Catatan Kaki: Perjalanan Panjang Menjadikan Media sebagai Alat Advokasi
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan periode pertama 1995-1996. Pada masa itu bertebaran terbitan-terbitan pers mahasiswa di tingkat fakultas di Universitas Hasanuddin. Channel 09 fakultas Teknik, Agrovisi Fakultas Pertanian, Medika Fakultas Kedokteran, Baruga Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan lain-lain[2].
Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas sendiri adalah wadah pers mahasiswa dalam lingkup Universitas, dibentuk oleh keinginan beberapa aktifis pers mahasiswa yang ada di tingkat Fakultas[3]. Tahun 1987 keinginan itu mulai dirintis, namun masih terkendala dalam hal perizinan dari pihak rektorat. Tahun 1993, aktifis pers mahasiswa se-Unhas, dalam satu acara Lomba Jurnalistik IPTEKS Rekayasa (LJIR) yang diadakan oleh Channel 9, lembaga pers mahasiswa Fakultas Teknis Unhas, mendessak Rektor Unhas Basri Hasanuddin, untuk mengesahkan secara lisan pembentukan wadah pers mahasiswa tingkat Universitas. Anggotanya diperkirakan 22 orang.[4] Proses pembicaraannya dimulai dengan berkumpulnya beberapa aktifis pers mahasiswa, lalu bersepakat untuk memanggil beberapa aktifis pers mahasiswa senior untuk melobi kepada pihak Universitas guna meloloskan keinginan itu. Lalu dibentuklah satu tim pelobi bernama tim 7, yang bertugas sebagai penyambung lidah aspirasi para aktifis pers mahasiswa di tingkat fakultas. Beberapa nama yang tercatat adalah Muh. Syaiful Bahri, Andi Ilham Paulangi, Sapri Pamulu, Amril Taufik Gobel, Arqam Azikin, Nasrul Tanjung, Herwin, Syamsu Rijal dan Sukirman[5].
Setelah kesepakatan dicapai di antara para aktifis pers mahasiswa, maka diadakan pertemuan segi-tiga (Purek III, Tim 7 dan para senior aktifis pers mahasiswa). Dari pertemuan segi-tiga itulah dilahirkan kesepakatan mendirikan unit kegiatan di tingkat Universitas bernama UKM Pers.
Akan tetapi, nama Pers Mahasiswa yang diajukan aktifis pers mahasiswa tidak disetujui pihak universitas. Pihak rektorat tunduk pada peraturan pemerintah tentang pelarangan menggunakan kata PERS untuk terbitan yang dikelola mahasiswa[6]. Alasan ini disebabkan trauma Orde Baru terhadap aktifitas pers-pers mahasiswa tahun 80-an yang begitu kritis dan keras dalam memberitakan masalah-masalah pemerintah Orde Baru (yang pernah dibredel masa 80-an: Salemba, koran kampus UI, Kampus dan Mahasiswa Indonesia). Trauma itu tidak hanya berdampak pada pers mahasiswa, namun juga pada ranah gerakan secara umum. Dunia kemahasiswaan mulai diatur dengan dikeluarkannya Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Kordinasi Kampus atau lebih populer disebut dengan NKK/BKK oleh pemerintah.
Dalam hal ini, petinggi Universitas diserahkan kewajiban dan tanggung-jawab untuk mengatur segala gerak aktifitas dunia kemahasiswaan melalui Lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 3 Februari 1974[7]. Isi dari lampiran itu adalah mengenai kewajiban-kewajiban pimpinan perguruan tinggi terhadap control kehidupan kemahasiswaan, baik dari aktifitas politis seperti demonstrasi sampai kegiatan diskusi internal kampus.
Penggunaan kata ”pers” oleh Universitas, membuat aktifis pers mahasiswa harus berdiskusi. Beberapa aktifis tetap menginginkan penggunaan kata pers untuk mahasiswa, dengan alasan untuk mempermudah pendengaran kalangan masyarakat. Beberapa aktifitas pers mahasiswa yang lain mengusulkan untuk kompromi dengan alasan-alasan politis. Akhirnya diperoleh kesepakatan untuk kompromi dengan kehendak petinggi universitas. Kompromitas ini diambil dengan pertimbangan bahwa nama tak begitu penting, yang penting isi dari setiap hal yang dilakukan aktifis pers mahasiswa[8].
