Hari-hari Bersastra Bersama Seorang Kawan
Seminggu terakhir (atau bisa lebih) saya ke mana-mana, beraktifitas dan melakukan banyak hal bersama seorang kawan. Namanya Adam. Dalam beberapa kesempatan yang lowong, entah saat makan siang, makan malam, berdiskusi di malam hari, satu hal yang selalu menjadi tema pembicaraan kami: SASTRA. Ini disebabkan beberapa hal: saya merencanakan untuk bulan ini hingga akhir tahun akan lebih banyak membaca karya sastra. Untuk itu saya membeli beberapa buku sastra klasik dan kontemporer. Saya jeda dulu membaca buku wacana dan semacamnya. Hal lainnya adalah kawan Adam berencana belajar menulis cerita. Pengakuannya: sejak membaca karya terbaru Dee (nama pena dari Dewi Lestari), Madre, ia tergerak dan terinspirasi untuk menulis cerita. Namun ia buru-buru menegaskan, ia tak terlalu suka dengan konten cerita Dee, melainkan ia kagum dengan gaya bercerita Dee yang khas. Madre sendiri aku beli bulan ini—bersama-sama karya sastra klasik yang saya sebut di atas: Kenangan Cinta (Anton Chekov); Cinta yang Hilang (O Henry); Theresa Raquin (Emile Zola); dan beberapa yang lain.
Ia kemudian mulai membangun ide dan mencoba menuliskannya. Ia mengaku setengah mati membuat satu paragraph pun. Untuk satu paragraph itu, yang tak lebih dari sepuluh baris, ia harus menghabiskan waktu nyaris satu jam.
“Begini, tak perlu dulu memikirkan soal sempurna atau tidak sempurna paragrafmu. Jangan dulu dipikirkan apakah bahasamu sudah rapih atau belum. Tulis saja dulu, sampai kau merasa gagasan ceritamu sudah tuntas diceritakan. Habis itu, baru kita evaluasi bersama-sama,” begitu aku memberinya motivasi.
Pembicaraan kami tentang sastra, sebagai catatan, tidak melulu membahas soal karya dan para penulis, namun pembicaraan itu bergerak lebih jauh: mulai dari bagaimana ia diproduksi dan dikonsumsi, bagaimana kecenderungan isi karya sastra yang beredar belakangan ini, seberapa penting sastra dijadikan alat untuk membahasakan maksud kita sendiri, bagaimana sastra dijadikan sarana untuk mempengaruhi orang-orang, sampai perlukah kita membangun satu komunitas yang anggota-anggotanya adalah teman-teman kita yang bergerak dalam bidang advokasi.
“Kita memiliki banyak kawan yang sebagian besar menggeluti dunia advokasi dan masalah-masalah sosial, yang sedikit-banyak cinta dan punya potensi menulis sastra. Sayang mereka belum menjadikan sastra sebagai salah-satu alat untuk menuangkan gagasan dan apa yang mereka perjuangkan,” paparku.
Ia sepertinya setuju dengan pendapatku. Mungkin itu pula ia tergerak untuk mencoba menulis sastra. Menurutku, ia punya banyak gagasan yang merupakan produk pengalaman-pengalamannya selama ini dalam bidang ‘pemberdayaan’. Ia sudah berusaha menuliskan semua itu dalam bentuk opini atau essai, namun ia merasa hasilnya tak lebih sebagai kumpulan pendapat, jargon, yang dikutip dari berbagai sumber.
“Kawan Dimas pernah bilang, kebanyakan opini yang ditulis oleh teman-teman tidak orisinil. Hanya berupa kumpulan kutipan,”katanya.
