Kisah-kisah dari Lima Tubuh Terbungkus Cahaya

Sebuah ruang suram dan gelap perlahan terang oleh cahaya yang datang dari lima sumber berbentuk kotak persegi panjang. Kotak-kotak itu transparan, bening, sehingga tubuh yang terbungkus di dalamnya jelas seperti manusia yang berjalan di siang terik. Ruangan itu tidaklah bertembok dinding, melainkan dibatasi oleh sejauh mana jangkauan cahaya dari tubuh mereka berpendar.

Tubuh-tubuh dalam kotak-kotak tersebut tidaklah mati, tidaklah kaku. Tubuh-tubuh itu hidup dan bergerak sebagaimana manusia menjalani aktifitas sehari-hari mereka. Wajah-wajah di tubuh itu juga kadang seriang bocah-bocah yang mengejar layang-layang yang lepas dari ketinggian langit biru. Ketika mereka bergerak, kotak-kotak itu juga bergerak. Dan saat bergerak, kotak-kotak itu nampak bagai es balok besar yang ada di gudang-gudang ikan.


“Hidup terasa berat di luar sana,” seorang laki-laki tua memulai percakapan. Saat ia berbicara, udara dari mulutnya menggoyang-goyangkan sebuah cahaya ke luar. “Beban berat itu sungguh terlalu sulit ditanggung. Anehnya, beban itu diletakkan satu manusia ke atas bahu manusia lainnya. Dengan paksaan, ya, dengan paksaan!” Laki-laki tua itu mengenakan baju kaos hijau bergambar sebuah pulau eksotis yang mulai pudar gambar mataharinya. Di bahu kanan bajunya, berlumuran darah. Merah kehitam-hitaman. Kental. Darah itu menetes pelan dari lubang hitam di pelipis kepala bagian kanannya. Sebuah peluru bersarang di sana.

“Kebahagiaan menjadi barang mewah yang selalu diperebutkan. Kebahagiaan tak ubahnya barang jualan dalam proses jual-beli yang tak adil dan curang,” seorang ibu dengan memar dan benjolan di dahinya. “Anehnya, kebahagiaan itu memiliki pasukan yang bergigi taring, dan pentungan yang tak kenal kata maaf.”

“Yah, hidup memang tak semudah yang digambarkan garis telapak tangan,” seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Sebuah kecapi terangkul di dadanya. “Hidup tidak diatur oleh tafsir-tafsir para peramal. Tapi oleh tindakan nyata dan kencang para manusia yang selalu merasa tak pernah puas.” Sambil berbicara, ia mengusap-usap jari-jari kakinya dengan sebelah tangannya.  Jari-jari kakinya retak oleh panasnya kemarau yang meninggalkan apinya di jalan-jalan yang ia tapaki. Ia nampak pucat, kumisnya suram, dengan warna hitam-putih yang tak teratur.

“Manusia memang tak pernah benar-benar terpahami. Tak pernah memang benar-benar ada yang baik, tapi sebagian besar mereka selalu dikalahkan segelintir mereka yang jahat,” seorang laki-laki pincang dan jangkung berbicara sambil mengelilingi ruangan. Karena ruangan tidak dibatasi apa-apa kecuali jangkauan cahaya dari tubuh mereka, sehingga setiap laki-laki pincang itu melangkah, selalu seperti ada lubang yang memerangkap sebelah kakinya. Ia memakai celana pendek biru yang lusuh. Di paha kanannya ada noktah merah yang berkilauan terkena cahaya yang keluar dari tubuhnya.

“Seperti itulah, bapak dan ibu! Hidup itu bukanlah soal menjalani serangkaian ramalan dan wejangan mereka yang berbicara dengan mulut dan gigi yang putih bersih, pakaian yang bersih. Tapi hidup adalah tentang mempertahankan apa yang seharusnya menjadi hak kita, sembari juga menjaga hak orang lain. Jika ada yang melanggar kedua-keduanya, kita harus bertindak,” seorang pemuda berbaju kemeja, berkaca-mata. Gaya bicaranya penuh semangat. Tampilannya tak sepenuhnya rapi, tapi lebih merupakan sebuah paduan kewibawaan dan kejujuran, kedisiplinan dan kesabaran, semangat berapi-api yang terjaga rapi.