Maka, pada tanggal 2 Februari 1995, UKM Pers ganti dengan nama UKM Media. Penggantian nama itu sekaligus diiringi dengan pembentukan struktur pengurus baru. kepengurusan UKMM untuk pertama kalinya dipercayakan kepada Nasrul Tanjung sebagai ketua umum, wakil ketua Syaiful Bahri, mahasiswa Kosmik Fisip dan sekretaris umum Marhamah Nadir. Melalui SK Rektor nomor 1065/PT/04.H3/0/1995 dan dilantik pada tanggal 9 Februari. Tanggal 9 februari itulah yang kemudian diperingati sebagai hari ulang tahun Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas setiap tahunnya[9].
Asal Nama Catatan Kaki
Pemberian nama Catatan Kaki untuk terbitan yang dikeluarkan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas dibicarakan pada masa awal kepengurusan tahun 1995. Nama Catatan Kaki diusulkan oleh dua orang yaitu Nasrul Tanjung, Ketua UmumPeriode 1995-1996, dan AgungYusuf, Ketua Umum Periode 1996-1997.
Filosofi Catatan Kaki mengambil pengertian dari sebuah sistematisasi penulisan dalam karya ilmiah. Dalam penulisan karya ilmiah, catatan kaki adalah keterangan yang dicantumkan pada margin bawah pada halaman buku (biasanya dicetak dengan huruf yang lebih kecil daripada huruf di dalam teks guna menambahkan rujukan uraian di dalam naskah pokok)[10].
Pengelola atau kru redaksi Catatan Kaki diharapkan untuk menuliskan isu-isu yang bagi pers umum dianggap tak penting. Yang “tak penting” itulah oleh pengelola Catatan Kaki disamakan dengan “catatan kaki” dalam penulisan karya ilmiah. Aktifis Catatan Kaki menganggap pers umum tidak memberi ruang untuk berita-berita kritis terhadap refresifitas Orde Baru.
Ostaf Al-Mustafa, anggota dan aktifis pers mahasiswa Catatan Kaki, mengatakan pemberian nama Catatan Kaki adalah inspirasi dari tulisan yang pernah dipublikasikan dalam Koran kampus Identitas tahun 1995 “Catatan Kaki Hak-hak Sepatu Mahasiswa”[11].
Melihat kondisi politik yang refresif, dan dengan keinginan turut menuntut penciptaan suasana Negara yang demokratis dan adil, maka dibuatlah semboyan untuk Catatan Kaki: Kaki Tangan Demokrasi dan Keadilan.
Jurnalisme yang Meledak-ledak!
Tak mudah untuk mengkategorikan jenis jurnalisme yang dipraktekkan Catatan Kaki. Selain karena tak ada penjelasan tersurat dalam setiap edisi, juga dari segi penulisan yang nyaris keluar dari pakem penulisan jurnalistik yang dipraktekkan media umum.
Ada penilaian yang menyebutkan bahwa Catatan Kaki mempraktekkan jenis Jurnalisme yang Meledak-ledak. Seperti tertulis dalam Catatan Redaksi Caka Edisi 04/VII/1996:
Sebenarnya kami berpikir keras untuk terbit secara kontinyu dengan model pemberitaan yang begitu alternatif. Bacaan alternatif ini, justru bisa laku keras di pasaran kampus-kampus. Dan, ada yang telah berani mengatakan, bahwa jurnalisme yang kami pakai adalah jurnalisme yang meledak-ledak, seperti yang pernah ditekuni harian Prioritas yang telah lama dibredel. Kami kira itu sangat melebih-lebihkan.
……
Metode penulisan berita Catatan Kaki juga tak bisa murni masuk dalam penulisan jurnalisme professional. Penulisan jurnalisme profesional yang umum dipraktekkan media umum adalah penulisan jurnalisme yang hanya memberitakan dua pendapat yang berbeda, dan membiarkan pembaca menarik kesimpulan dari berita tersebut. Penulisan jurnalisme Catatan Kaki adalah jelas akan dibawa ke mana pembacanya.
