Graffiti dan Cerita yang Menyertainya…
Pertengahan tahun lewat sekian bulan pada 2007 silam. Civitas akademika Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas heboh oleh sebuah graffiti di salah satu sudut gedung Akademik. Graffiti itu tidaklah ber-‘seni’ sebagaimana yang biasa menghiasi tembok-tembok di perkotaan: sebuah kata atau kalimat narsis individu atau kelompok, dihiasi arsiran aneka warna di sekelilingnya serta struktur dan pola tulisan yang khas. Graffiti di dinding kantor Akademik FIB itu hanya berupa kalimat sederhana yang bagi sebagian orang, juga saya, sudah lazim mendengar atau membacanya. Kalimat graffiti tersebut kurang lebih seperti ini: “JIKA HIDUP INI TIDAK LAGI NYAMAN UNTUK DITINGGALI, MAKA HANCURKAN DAN TINGGALKAN!”
Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud memberi penilaian atau menyatakan pendapat saya mengenai substansi dalam tulisan graffiti maupun aksi ‘vandalisme’ itu. Saya hendak bercerita tentang seperti apa kehebohan yang terjadi, dan apa hikmahnya peristiwa itu kepada saya.
Sebagai latar cerita, masa hebohnya graffiti itu adalah semasa dengan ‘hebohnya’ kawan-kawan angkatan saya dalam usaha ‘keluar’ dari Universitas. Tahun 2007 memang menjadi lonceng peringatan terakhir bagi angkatan 2001 untuk segera keluar secara terhormat dari kampus. Di masa-masa inilah saya memahami benar pernyataan para senior: MUNGKIN MEMANG SUSAH UNTUK MASUK UNHAS. NAMUN LEBIH SUSAH LAGI UNTUK KELUAR. ‘Kesusahan’ yang saya dapatkan adalah dalam bentuk birokrasi-administrasi yang luar-biasa menyiksa. Ini adalah rahasia umum, jadi tak perlu takut saya catat di sini.
Kembali ke soal graffiti tadi. Saya sudah mendengar sebelumnya desas-desus tentang graffiti tersebut. Sebagian besar menganalisa serta bermain teka-teki tentang siapa dalang, apa tujuannya. Tapi sejak mengurus berbagai persyaratan administrasi-akademik sebelum bisa ‘ujian meja’, saya mendapati sekelompok orang, rata-rata pegawai akedemik, ikut membincangkan graffiti tersebut. Namun berbeda dengan sebagian yang lain, mereka—secara tidak sadar—sedang ‘merenungkan’ arti kalimat di dalamnya.
“Siapa mi itu yang iseng nulis begitu di’? Orang yang sedang stress kayaknya.”
“Mungkin saja. Makanya dia mau hancurkan ini dunia. Tidak merasa nyaman mi penulisnya hidup di dunia ini. Hahaha….”
Percakapan ini saya dengar saat saya mengurus persyaratan ‘bebas-pustaka’ dari Fakultas. Saya diminta menyumbangkan dua buah buku untuk perpustakaan Fakultas, salah satu perpustakaan di kampus yang selama bermahasiswa jarang saya datangi. Saya tak terlalu tertarik dengan koleksi buku di dalamnya. Buku-buku tak ada yang terupdate. Yang sering menyita mata saya hanya deretan Skripsi yang mungkin banyak di antaranya adalah pesanan. Sama kasusnya dengan perpustakaan Universitas.
Percakapan seputar isi graffiti itu terus berlanjut tak berhenti sampai di situ, ia menggelinding di ruang tunggu para penguasa akademik, di warung makan, hingga di perjalanan dari kamar kecil menuju meja kerja.
“Yang tulis itu (graffiti), sebaiknya kuliah saja baik-baik. Biar kita tidak repot lagi berfikir menghapus dan mengecat ulang dinding itu. Edede, ini saja kita sudah susah urus urusan mahasiswa, ditambah lagi pikirkan untuk mengecat ulang dinding itu!”
“Iya, ya. Kita tahu ji juga bahwa hidup ini susah. Tapi tak perlu mi pakai tulis di tembok segala. Kan kita yang repot kalau begini.”
Seharian saya mengurus beberapa kebutuhan akademik, seharian pula saya mendengar soal graffiti tersebut. Lalu keesokan hari dan seterusnya, perlahan saya tenggelam dalam kesibukan mengurus berbagai macam keperluan. Otomatis soal graffiti itu saya lupakan.
Dalam proses ‘mengurus’ inilah saya mendapati dan mengalami sendiri beberapa isu-isu selama ini di kampus menyangkut soal laku birokratis akademik, mental korup para pekerja akademik, dan sebagainya. Ini memang juga menjadi rahasia umum, sebagaimana umumnya pengetahuan banyak orang tentang jual-beli nilai, parsel yang mesti disiapkan beberapa mahasiswa saat ujian meja untuk para pembimbing dan penguji, uang pelicin untuk memuluskan sebuah urusan dan lain-lain. Hanya satu keuntungan berupa ‘kekuasaan’ yang bisa saya manfaatkan untuk lolos dari beberapa jeratan masalah tersebut. Kekuasaan itu muncul disebabkan adanya kesadaran sebagai ‘angkatan tua’ di kampus, yang secara otomatis memiliki gengsi untuk ‘takluk’ pada birokrasi. Bahasa sederhananya: harus bisa ‘mengamuk’ di hadapan birokrat-akademik. Tapi, tak pelak lagi jika tak ada jalan keluar agar urusan mulus, dengan sangat terpaksa ‘uang-pelicin’ menjadi kunci.
