Bila Kompor Gas Masuk Desa



MEI 2007, Wakil presiden Yusuf Kalla didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, secara resmi meluncurkan Program konversi minyak tanah ke LPG (selanjutnya ‘elpiji’, sebutan lazimnya). November 2009, elpiji mulai masuk ke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Disebar ke semua desa, termasuk Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah. Sejak saat itu, tabung gas elpiji 3 kilogram bermukim di dapur nyaris semua warga Desa Kompang. 

Anshar, Kepala Desa Kompang, mengatakan, tak ada kendala berarti dalam penyalurannya ke warga. Semua berjalan lancar. Meski begitu, beberapa bulan setelah penyaluran, tetap saja ada warga yang tidak menggunakannya, tergeletak begitu saja di dapurnya. Bahkan, menurut pengakuan seorang warga, ada yang mengambil jatah lalu menjualnya tak lama kemudian. 

Tabung gas sebagai ‘penghuni’ baru di dapur, menemani ‘penghuni’ lama: kayu bakar dan kompor minyak tanah, memiliki pengaruh terhadap kerja warga di area dapur. Ada yang mengatakan kehadiran gas sangat membantu, khususnya untuk alasan-alasan praktis seperti menjerang air dan bakar penganan. Meski begitu, ada juga yang mengatakan tak terlalu berpengaruh, dan tetap menggunakan kayu bakar sebagai alternatif energi.

Misalnya Anti. Ibu rumah tangga desa Kompang ini mengatakan, ia menggunakan gas untuk hal-hal praktis: masak air, menggoreng, bakar kue. Hal itu dikarenakan api gas yang rata. Kompor gas membantu menghemat waktu masak. Sementara untuk memasak nasi dan sayur, ia menggunakan kayu bakar. “Tidak pakai gas untuk menghemat,” katanya. 

Anti mulai menggunakan gas sejak awal pembagian, tahun 2009. Setelah sekitar tiga bulan pemakaian, tabung gas tetangganya meledak. Ia pun berhenti mengoperasikan kompor gas, baru menggunakan kembali saat slang kulit diganti dengan slang besi. Wana, adik perempuan Anti mengaku, sampai sekarang, masih takut menyalakan kompor gas. 


Rata-rata Anti menggunakan gas elpiji selama hampir satu bulan sekali isi. “Ada rumah lain yang pemakaiannya 15 hari,” tuturnya. Dulu Anti menggunakan kompor minyak tanah.

Serupa dengan kasus Anti, Syamsuddin, warga Dusun Bonto, setiap hari menggunakan gas untuk masak air dan sayur. Untuk masak nasi, keluarga Syamsuddin menggunakan kayu bakar. Ia mulai menggunakan kompor gas sejak pertama kali dibagikan pemerintah desa. Ia mengambilnya langsung dari Kantor Desa Kompang. Di sana pula ia belajar menggunakan kompor gas melalui petugas yang diutus pemerintah kabupaten. 

Syamsuddin mengaku tak pernah ada pengalaman buruk dengan kompor gas. Tidak seperti seorang tetangganya, seperti dituturkannya, yang mengambil jatah pembagian lalu diberikan cuma-cuma kepada orang lain, alasannya takut menggunakan kompor gas.


BAGI sebagian besar warga desa, kehadiran kompor gas tidak benar-benar menggantikan kayu bakar. Sejauh informasi dari beberapa warga, kehadiran kompor gas hanya mengganti keberadaan kompor minyak tanah. Anti dan Syamsuddin, dua warga Desa Kompang, juga tak lagi memfungsikan kompor minyak tanah mereka. Memang ada yang hanya menggunakan kompor gas, tetapi biasanya mereka berprofesi sebagai pembuat kue, penjual bakso dan semacamnya. Bagi warga yang berprofesi sebagai petani, kompor gas tidak benar-benar mengganti posisi kayu bakar.

Alasan pemerintah pusat memberlakukan kebijakan konversi ini adalah karena harga minyak dunia meningkat, sehingga subsidi minyak tanah meningkat. Kebijakan ini ditaksir akan menghemat APBN hingga 17,5 trilyun rupiah. Selain itu, pihak pemerintah mengatakan gas alam di Indonesia melimpah dan dinilai lebih ramah lingkungan dari minyak tanah.