Profesionalisme itu adalah menuntut keterampilan berorganisasi, ketekunan, kontinuitas, pembiayaan dan pemasaran. Di samping itu, profesionalisme juga dapat disebut dengan pemain bayaran (kamus umum Bahasa Indonesia). Buat pers mahasiswa, yang tenaga pengelolanya adalah mahasiswa yang masih punya kewajiban utama untuk menyelesaikan studi, dan relatif waktu yang mereka miliki dalam dunia pers mahasiswa berkisar lima sampai tujuh tahun. tidaklah mungkin bagi mereka memberikan perhatian dan waktu penuh untuk penerbitannya. Bagi para pengasuh pers mahasiswa, pers mahasiswa dapat hanya sekedar penyalur bakat dan minat atau pun sebagai alat perjuangan yang sementara sifatnya.[12]
Konsep jurnalisme yang pernah lahir di masa Orde Baru, dan dipraktekkan Balairung, terbitan mahasiswa Universitas Gajah Mada, lahir tahun 1986, adalah jurnalisme struktural. Tak jelas siapa dan kapan jurnalisme jenis ini muncul. Thoriq, pemimpin Balairung, mengatakan, konsep jurnalisme struktural sebenarnya diambil dari konsep bantuan hukum struktural yang dipakai Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Dalam mengemban misi bantuan hukum, sepak terjang LBH tidak terbatas pada bantuan hukum teknis seperti menjadi pembela di pengadilan atau memberikan penyuluhan hukum, tetapi lembaga itu juga menjalankan pembelaan hukum atau advokasi secara langsung di lapangan. Sebab, masalah hukum tidak akan selesai hanya ditangani di meja hijau, karena ketidak-adilan itu mempunyai sifat struktural[13].
Ketidak-profesionalan ini disebabkan oleh pengelola redaksi yang masih dalam kelas mahasiswa. Pengalaman jurnalistik yang masih dalam tahapan pembelajaran. Di samping pula disebabkan minimnya dana sehingga terkadang terbitan harus terabaikan.
Catatan Kaki periode pertama 1995-1996 hanya bisa terbit satu kali di akhir kepengurusan. Ini disebabkan kepengurusan masa itu yang masih baru, perlu dahulu membenahi banyak perangkat dan agenda kepengurusan.
Catatan Kaki memang tidak secara tersurat menyebutkan jenis jurnalisme yang diusung. Akan tetapi, tujuan jurnalismenya telah disepakati oleh para penggiatnya. Jurnalisme Catatan Kaki adalah jurnalisme provokasi, agitasi dan propaganda.[14]
Tulisan-tulisan dalam Catatan Kaki diharapkan bisa memprovokasi pembaca, dan menimbulkan empati untuk ikut bergerak menentang rezim Orde Baru. Tulisan-tulisan dalam Catatan Kaki juga dimaksudkan untuk mengagitasi pembaca dan mengadvokasi kasus-kasus yang dianggap perlu untuk diangkat.[15]Untuk itulah Catatan Kaki selalu mengangkat isu-isu yang dianggap rentan pembreidelan oleh pemerintah seperti kasus-kasus korupsi pejabat Orde Baru dan refresifitas militer.
Karena jurnalisme yang diusung bertujuan provokasi, agitasi dan advokasi, tulisan-tulisan dalam Catatan Kaki sarat dengan kalimat-kalimat serupa orasi dan opini.itu konsekwensi yang harus diambil agar pembaca bisa terlibat emosinya ketika membaca. Selain itu, Catatan Kaki mengambil pola jurnalisme seperti itu, tak lepas dari kondisi pres umum yang semakin susah untuk memberitakan persoalan-persoalan politik Orde Baru, karena terhalang oleh ketatnya sensor pemerintah terhadap pemberitaan pers.
Jurnalisme Catatan Kaki di periode 1999-2000 harus mengalami perubahan konsep. Konsep jurnalisme periode ini adalah jurnalisme investigasi.[16] Jurnalisme investigasi mensyaratkan penulisan analisis serta ulasan mendalam pada pemberitaannya. Konsep ini dibuat karena kondisi politik yang perlahan berubah. Setelah tumbangnya Orde Baru Mei 1998, lembaga pers sudah mulai berani memberitakan hal-hal yang selama ini dianggap berbahaya jika ditulis. Maka, Catatan Kaki mencoba konsep baru dalam jurnalismenya. Akan tetapi, unsur advokasi selalu diikut-sertakan sebagai komitmern redaksi Catatan Kaki terhadap penindasan.[17]
Untuk itulah, cara memperlakukan data dan fakta dalam penulisan jurnalisme pers mahasiswa adalah pilihan ideologis sebagai upaya memberikan informasi yang sering ditutup-tutupi pers umum sebagai konsekwensi ketatnya sensor yang dijalankan pemerintah. Catatan Kaki menuliskan laporan berita dengan memberikan unsur propaganda di dalamnya.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi Catatan Kaki seperti sebagaimana lazimnya struktur organisasi pers mahasiswa lainnya. Pelindung ada di bawah Rektor Universitas Hasanuddin. Tanggung-jawab pusat dari pada Catatan Kaki serta lembaga tempat Catatan Kaki bernaung ada pada Rektor sebagai pemimpin tertinggi dalam Universitas. Dibina oleh Pembantu Rektor III, sebagai penanggung-jawab kemahasiswaan. Pengarah adalah anggota Dewan Pers. Dewan Pers adalah anggota yang dipilih saat Musyawarah Besar (Musyawarah untuk mengganti pengurus), bertugas memantau kinerja keredaksian di samping kinerja organisasi.