Sesaat tak ada tanggapan. Sunyi mengisi ruangan. Sedikit remang-remang, karena cahaya agak meredup saat tak ada kalimat atau pun gerakan dari tubuh mereka. Kini yang hadir mengisi kesunyian adalah nyanyian kecapi yang dipetik laki-laki berpakaian serba hitam. Ia melantunkan sebuah lagu:

“Bagaimana kami bisa disebut petani, jika tanah kami dirampas. Bagaimana kami bisa menyekolahkan anak, jika kami tak bisa panen jagung lagi. …. Perjuangan kadang membuat kita terpisah dari keluarga.”

Ia terus melantukan lagu pendek itu dengan suara keras dan berat. Cahaya tiba-tiba berpendar sangat terang dari tubuh-tubuh yang lain. “Pak Tua, lagu itu benar-benar merdu. Liriknya sangatlah jelas menggambarkan kenyataan yang ada. Kau bisa mengulangnya?” pemuda berpakaian rapi berkata dengan senyum dan gairah yang mulai bangkit.

“Anak muda, aku tidak pernah membuat lagu dalam catatan. Aku tak pernah merancang lirik sebelum dinyanyikan. Semua laguku hadir tepat saat aku mengingat setiap sejarah hidup yang kujalani, juga yang dijalani orang-orang di sekelilingku,” jawab laki-laki tua tersebut, sambil jari-jari tangannya memetik pelan kecapinya.

Ia kemudian bercerita, “Aku ini adalah seorang suami dan seorang ayah. Sejak tanahku di desa dirampas untuk perusahaan pemerintah dalam bidang perkebunan, aku tak bisa lagi panen jagung dan tebu. Kami memang tidak diam. Kami melawan. Kami melakukan protes. Kami berjuang. Kami kadang menang, tetapi itu selalu tak pernah bertahan lama, kekuatan besar selalu mengancam dan berhasil menjadi pemenang. Konsekwensi dari berjuang itu, banyak dari kami yang terpisah-pisah dan bercerai berai.” Saat ia menuturkan kisah itu, ia tersenyum hambar.

“Kalau begitu, Pak Tua, bisakah kau nyanyikan kisah kehidupanku?” tanya perempuan tua dengan senyum penuh harap.

“Aku juga, aku juga, Pak Tua!” tubuh-tubuh yang lain berebutan meminta. Tiba-tiba cahaya berpendar sangat terang, sehingga tubuh-tubuh mereka hilang bentuk ditelan pendaran cahaya tersebut.

“Aku tak bisa berjanji. Tapi jika kalian tak keberatan, kalian kisahkan hidup kalian! Mungkin ada bagian yang cocok yang akan ditangkap oleh alunan kecapiku,” jawab Pak Tua berkecapi.

“Mungkin kalian bisa lihat dengan jelas memar dan benjolan di dahiku ini,” perempuan di ruangan itu mulai berkisah. Dengan penuh kelembutan, ia mengelus-elus dahinya dengan telapak tangan kanannya. “Siang itu rumah kami penuh oleh tamu. Mereka berpakaian bersih dan cantik. Saya bersama keluarga dekat menyambut mereka dengan ramah. Lalu tamu-tamu itu akan makan setelah usai menyalami anakku dan menantuku di kursi pelaminan.”

“Lalu memar dan benjolan itu anda dapatkan dari mana?” Tanya yang lain.

“Beredar isu jika lingkungan tanah kami akan digusur. Tapi itu desas-desus yang tidak jelas. Kami sekeluarga yang terlanjur merencanakan hajatan suci itu, terus berharap hal itu tak akan dilakukan sebelum hajatan itu terlaksana. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, penggusuran itu terjadi tepat saat pesta perkawinan anak saya tengah berlangsung. Beberapa orang di lingkunganku mengadakan perlawanan. Awalnya, aku tak berniat ikut mereka. Aku ingin minta sedikit sikap baik kepada mereka yang datang berseragam cokelat ke tempat kami, agar mereka menunda penggusuran sampai acara pernikahan anakku usai. Rupanya tak ada kompromi. Dan aku ikut barisan mereka yang melawan, hasilnya adalah ini,” ia menunjuk dahinya. Perempuan itu lalu lesu, menatap ke bawah kakinya.