Isi pembicaraan kami kadang terulang hingga ke ruang-ruang formal, seperti saat kami diminta untuk memfasilitasi diskusi dengan beragam tema. Kebetulan, sebulan terakhir, kami cukup aktif memfasilitasi mahasiswa Stikes Mega Rezky dalam penelitian tentang kondisi satu masyarakat di TPA Tamangapa. Bahkan hari-hari kami selalu bersama mereka. Adam sering diminta memfasilitasi materi yang bertemakan soal paradigm ilmu pengetahuan. Saya selalu diamanatkan untuk memfasilitasi soal teknik menulis. Adam terkadang menekankan agar para peserta penelitian banyak membaca buku dengan perspektif kritis, saya selalu menekankan agar mereka selalu menulis dan menulis dan menulis…
Dan entah mengapa, saya merasa sikap ‘sastrawi’ kami sampai ke soal-soal keseharian, mulai dari pengamatan sekilas kami terhadap kehidupan kota Makassar, hingga soal analisis kehidupan kami sendiri yang awalnya dari masa lalu yang kemudian ditarik ke masa kini.
“Seandainya saja keindahan tak punya sejarah sendiri dan jatuh begitu saja dari langit, maka aku akan leluasa dan tenang menikmati semilir angin laut, bangunan bertingkat, pusat perbelanjaan, dan gemerlap lampu di hotel-hotel di Makassar. Tapi karena hampir sebagian besar tempat itu dibangun dengan menggusur pedagang kecil, melenyapkan lahan nafkah para nelayan kerang, aku jadi susah menikmati semua ‘keindahan’ itu. Bangunan sejarah yang miris yang mendahuluinya telah melenyapkan kenikmatan pemandangannya,” ucapku dengan nada berusaha sedikit nyastra, saat melintasi daerah sepanjang pantai losari hingga masuk daerah tanjung, saat berangkat mengikuti Pelatihan Kepemimpinan salah satu perguruan tinggi. Banyak ungkapan yang kami ucapkan dengan gaya reflektif-sastrawi semacam itu.
Kami selalu mengimajinasikan bagaimana jadinya seandai fenomena yang kami lihat dan bayangkan menjelma karya sastra. Bagaimana menjelaskan bahwa Daeng Becak yang mengayuh becak itu dari pagi hingga pagi lagi tidaklah malas, sebab itulah pendapat yang mengatakan bahwa malas sebagai akar kemiskinan kontemporer adalah salah. Bagaimana menyastrakan soal bahwa korupsi itu tidak lahir karena semata-mata ada orang yang tidak bermoral, namun ada system yang target kerjanya adalah meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Dan bagaimana menjadikannya sastrawi soal fenomena bahwa musuh perempuan itu bukan laki-laki, tapi satu system bernama kapitalisme. Kami tentu mudah membayangkannya jika itu ditulis dalam bentuk opini. Tapi jika dijelmakan dalam bentuk sastra? Kami berfikir panjang tentang itu…
Sastra juga kami jadikan sarana untuk membaca fenomena masyarakat kelas menengah sekarang ini. Kami mulai dari fenomena facebook. Ungkapan-ungkapan sastra kini menyesaki ruang facebook, berlomba-lomba dengan pernyataan politik, kampanye, propaganda hingga iklan kosmetik dan alat dapur. Tapi Adam menyatakan kegeramannya terhadap mereka yang senang menuliskan secara melankolis perasaan-perasaan pribadi mereka yang tak penting. Tentu saja ia mengakui bahwa itu hak masing-masing orang. Namun sebagai fenomena sosial, ia merasa itu menggambarkan bagaimana watak kelas menengah.
Saya sendiri lebih jauh berpendapat, facebook adalah alat dari gerakan iman terlemah kita. Selain itu, ia juga pernah menjadi sarana yang nyaris destruktif. “Saya memperhatikan, awal-awal facebook difungsikan oleh banyak orang, kita sering mendengar berita bahwa para bos dan majikan mulai gerah dengan tingkah karyawan dan buruh mereka. Karyawan dan para buruh mereka menjadi susah diatur, kerja menjadi terbengkalai, dan mereka khawatir ini akan berdampak pada keuntungan yang kan mereka akumulasi. Tapi perlahan para karyawan dan buruh itu mulai bisa mengatur jadwal kerja dan kapan mulai berfacebook. Para bos dan majikan menjadi senang kembali.”