Pemimpin Umum atau penanggung-jawab adalah Ketua Umum. Tanggung-jawab keorganisasian dan keredaksian sepenuhnya dipegang oleh Pemimpin Umum. Pemimpin redaksi dipilih secara musyawarah, bertugas memimpin rapat redaksi, dan bertanggung-jawab terhadap penerbitan media. Redaktur Pelaksana adalah orang yang bertanggug-jawab terhadap tersedianya Term Of Reference (TOR) atau tuntunan wawancara dan jenis berita kepada reporter yang akan meliput berita dan membuat berita. Redaktur Pelaksana juga bertanggung-jawab terhadap terkumpulnya berita dari reporter. Dan biasanya ia juga sekaligus yang membuat berita dari hasil wawancara, juga sekaligus mengedit atau memperbaiki tulisan. Dan yang membantu Redaktur Pelaksana dalam membuat TOR adalah Sekretaris Redaksi. Lay-outer atau penanggung-jawab tata letak Catatan Kaki bertugas dalam menyusun dan mengurusi tampilan kolom-kolom atau rubrik dalam setiap terbitan.
Reporter biasanya adalah anggota-anggota yang baru lulus kaderisasi ditambah beberapa anggota lama yang bertugas mencari narasumber dan mencari berita. Reporter ini hanya bertugas mewawancarai narasumber lalu menyerahkan hasil mentah wawancara tersebut untuk kemudian diolah oleh Redaktur Pelaksana. Ada juga Pemimpin Perusahaan yang bersama anggota-anggotanya dalam tim memikirkan dan mencari cara untuk menopang terbitnya Catatan Kaki. Pendanaan Catatan Kaki ada pada Pemimpin Perusahaan. Bagian Sirkulasi adalah orang-orang yang bertanggung-jawab terhadap peredaran media Catatan Kaki.
Struktur ini tidak selalu sama dalam setiap periodenya. Tergantung kebutuhan. Akan tetapi, struktrur ini dianggap ideal oleh redaksi Catatan Kaki. Hanya dalam pelaksanaannya terkadang tidak ideal. Makanya, dalam setiap periode redaksi selalu berusaha untuk semaksimal mungkin mengikuti kinerja struktur yang telah disusun.
Periode 1998-1998, misalnya, ada keinginan untuk memilah antara anggota redaksi yang senang menulis, berbakat dalam manajemen organisasi, dan berdiskusi.[18] Masing-masing anggota dengan bakat masing-masing diberi tugas dengan pengelolaan profesional, yaitu dengan mengerjakan wilayah tugas mereka saja, tanpa disibukkan dengan kerja yang lain.
Hingga di periode 1999-2000, usaha itu mulai bia dilakukan dengan profesional. Terbukti dengan perubahan format Catatan Kaki dari majalah ke format tabloid.[19] Hal ini dilakukan karena di dalam setiap struktur redaksi berjalan dengan cukup profesional. Pendanaan tak lagi mengalami persoalan yang serius, dan Catatan Kaki mampu terbit sesuai tuntutan deadline.
Format dan Rubrikasi
Catatan Kaki kurun waktu 1996-1998 terbit dengan jenis majalah. Memasuki periode 1999 kebijakan organisasi mengubah format terbitan menjadi tabloid.
Rubrik-rubrik yang kerap ada pada tiap terbitan adalah: Catatan Redaksi, Tajuk Ringan, Catatan Utama, Catatan Khusus, Wawancara, Seni dan Kolom (Sastra dan Budaya). Di luar itu, di beberapa edisi, juga memuat rubrik-rubrik momentuman, seperti: Catatan Aksi, Kilasan, dan lain-lain.
* Catatan Redaksi dimaksudkan sebagai pengantar atau perkenalan redaksi terhadap isi terbitan setiap edisi, juga sebagai ruang bagi opini redaksi terhadap suatu permasalahan.