Ruangan tiba-tiba menjadi terang yang panas. Awalnya normal putih, kini merah bagai api yang membara dari hutan yang terbakar. Barangkali itu lahir dari amarah dan rasa berang akan sesuatu yang mereka tak bisa bayangkan, samar mereka pikirkan.

“Sungguh malang. Aku juga punya kisah dari kaki pincangku ini. Sore itu, aku hendak mengambil sapiku di hutan. Tiba-tiba saja sebuah bunyi keras menyalak dari kejauhan. Aku kaget, takut dan penuh rasa was-was. Tiba-tiba sehabis itu, kaki kananku terasa lumpuh. Sembari menahan kesakitan yang sangat dan terduduk lemah di tanah, beberapa laki-laki kekar berseragam tentara mendatangiku. Mereka menuduhku hendak mencuri kayu perusahaan di daerah kami. Aku katakan, jika aku hanya berencana mengambil dan membawa pulang sapiku. Mereka tak percaya. Sapiku yang berada tak jauh dariku, hanya bisa menatap lemas, tak berkata dan tak menjelaskan apa-apa!”

“Kisahmu sangat mirip dengan kisahku, Bapak Tua Pincang!” berkata seorang laki-laki tua dengan pelipis kanannya yang berlubang. “Aku mendapatkan pelipis kananku berlubang, tak lama setelah aku dan beberapa orang di kampungku menghancurkan tembok-tembok yang didirikan pemerintah yang memagari ladang-ladang tebu kami. Kami diburu-buru, tak hanya di kehidupan seharian kami, bahkan mereka datang membawa senjata dalam mimpi malam kami. Bagi yang belum tertidur, senjata itu mengetuk-ngetuk pintu rumah mereka. Aku salah satunya. Saat istriku memberitahu bahwa beberapa laki-laki kekar membawa senjata di depan pintu kami, aku langsung loncat melalui jendela dengan hanya mengenakan celana dalam. Sayang sekali, aku terlambat. Pintu didobrak tepat saat aku meloncat. Peluru merobek udara rumahku, untuk kemudian bersarang di pelipis kananku. Rasa sakit itu mengalahkan rasa sakitku terjatuh ke tanah. Kini aku sengaja membiarkan peluru itu berada di sana, sampai nanti aku menemukan milik siapa itu. Juga sekalian sebagai jejak yang aku pelihara, agar aku tetap mengingat ketidak-adilan yang menimpaku dan orang-orang yang berada di kampungku!”

“Aku juga membiarkan peluru di paha kananku mendekam bersama darah. Sama dengan alasan yang kau jelaskan!” kata Pak Tua yang pincang. Mereka berdua saling tatap. Mereka menemukan satu garis nasib serupa dalam diri mereka masing-masing. Cahaya merah yang membara garang berpendar dari tubuh mereka berdua.

“Kalau dirimu, anak muda, ada kisah apa yang menimpa dirimu? Kami melihatmu masih begitu kuat, tegar dan punya semangat yang tinggi,” Tanya empat orang kepada satu-satunya pemuda di situ.

Pemuda tersebut kemudian melepaskan kaca-matanya, ia genggam dengan salah-satu tangannya. Ia menatap ke atas sejenak, lalu mendengus. Mulailah ia bercerita, “awalnya kehidupanku baik-baik saja. Aku juga berasal dari keluarga petani. Mereka menyuruhku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Aku disuruh belajar saja, karena bertani sudah semakin sulit. Saat aku mulai belajar, aku bersama teman-teman membaca, diskusi, tentu saja tak lupa untuk bersenang-senang, memuaskan semangat muda kami. Tapi beberapa dari kami mulai dihinggapi kebosanan. Sisi lain intelektualitas kami meminta untuk diuji. Kami mengetahui banyak hal dari membaca dan diskusi, kami hanya memahami dengan samar-samar realitas di luar sana dengan alur logika yang kami uji dengan fakta yang kami baca. Realitas kami sudah terlalu penuh sesak oleh dunia teks. Kami ingin melihat realitas yang senyatanya.”

