sekolah dasar, kami pernah bermain petak umpat di kebun jambu batu milik Ruslan. Saya dengan beberapa teman dilepas orang tua kami yang tengah mengurus peresmian bendungan kecil di salah satu aliran sungai. Saat itu saya yang bergiliran jaga. Angka-angka hitungan mengalir dari mulutku, seolah meneriakkan ke hadapan pohon jambu. Ketika genap di hitungan ke sepuluh, keadaan menjadi senyap. Saya dengan hati-hati memerhatikan setiap gerak tak lazim dari semak-semak dan bayang-bayang di belakang pohon jambu. Saya berhasil mengetahui keberadaan Refa. Ia terlalu gemuk untuk bersembunyi di sebatang pohon jambu yang kurus.
Lalu tibalah giliran Refa untuk menjaga. Ketika hitungan usai dari bibirnya, kami telah aman dibekap tempat persembunyian kami. Lama kami menunggu, tak ada gelagat Refa mencari kami. Saat masing-masing kami menoleh sembunyi-sembunyi ke arah pohon jaga, ia tak ada di sana. Ragu kami beranjak dari persembunyian, lalu mendekat ke arah pohon jaga. Refa tak ada. Kami pun menoleh ke segenap arah. Tak kami temukan. Refa menghilang. Namun, tiba-tiba Jawe terlihat melintas menuju tangga bambu di sebelah barat. Kami melihatnya mengusap-usap matanya dengan lengannya. Ia sepertinya menangis. Kenapa Jawe menangis? Dan kenapa juga Refa menghilang?
Dan inilah rahasia yang hanya aku yang tahu. Ketika aku ke rumah Refa, ia kubujuk untuk bercerita, mengapa ia menghilang waktu ia bermain petak umpat di kebun jambu. Ia pertamanya enggan, namun kuyakinkan ia bahwa aku akan memegang rahasianya. Bukankah teman baik adalah diri kita yang terpisah dari tubuh kita?
Ia pun bercerita: ketika tugasnya menjaga, ia perlahan mencari ke segenap arah. Ia berhenti di sisi pohon asam, dan mendengar suara mendesis, seperti percikan air mancur yang menghantam lembut bebatuan. Ketika dengan perlahan ia menoleh ke arah suara, ia pun dicegat sebuah perasaan yang susah ia bahasakan. Di situ ada Jawe sedang buang air kecil. Jawe tersadar sedang ada orang menatapnya, dan Refa hanya bisa terpaku diam menatap Jawe yang perlahan merapatkan kedua paha dan menangis. Jawe berdiri dan mengeluarkan sejenis ancaman. Katanya kepada Refa, suatu saat nanti, jika telah dewasa, Refa harus menikahi Jawe. Jika tidak, ada semacam kutukan kalau Refa akan susah mendapatkan jodoh, dan jika pun mendapat jodoh, ia tak akan bahagia.
Refa tak berfikir tentang ancaman itu. Ia masih tersihir oleh sesuatu yang ia sendiri tak mengerti. Bertahun-bertahun kemudian, semua itu hilang dari ingatan. Refa perlahan tumbuh menjadi laki-laki tampan dengan rambut lurus belah tengah model mandarin, dan Jawe tumbuh menjadi perempuan pemalu, tak mudah bergaul, dan hanya menjaga surau milik kakeknya, sambil sesekali mengajar anak-anak kecil mengaji. Refa semakin tumbuh menjadi liar, Jawe semakin tenggelam dalam lusuh kertas-kertas kitab suci. Refa kuliah di kota, Jawe setia di surau. Dan tahun lalu, sebuah peristiwa yang semakin menambah kerumitan pemahaman: mereka berdua benar-benar menikah.
Informasi ini kudapatkan dari Ruslan. Ruslan adalah temanku yang sejak sekolah dasar paling dekat dengan perpustakaan, paling cepat dalam menghafal lagu-lagu di acara televisi, dan paling jago membuat puisi. Tak salah ia menjadi tempat konsultasi bagi teman-teman laki-lakiku jika hendak mengungkapkan isi hati kepada lawan jenis yang dikagumi dalam bentuk surat. Biasanya ada tiga orderan dalam satu hari. Setelah mencari tahu hal apa saja yang hendak dikatakan dan diungkapkan kepada si pemilik surat, ia dengan tepat merangkai kata yang sebagian ia curi dari lagu-lagu dan puisi-puisi dari perpustakaan. Ada juga orderan yang menyerahkan sepenuhnya kepadanya apa yang hendak disampaikan kepada yang dikagumi. Dan bahkan orderan seperti ini lebih banyak berhasil dari orderan bentuk lain.
Bakatnya dalam merangkai kata-kata dan menghubungkan ide-ide yang terbelah, membuat ia selalu menjadi tempat berkonsultasi bagi banyak orang tua di kampungku. Ilham, pemilik beberapa dokar di kampungku, meminta nama yang tepat untuk dokar-dokarnya. Ruslan pun mengusulkan nama: TITIAN REJEKI. Tanpa berpikir panjang, nama itu pun dipakai, dan Ruslan memperoleh sejumlah uang dari idenya itu. Pernah juga ia memberikan nama pada perusahaan kecil untuk alat-alat tidur seperti bantal dan kasur: DINGIN-DINGIN EMPUK. Itu nyata-nyata diambil dari sebuah iklan gula-gula di televisi. Tapi, orang-orang tua takjub dengan ide itu, bagaimana mereka tidak terpikirkan bahwa itu justru lebih tepat dipakai dengan alat-ala tidur itu?