Tapi kami sama berpendapat, itu adalah alat yang tak boleh tidak harus digunakan. Asal jangan pernah lupa bahwa ia hanya alat. Dan kemampuan teknik bersastra bisa dimulai dari alat ini.
Berangkat dari semua perbincangan itu, saya dan Adam, meski tidak secara langsung kami bahasakan, mulai menyusun rencana pelan-pelan untuk berusaha memperhatikan dan menggeluti dunia sastra, baik sebagai bahan diskusi atau sebagai praktik. Ia pernah meminta saya segera membuat group di mana kita bisa ‘bersastra-ria’ bersama kawan-kawan yang seide (dan mungkin pula senasib dan sepenanggungan. Hehehe). Saya berencana belajar lagi menulis cerita hingga penghujung tahun ini. Ia juga berencana akan menggiatkan diri belajar tetek-bengek penulisan sastra: membuat deskripsi, belajar membuat metafora, membuat dialog yang efektif, dan sebagainya dan sebagainya.
Adam sudah memulainya. Rencana cerpen yang ia tulis yang saya katakan di awal-awal tulisan ini, ia selesaikan tepat siang hari, Senin 24 Oktober. Cerpen itu berkisah tentang nasib perempuan di Kalimantan yang oleh beberapa sebab harus meninggalkan kampung halamannya dan bekerja sebagai buruh perusahaan kayu. Gagasannya menarik. Setelah kami diskusikan bersama-sama, memang ada banyak catatan yang mesti diperbaiki: mulai dari soal deskripsi, gagasan yang meloncat-loncat, tokoh yang belum tereksplorasi secara dalam, dan lain-lain. Tapi satu keberhasilan yang tak mungkin diabaikan: ia menuntaskan semua gagasannya dalam cerita itu.
Bagaimana dengan kalian?
(Makassar, Selasa 25 Oktober 2011)
Mengenai Saya
- belukarhujan
- Di dunia maya, khususnya di Facebook, saya menamakan diri Dedy Ahmad Hermansyah. Nama asli saya bisa ditebak dengan menghilangkan Ahmad di tengahnya. Ahmad itu sendiri adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati. Saya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tempat kuda dan rusa dan lebah berkeliaran. Selama ini, saya masih menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi. Bisa fiksi, narasi, maupun jurnalistik. Saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih serius, tentang hal-hal serius, khususnya menyangkut satu kondisi social yang memiliki muatan yang penting untuk diadvokasi. Tapi belum bisa. Saya ingin menulis dengan gaya santai, namun dengan substansi permasalahan yang urgen.
Arsip Blog
Populer
-
Perlu untuk memahami karakter suatu pemerintahan, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah gerakan protes atau perlawanan. Pers mahasi...
-
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan peri...
-
Selasa, 10 Maret 2009 Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. ...
-
Saya punya seorang teman perempuan Tionghoa, namanya Merlin Herlina. Cukup dipanggil Merlin. Kami bertemu pada acara pelatihan penulisan bu...
-
Judul : Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia Penulis : Keith Foulcher Penerbit : Komunitas Bambu Cetak...
-
Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin Penulis : Aslan Abidin Penerbit : Ininnawa Cetakan : Pertama, Juni 2008 Halaman : 114...
-
Ini adalah TOR (Term of Reference) yang saya buat untuk acara bedah buku 'Nicotine War: Perang Nikotin dan Pedagang Obat' karya Wanda Hamil...
-
........ Alam telah menetapkan ruang Aktifitas dimana binatang harus terus bergerak, dan binatang pun terus menjalani hidupnya di dalam rua...
-
(Hitler Mein Kampf adalah judul buku manga tentang otobiografi Hitler: Mein Kampf. Buku ini diterbitkan PT Elex Media Komputindo, (mungkin)...
-
Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang menggu...