Pemerintah juga mengatakan, dibandingkan penggunaan minyak tanah, akan lebih hemat jika memakai gas. Hal ini diamini oleh Anti. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Anti menggunakan gas nyaris satu bulan. Ia membeli gas seharga Rp. 16.000 per tabung, dan menghabiskan minyak tanah sekitar 5 liter pada masa pemakaian yang sama—satu bulan. Harga minyak tanah Rp. 8000, kali 5 liter, sama dengan Rp. 40.000. Perbedaan harga keduanya cukup mencolok.

TETAPI jika dikaitkan dengan sumber energi biomassa (terbarukan) yang tersedia melimpah di Desa Kompang, kebijakan tabung gas ini menarik untuk diperbandingkan. Lahan kebun desa Kompang diisi pohon cokelat, cengkeh, pala, pinus dan lain-lain. Petani desa Kompang memanfaatkan kayu atau rantingnya untuk dibuat kayu bakar.

Orang tua Anti yang memiliki usaha pembuatan gula merah, membutuhkan kayu bakar yang banyak dalam proses memasak. Jika menggunakan kompor gas, prosesnya akan makan waktu lebih lama, dan akan menghabiskan ongkos produksi lebih banyak. Sementara ketersediaan kayu bakar yang berlimpah di kebun, sayang jika tidak dimanfaatkan. 

Jenis kayu bakar yang digunakan di rumah Anti adalah kayu bunga, kayu jati, ranting-ranting cokelat, langsat, cengkeh, kayu pete’. “Kayu paling banyak ketersediaannya di kebun. Kayu bakar tidak mungkin langka,” tegasnya. Satu ikat yang dibawa dari kebun bisa mencapai 20-30 potong kayu. Ada juga yang berupa kayu besar, sesampai di rumah baru dibelah. Jarak dari rumah ke kebun untuk mengambil kayu bakar setengah kilometer, setengah jam berjalan kaki.

Syamsuddin juga seperti Anti, memanfaatkan kayu bakar di kebun untuk memasak. “Saya kalau pulang dari kebun, jarang tidak bawa kayu bakar. Hampir setiap hari saya bawa,” katanya.  Kayu bakar yang dibawa pulang dari kebun biasanya adalah kayu pohon lamtoro dan cokelat. 

Ada yang menarik dari penuturan Anti dan Syamsuddin. Mereka berdua mengaku ada perbedaan besar terhadap aroma dan rasa masakan antara menggunakan kompor gas dengan kayu bakar untuk memasaknya. Mereka berdua senada, masakan akan lebih enak jika menggunakan kayu bakar. “Apalagi kalau memasak daging, lebih enak jika menggunakan kayu bakar,” jelas Anti. “Tidak bisa kalah rasa masakan jika dimasak pakai kayu bakar dibanding kompor gas,” jelas Pak Syam.

Anti memiliki dua tempat memasak di dapurnya. Ia menggunakan istilah ‘taring’ untuk lubang masak. Sehari semalam, jika ditotalkan penggunaan kayu di kedua ‘taring’, Anti menghabiskan sekitar 20 kayu. 

Lalu siapa yang diuntungkan dari hadirnya kompor gas ini? 

Merujuk pada pernyataan Syamsuddin dan Anti, orang yang meningkat ekonominya, jarang ke kebun dan tak bisa lagi ambil kayu bakar biasanya akan lebih sering menggunakan gas. Maka, sulit untuk tidak mengatakan bahwa pegawai kantoran (seperti pegawai pemerintah desa), sangat dibantu oleh hadirnya tabung gas. Sementara bagi warga bermata pencaharian petani, yang nyaris setiap hari ke sawah atau kebun, masih tetap mengandalkan kayu bakar sebagai sumber energi untuk memasak.

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Bila Kompor Gas Masuk Desa

  1. happy says:

    Kompor gas simbah cuma kepakai waktu anak-anaknya pulang kampung juga. hehe

  2. happy benar. kamu mendapat hadiah tepuk tangan paling meriah. selamat! :-P

Diberdayakan oleh Blogger.