Perusahaan pembuatan alat-alat tidur itu kini telah tiada. Dulu DINGIN-DINGIN EMPUK itu selalu laris menjelang musim-musim panen di kampungku. Karena di musim ini banyak pesta pernikahan tergelar. Meski bantal-bantal itu hanya berkulit kain dari karung terigu yang dicuci bersih, namun sarungnya selalu harum dengan warna mencolok dengan gambar jantung di tengah. Dan kami dalam keluargaku juga kerap menjual kapuk-kapuk kami ke tempat itu. Dan sekarang tentu saja kami memanen kapuk-kapuk itu semata untuk bantal-bantal di rumah. Sebagian juga untuk tetangga yang malas membeli kasur busa yang kini pemasarannya gila-gilaan di kampungku. Dan Ruslan, kudengar-dengar telah pindah ke Semarang dan mengepalai sebuah biro jodoh di sana.
Menjelang musim panen, orang-orang di kampungku biasanya berlomba-lomba untuk berkeluarga. Karena menjelang musim panen adalah masa jeda sesaat untuk mengerat batang-batang padi yang bunting besar dan akan segera melahirkan. Musim inilah yang dianggap tepat untuk melamar pasangan yang didamba. Pesta kawin selalu identik dengan musim panen.
Itu dahulu sekali. Dan tentu pemikiran itu baru saya sadari (dan saya yakin teman-teman saya juga) setelah usia dewasa menghampiri. Kami sepertinya tidak diperkenankan mewarisi semua hal itu. Tentu susah bagiku memahami mengapa orang tua di kampungku sebagian besar harus memimpikan kami lebih mulia dari mereka dengan menjauhi harum tanah dan aroma wangi tetumbuhan. Susah kupahami…
Dan sekarang teman-teman sebayaku, segenerasiku, semakin menjauh dari musim panen, semakin menjauh dari musim kawin. Kebun-kebun kami telah pindah ke kantor-kantor pemerintahan, ke tanah-tanah berdebu perkotaan, ke pos-pos jaga sudut pertokoan dan perusahaan, dan masih banyak kebun dengan tanaman yang susah sekali menguning dan matang. Kami berjudi dengan harapan-harapan yang tak lagi nyata.
Kata ayah, pohon randu adalah sarana untuk membaca musim. Namun, kami, orang sebaya di kampungku, tak punya sarana lagi untuk membaca gelagat musim hidup yang menghantam kami sekarang ini.
Ketika siang beranjak menuju barat, bersamaan dengan berkurangnya kapuk di tangkai yang digerak-gerakkan keras oleh pamanku, aku pun terpaku menatap awan-awan kapuk yang dimainkan angin yang tenang, seperti menolak ditangkap jaring, dan belum sedia berbaring di kering rumput di tanah…
Mengenai Saya
- belukarhujan
- Di dunia maya, khususnya di Facebook, saya menamakan diri Dedy Ahmad Hermansyah. Nama asli saya bisa ditebak dengan menghilangkan Ahmad di tengahnya. Ahmad itu sendiri adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati. Saya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tempat kuda dan rusa dan lebah berkeliaran. Selama ini, saya masih menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi. Bisa fiksi, narasi, maupun jurnalistik. Saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih serius, tentang hal-hal serius, khususnya menyangkut satu kondisi social yang memiliki muatan yang penting untuk diadvokasi. Tapi belum bisa. Saya ingin menulis dengan gaya santai, namun dengan substansi permasalahan yang urgen.
Arsip Blog
Populer
-
Perlu untuk memahami karakter suatu pemerintahan, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah gerakan protes atau perlawanan. Pers mahasi...
-
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan peri...
-
Selasa, 10 Maret 2009 Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. ...
-
Saya punya seorang teman perempuan Tionghoa, namanya Merlin Herlina. Cukup dipanggil Merlin. Kami bertemu pada acara pelatihan penulisan bu...
-
Judul : Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia Penulis : Keith Foulcher Penerbit : Komunitas Bambu Cetak...
-
Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin Penulis : Aslan Abidin Penerbit : Ininnawa Cetakan : Pertama, Juni 2008 Halaman : 114...
-
Ini adalah TOR (Term of Reference) yang saya buat untuk acara bedah buku 'Nicotine War: Perang Nikotin dan Pedagang Obat' karya Wanda Hamil...
-
(Hitler Mein Kampf adalah judul buku manga tentang otobiografi Hitler: Mein Kampf. Buku ini diterbitkan PT Elex Media Komputindo, (mungkin)...
-
........ Alam telah menetapkan ruang Aktifitas dimana binatang harus terus bergerak, dan binatang pun terus menjalani hidupnya di dalam rua...
-
Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang menggu...