* Tajuk Ringan adalah ruang opini yang bisa ditulis oleh salah satu kru redaksi atau penulis luar redaksi.
* Catatan Utama dimaksudkan sebagai laporan atau isu yang dianggap paling penting untuk disajikan kepada pembaca. Maka dalam Catatan utama, sebuah berita bisa ditulis dengan banyak angle (sudut pandang). Untuk itulah Catatan Utama terkadang membutuhkan banyak halaman.
* Catatan Khusus adalah peliputan yang dianggap khusus oleh redaksi, atau berita aktual yang patut diketahui segera oleh pembaca.
* Wawancara adalah rubrik yang memuat hasil wawancara dengan seorang tokoh, biasanya tentang wacana yang tak jauh-jauh dengan yang ada dalam Catatan Utama atau Catatan Khusus.
* Seni adalah kolom untuk tulisan berjenis sastra (cerpen dan puisi).
* Kolom adalah tulisan lepas semisal esai ringan dan sejenisnya.
Di luar terbitan Catatan Kaki, atas kebutuhan memberitakan aksi-aksi yang marak periode 1998, menjelang jatuhnya Soeharto, presiden RI ke 2, UKPM menerbitkan bulletin WANTED, yang terbit dua kali sepekan dengan format 4 halaman. WANTED diterbitkan sebagai usaha untuk membantu para aktifis untuk mendapatkan berita-berita aksi aktual yang jarang diberitakan oleh media umum[20].
WANTED awalnya dari keinginan aktifis pers mahasiswa untuk memberitakan aksi mahasiswa di Makassar yang sedang gencar-gencarnya pada bulan Mei 1998. Sebelum WANTED, nama yang diberikan adalah TED, akronim dari Tempo, Editor dan Detik. Tempo, Editor dan Detik adalah tiga nama surat kabar yang dibredel Orde Baru tahun 1994. Kemudian nama itu dirubah dengan usulan Suparno, Ketua Umum Periode 1997-1998. WANTED sendiri akronim dari Warisan Tempo Editor dan Detik. Dengan berkeinginan untuk mewarisi semangat ketiga surat kabar itu dalam menuliskan berita kritis, aktifis pers mahasiswa Catatan Kaki pun menerbitkan WANTED[21].
Edisi perdana WANTED terbit pada 02 Mei 1998, dan terbit setiap hari selama satu minggu. Distribusi WANTED ditujukan kepada para aktifis gerakan dan pers mahasiswa, masyarakat umum dan juga kepada lembaga-lembaga pers mahasiswa di Jawa, untuk memberikan kabar tentang kondisi aksi-aksi jalanan di Makassar. Semboyan yang selalu ada di atas tulisan WANTED terbitan adalah “Kabar dari Makasssar untuk Reformasi”[22].
Selain itu, ada juga media dalam bentuk majalah dinding yang dinamakan Baca Baca Berdiri (BBB). Berbeda dengan WANTED, BBB ini telah dioperasikan sejak periode kedua 1996-1997 . BBB ini dimaksudkan untuk salah-satu media perjuangan dan propaganda di samping Catatan Kaki.[23] Pemuatan BBB ini tak punya jadwal pasti, terkadang dua kali sebulan, terkadang satu kali sebulan.[24] Target pembaca BBB adalah kalangan mahasiswa, maka isi BBB adalah seruan-seruan atau propaganda untuk mahasiswa Unhas.
Hubungan dengan Aktifis Gerakan
Pola dan isi pemberitaan Catatan Kaki banyak dipengaruhi dari hubungan erat aktifisnya dengan aktifis-aktifis gerakan mahasiswa dan aktifis diskusi. Bahkan propaganda-propaganda yang ditulis dalam Catatan Kaki sama dengan propaganda yang kerap diucapkan aktifis gerakan mahasiswa.
Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas, lembaga yang menerbitkan Catatan Kaki, adalah tempat banyak aktifis gerakan dan aktifis pers mahasiswa berdiskusi dan kadang-kadang sama-sama menyusun rencana kegiatan. Sehingga dari hubungan itu, antara aktifis pers mahasiswa dengan aktifis gerakan mahasiswa terjalin satu komitmen untuk saling mendukung dalam melawan satu musuh: Orde Baru.[25]
Aktifis gerakan mahasiswa yang banyak mempengaruhi pola pemberitaan Catatan Kaki adalah aktifis dari Aliansi Mahasiswa Pro-Demokrasi (AMPD). Awal persentuhan dengan UKPM adalah sekitar tahun 1996. pembahasan masalah politik dan isu-isu lain oleh anggota AMPD di sekretariat Catatan Kaki, turut berpengaruh terhadap pola kerja jurnalistik redaksi. Tak jarang banyak redaksi Catatan Kaki yang sekaligus anggota AMPD. Meski tidak semua anggota AMPD itu anggota redaksi Catatan Kaki, tapi sebagian besar anggota redaksi Catatan Kaki adalah anggota AMPD. Minus Pemimpin Umum periode 1995-1996, Nasrul Tanjung, semua Pemimpin Umum hingga periode 1999-2000 adalah anggota aktif AMPD. Dari sejak persentuhan itu, banyak pola pemikiran anggota AMPD masuk ke dalam pemberitaan Catatan Kaki. Pemberitaan lebih didominasi oleh hasil diskusi anggota AMPD.[26]
Ada dua faktor yang memungkin hal tersebut terjadi: pertama, karena hampir semua anggota redaksi Catatan Kaki adalah anggota AMPD. Kedua, orang-orang yang bisa mengambil kebijakan di Catatan Kaki juga adalah orang-orang yang bisa mengambil kebijakan di AMPD. Jadi sangat gampang untuk menyuarakan ide-ide atau pemikiran anggota AMPD.
Hubungan antara aktifis pers mahasiswa Catatan Kaki dengan aktifis gerakan bukannya tak menimbulkan konflik. Tahun 1997 mulai muncul gugatan dari kelompok lain dan menuntut untuk memisahkan antara kepentingan Catatan Kaki dengan AMPD. Di awal kepengurusan Suparno Anggoro itu, kelompok yang menginginkan agar kepentingan AMPD tak mempengaruhi keredaksian Catatan Kaki mencuat di acara Rapat Kerja di Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan, tahun 1997. kelompok tersebut juga ingin agar ada pemisahan jelas antara mana kepentingan Catatan Kaki dan mana kepentingan AMPD. Suparno Anggoro mengambil kebijakan dengan menampung semua kepentingan, dengan memberi masing-masing kerja yang saling menopang. Kebijakan ini diambil karena Suparno Anggor sendiri adalah Ketua Umum organisasi sekaligus juga anggota AMPD. Untuk memperjelas keanggotaan, diberikan persyaratan bagi anggota AMPD yang ingin masuk ke dalam redaksi Catatan Kaki harus terlebih dahulu mengisi kaderisasi organisasi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan jurnalistik.[27]
AMPD sendiri didirikan pada tanggal 27 Desember 1994 oleh sejumlah aktifis se-Makassar.[28] Di antaranya para ketua lembaga kemahasiswaan: Ketua Maperwa Unhas, Ketua Senat Universitas 45, Ketua Senat YPUP, Ketua Senat Muhammadiyah, Ketua Umum dan Sekretaris HMI, dan aktifis pers mahasiswa dari Unhas dan UMI. Didirikannya AMPD segera setelah pertemuan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) se-Indonesia di Ujung Pandang yang menghasilkan kesepakatan untuk menolak SK Mendikbud no 0457/U/1990 tentang organisasi kemahasiswaan.[29]
AMPD didirikan salah satunya untuk menahan masuknya pengarus SMID, salah satu organ sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD), di Makassar. Aktifis AMPD tidak menginginkan adanya cabang organ gerakan dari pulau Jawa masuk ke Makassar, meski isu dan tujuan gerakan sama yaitu menumbangkan rezim Orde Baru.[30]
Aksi-aksi awal AMPD mengangkat isu-isu nasional dengan mengusung tuntutan-tuntutan yang juga banyak diangkat aktifis-aktifis lain di Jawa. Seperti Aksi Sepultura (Sepuluh Tuntutan Rakyat) 10 Januari 1995 yang mengangkat isu: Suksesi Nasional, pemberantasan KKN, turunkan harga, pembersihan GOLKAR dari unsur PKI dan lain-lain.[31]
AMPD juga membuat komite-komite yang bertujuan untuk melebarkan jaringan dan memperluas isu. Komite itu antara lain adalah FM ANAK (Forum Mahasiswa Anti Nepotisme dan Anti Kekerasan) dan FMIT (Forum Mahasiswa Indonesia Timur). Masa itu, di Unhas ada Solid, organisasi kemahasiswa yang beranggotakan senat se-Universitas.. Solid Unhas menolak untuk memperlebar aksi ke luar kampus, dan tetap bertahan untuk bergerak di dalam kampus.[32]