“Lalu apa yang terjadi kemudian?” ia diburu pertanyaan empat yang lainnya.

“Kami membentuk satu organisasi. Kami arahkan organisasi kami untuk membicarakan sekaligus mengadvokasi masalah-masalah yang dihadapi rakyat yang dirugikan oleh pembangunan Negara. Kami bergerak dengan mengambil begitu banyak alat pendukung: orasi, propaganda, pendampingan langsung, seni, dan sebagainya. Kami diburu-buru. Kampus kami bukan lagi tempat aman untuk sembunyi. Beberapa dari kami sembunyi. Ada yang tertangkap, ada yang tetap aman. Yang tertangkap pun kadang tak ada kejelasan nasib hidup matinya. Yang aman tak ada kejelasan sampai kapan bisa bersembunyi. Aku termasuk orang yang tertangkap, dan sampai sekarang orang-orang di keluargaku masih terus mencariku. Kami sedih, tapi tidak sepenuhnya sedih. Karena kami melihat ada orang yang terus melanjutkan apa yang kami lakukan, meski hanya segelintir. Mudah-mudahan keluarga kami bisa juga terobati oleh fakta tersebut.” Pemuda itu menceritakan itu dengan tangan yang aktif bergerak, seperti hendak menegaskan atau memberi bahasa lain untuk kata-katanya.

Tiba-tiba ada cahaya datang dari atas mereka, serupa cahaya yang muncul dari balik mendung di awan tinggi. Cahaya itu juga membawa-serta suara-suara samar dan tak jelas. Ada suara serupa lengking telepon, lagu-lagu cadas dari pengeras suara, dan suara yang tak jelas dan terlalu samar untuk diindentifikasi. Mereka menatap ke atas, cukup lama. Perlahan cahaya di atas mereka redup, dan suara-suara menyertainya hilang.

“Kisah kita ini seperti sebuah rantai yang terhubung kokoh. Ia terjalin oleh perjalanan nasib yang sama. Barangkali kemenangan yang pernah kita upayakan akan terus diperjuangkan di luar sana. Kita berdoa saja,” ujar orang tua yang pincang.

“Itu benar! Kita adalah kehidupan yang tengah berusaha dihancurkan oleh mereka yang serakah,” kata orang tua berpakaian serba hitam.

“Kita harus yakin, matahari esok di luar sana akan bersinar dari timur dan membagi teriknya. Ia akan membakar semangat mereka yang terus mempertahankan apa yang mereka sebut sebagai hak!” ucap si pemuda sambil berdiri dan mengelilingi ruangan. “Pak tua, bisakah kau iringi laguku dengan kecapimu?” ia meminta kepada pak tua pemain kecapi.

Pak tua pemain kecapi mengangguk. Si pemuda kemudian menyenandungkan lagu, yang pelan-pelan dihafal lalu dilantunkan pula oleh yang lainnya. Ruangan bersinar terang. Mereka bangkit berdiri. Kemudian bernyanyi bersama-sama:

“Jangan mau ditindas. Jangan mau dijajah. Jiwa dan pikiran kita. Hari terus berganti. Haruskah kalah lagi. Sang penindas harus pergi. Tuk hari esok yang lebih baik. Pasti menang, harus menang. Rakyat berjuang. Pasti menang, harus menang. Rakyat merdeka!”

Seiring itu, cahaya lebih terang dan menyilaukan datang lagi dari atas mereka. Sekarang lebih silau dan suara-suara semakin jelas. Ada suara nyanyian lagu rock di televisi, ada suara keluar dari keran air, ada suara pintu yang terbuka, ada suara dering handphone.

Yang paling keras adalah suara anak kecil yang melengking. Ia menyeru-nyeru sebuah nama. Seiring dengan seruan bocah itu, lima tubuh orang tadi perlahan lenyap dan menghilang.

“Onyi, Onyi, bangun! Onyi, Onyi, bangun!”

Sebuah tubuh terbangun dari sofa, sambil menatap layar handphone: “1 panggilan tak terjawab. Pukul 06.03 wita. Rabu 05 Oktober 2011.”

Kampungbuku, Rabu 05 Oktober 2011

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.