Terkadang, disebabkan hasrat agar segala urusan selesai, moral menjadi barang tak berguna dan hanya boleh bermukim di tong sampah. Ada saja logika yang, entah kenapa, kadang seperti ‘masuk-akal’. Beberapa teman saya mengalaminya. Pegawai rendahan sering menjadi korban dalam masalah ini. Dan anehnya, dalam kasus yang kualami sendiri, mereka yang berada pada posisi aman secara ekonomi dan kekuasaan melegalkan cara ini dengan alasan ekonomi ataupun moralitas ‘palsu’. Kita pun menjadi terpengaruh dan melupakan soal sistem yang membangun atau menciptakan keadaan tersebut. Dan sesaat, tiba-tiba sikap ‘dermawan’ menggantikan istilah negatif ‘uang-pelicin’.
Nyaris seminggu saya mengurus banyak hal di kampus sebelum bisa ‘keluar’ secara terhormat. Beberapa teman saya sudah ada yang ‘kelar’, ada juga yang terkendala pada satu kondisi dan persoalan, dan bahkan ada yang memutuskan ‘selesai’ di tengah jalan karena tertekan dan tak sanggup menguasai keadaan.
Seusai ‘ujian meja’ yang bersamaan dengan kumandang azan jumat, saya keluar dari ruangan, terpaku sejenak, lalu berteriak lantang sesaat, dan tak lama saya melihat beberapa pegawai akademik dan beberapa mahasiswa berbondong-bondong ke musholla fakultas. Saya ingat, beberapa dari mereka telah berjasa mengurus segala urusan saya dan teman-teman saya. Meski beberapa urusan itu harus diselesaikan dengan cara yang ‘kotor’ dan ‘tercela’. Semoga Tuhan mengampuni mereka. Juga saya.
Seusai jumat, saya lihat graffiti di dinding kantor akademik itu sudah tertutupi cat putih. Meski begitu, tulisan di baliknya masih samar-samar terlihat. Saya jadi berfikir dan merenung: ‘hidup’ yang saya jalani selama satu minggu mengurus beberapa hal di kampus, memang tidak menyenangkan. Tapi sialnya saya tak ‘menghancurkan’ apa-apa dengan melakukan sesuatu, dan saya harus meninggalkan dunia kampus dengan berbagai permasalahan usang dan berkarat di dalamnya…
20 Juni 2011
Mengenai Saya
- belukarhujan
- Di dunia maya, khususnya di Facebook, saya menamakan diri Dedy Ahmad Hermansyah. Nama asli saya bisa ditebak dengan menghilangkan Ahmad di tengahnya. Ahmad itu sendiri adalah nama bapak saya yang sangat saya hormati. Saya dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tempat kuda dan rusa dan lebah berkeliaran. Selama ini, saya masih menjadikan aktifitas menulis sebagai hobi. Bisa fiksi, narasi, maupun jurnalistik. Saya ingin sekali menulis sesuatu yang lebih serius, tentang hal-hal serius, khususnya menyangkut satu kondisi social yang memiliki muatan yang penting untuk diadvokasi. Tapi belum bisa. Saya ingin menulis dengan gaya santai, namun dengan substansi permasalahan yang urgen.
Arsip Blog
Populer
-
Perlu untuk memahami karakter suatu pemerintahan, untuk mendapatkan gambaran utuh tentang sebuah gerakan protes atau perlawanan. Pers mahasi...
-
Catatan Kaki diterbitkan oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)[1]. terbitan perdananya terbit tahun 1996 di akhir kepengurusan peri...
-
Saya punya seorang teman perempuan Tionghoa, namanya Merlin Herlina. Cukup dipanggil Merlin. Kami bertemu pada acara pelatihan penulisan bu...
-
Selasa, 10 Maret 2009 Saya mau menuliskan apa sekarang? Sepertinya tak ada yang berarti untuk ditulis. Seharian ini saya tak ke mana-mana. ...
-
Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin Penulis : Aslan Abidin Penerbit : Ininnawa Cetakan : Pertama, Juni 2008 Halaman : 114...
-
Judul : Sumpah Pemuda: Makna dan Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia Penulis : Keith Foulcher Penerbit : Komunitas Bambu Cetak...
-
Ini adalah TOR (Term of Reference) yang saya buat untuk acara bedah buku 'Nicotine War: Perang Nikotin dan Pedagang Obat' karya Wanda Hamil...
-
(Hitler Mein Kampf adalah judul buku manga tentang otobiografi Hitler: Mein Kampf. Buku ini diterbitkan PT Elex Media Komputindo, (mungkin)...
-
........ Alam telah menetapkan ruang Aktifitas dimana binatang harus terus bergerak, dan binatang pun terus menjalani hidupnya di dalam rua...
-
Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang menggu...