Dalam setiap aksinya AMPD juga didukung oleh aktifis pers mahasiswa, termasuk aktifis pers mahasiswa Catatan Kaki. Tak jarang dalam setiap aksi dimulai dari sekretariat Catatan Kaki, UPPM (Unit Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa) UMI, dari ruang Maperwa Unhas, dan lain-lain.[33]
Sementara isu-isu yang diangkat AMPD mendapat porsi ulasan dalam rubrik Catatan Kaki. Hal ini disebabkan karena antara aktifis pers mahasiswa dengan aktifis gerakan mahasiswa mempunyai isu dan tujuan yang sama dalam aktifitas masing-masing yaitu menyebarkan propaganda untuk menumbangkan Orde Baru. Bahkan, Catatan Kaki menjadi corong bagi aktifis gerakan mahasiswa untuk menyuarakan tuntutan mereka. Faktor lainnya adalah ruang diskusi serta menyusun agenda aksi amggota AMPD sering dibicarakan di sekretariat Catatan Kaki. Dan seperti telah dikatakan sebelumnya, karena sebagian besar anggota Catatan Kaki adalah anggota AMPD.[34]
Periode 1999-2000, di bawah pimpinan Idris Muhammad, konsep gerakan jurnalistik Catatan Kaki diubah. Jika sebelumnya Catatan Kaki dalam menyebarkan isu-isu dan propaganda anti Orde Baru bekerja sama dalam bentuk ikut terlibat dalam setiap aksi AMPD dan organ gerakan lainnya, periode ini Catatan Kaki memfokuskan diri pada advokasi dan menulis. Jarak mulai dibangun dengan aktifis gerakan mahasiswa sebelumnya.[35] Hal ini berdampak pada munculnya kembali perdebatan tentang pemisahan yang jelas antara kepentingan Catatan Kaki dan kepentingan AMPD. Bahkan, Ketua Umum sendiri sebagai anggota aktif AMPD mendapat gugatan dari aktifis AMPD.
Kebijakan konsep ini diambil dengan didasari analisa bahwa kondisi politik yang perlahan berubah. Periode 1999-2000 yang merupakan tahun transisi dari Orde Baru ke reformasi adalah tahun yang membawa perubahan signifikan dalam berbagai lini. Pers umum dan organ-organ gerakan tak lagi merasa terancam untuk menyuarakan aspirasi. Selain itu, aksi jalanan dianggap bukan lagi pilihan gerakan utama dalam bergerak, karena rezim Orde Baru telah tumbang. Untuk itu, format gerakan dan juga konsep jurnalisme harus pula berubah menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Akan tetapi, unsur advokasi, sebagai upaya untuk selalu mendekatkan Catatan Kaki dengan isu-isu kerakyatan harus terus dijaga, tak boleh hilang.[36]
Catatak Kaki:
[1] Penggunaan nama Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM)di sini bersifat umum untuk menyebut UKM tempat bernaungnya terbitan Catatan Kaki. Karena nama UKPM secara formal baru dipakai tahun 1999. Periode pertama 1995-1996 menggunakan nama UKMM (Unit Kegiatan Media Mahasiswa) Unhas. Periode kedua tahun 1996-1997 sempat menggunakan nama UKPM (Unit Kegiatan Pers Mahasiswa), namun hanya bertahan kurang lebih satu bulan, karena tak direstui oleh rektorat, dan berubah nama dengan menggunakan nama UKPPM (Unit Kegiatan Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa).
[2] Dokumen Lembar Pertanggung-Jawaban Pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas Periode 2003-2004. Baca: Lampiran, Profil Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas.
[3] Wawancara dengan Arqam Azikin, salah satu Tim 7 (tim yang bertugas sebagai pelobi dengan pihak birokrat kampus untuk membentuk wadah pers mahasiswa tingkat universitas), di Rally Café, Jl. Urip Sumiharjo, pukul 13.00.
[4] Catatan Kaki, edisi I/tahun I/1996. baca: Perjalanan Setahun UKM Media. Hlm 3
[5] Dokumen LPJ Pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas Periode 2003-2004. ibid
[6] Amir Effendi Siregar. Pers Mahasiswa Indonesia, Patah Tumbuh Hilang Berganti, , PT Karya UNIPRESS, Jakarta 1983. Baca: Lampiran V, PERATURAN MENTERI PENERANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01/PER/MENPEN/1975 tentang KETENTUAN-KETENTUAN MENGENAI PENERBITAN KHUSUS. Dalam pasal 2 ayat b disebutkan: Organisasi, Badan atau Lembaga tersebut dalam ayat (1) (tentang pengertian Penerbitan Khusus, penulis) pasal ini dapat merupakan organisasi, badan atau lembaga:
…..
b. perguruan atau pendidikan baik pemerintah maupun swasta.
……
[7] Pers Mahasiswa, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Amir Effendi Siregar, PT KARYA UNIPRESS, Jakarta 1983. Baca: SALINAN. Lampiran Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 3 Februari 1974 No. 082/U/1974.
[8] Wawancara dengan Arqam Azikin, di Rally Café, Jl. Urip Sumiharjo, pukul 13.00.
[9] Dokumen LPJ Pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas Periode 2003-2004. ibid
[10] Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka
[11] Wawancara via e-mail dengan ostaf Al-Mustafa, tanggal 22 Februari 2008
[12] Amir Effendi Siregar, Pers Mahasiswa, Patah Tumbuh Hilang Berganti, hlm 66
[13] Perlawanan Pers Mahasiswa, Protes Sepanjang NKK/BKK
[14] Wawancara Suparno Anggoro, 05 November 2008
[15] Suparno Anggoro, ibid
[16] Wawancara A.. Kambie via email, Oktober 2008
[17] Wawancara Idris Muhammad, ibid
[18] Wawancara Suparno Anggoro, ibid
[19] Wawancara Idris Muhammad, ibid
[20] Catatan Kaki, edisi 08, 1998. baca: Catatan Redaksi.
[21] Wawancara Suparno Anggoro
[22] Wawancara Suparno Anggoro
[23] Wawancara Suparno Anggoro, ibid
[24] Wawancara Wahyu Junaedi, ibid
[25] Wawancara Suparno Anggoro, ibid
[26] Wawancara Suparno Anggoro, ibid
[27] Wawancara Suparno Anggoro, ibid
[28] Wawancara Israidi Zainal via email, Minggu 3 November 2008
[29] Muridan S. Widjojo S. et al. Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa ’98. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1999. hlm 339
[30] Wawancara Israidi Zainal, ibid
[31] Wawancara Israidi Zainal, ibid
[32] Muridan S Widjojo, ibid
[33] Wawancara Israidi Zainal, ibid
[34] Wahyu Junaedi, ibid
[35] Wawancara Idris Muahammad, ibid
[36] Wawancara Idris Muhammad, ibid
Mengenai Saya
- belukarhujan
- Di dunia maya, khususnya di Facebook, saya menamakan diri Dedy Ahmad Hermansyah. Nama asli saya bisa ditebak dengan menghilangkan Ahmad di tengahnya. Ahmad itu sendiri adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati. Saya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tempat kuda dan rusa dan lebah berkeliaran. Selama ini, saya masih menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi. Bisa fiksi, narasi, maupun jurnalistik. Saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih serius, tentang hal-hal serius, khususnya menyangkut satu kondisi social yang memiliki muatan yang penting untuk diadvokasi. Tapi belum bisa. Saya ingin menulis dengan gaya santai, namun dengan substansi permasalahan yang urgen.
Arsip Blog
Populer
-
Perlu untuk memahami karakter suatu pemerintahan, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah gerakan protes atau perlawanan. Pers mahasi...
-
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan peri...
-
Selasa, 10 Maret 2009 Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. ...
-
Saya punya seorang teman perempuan Tionghoa, namanya Merlin Herlina. Cukup dipanggil Merlin. Kami bertemu pada acara pelatihan penulisan bu...
-
Judul : Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia Penulis : Keith Foulcher Penerbit : Komunitas Bambu Cetak...
-
Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin Penulis : Aslan Abidin Penerbit : Ininnawa Cetakan : Pertama, Juni 2008 Halaman : 114...
-
Ini adalah TOR (Term of Reference) yang saya buat untuk acara bedah buku 'Nicotine War: Perang Nikotin dan Pedagang Obat' karya Wanda Hamil...
-
........ Alam telah menetapkan ruang Aktifitas dimana binatang harus terus bergerak, dan binatang pun terus menjalani hidupnya di dalam rua...
-
(Hitler Mein Kampf adalah judul buku manga tentang otobiografi Hitler: Mein Kampf. Buku ini diterbitkan PT Elex Media Komputindo, (mungkin)...
-
Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang menggu...

saya malah belum sempat menyusun tegalboto versi saya