Ik Do Het Je, Maha!

“Ada kopi, Ma?”

“Kopi apa, Nak. Campur susu?”

“Boleh, Ma!”

Perempuan gempal setengah baya, berbaju abu-abu berkerudung hijau, itu pun mengambil gelas putih bertuliskan Joss Fit. Ia menggunakan kaca mata bening bermerk Glicci. Sapuan bedak tampak lembut di wajahnya. Ia menuangkan air panas dari termos hijau, kemudian mengaduk kopi dan susu cair putih dengan sendok di tangan kanannya.

“Kalau rokok ada, Ma?”

“Rokok apa?”

“Kalau Pro Mild Surya?”

“Class Mild dan Surya ji ada.”

“Surya mo saja kalau begitu, Ma!”

Rupanya, rokok itu ia ambil di kios lain. Ia bilang, sudah lama ia tak jual rokok. Rokok sekarang mahal, katanya. Jadi kalau ada pemesan kopi, lalu ingin beli rokok, ia mengambil di kios yang tak jauh dari tempat ia menjual, barangkali itu kios milik keluarganya.



Kopi susu panas terhidang. Rokok sudah datang. Aku harap asap dan uap dari kedua pesananku itu akan mengusir perlahan dingin pagi oleh gerimis.

Nah, Maha, itu percakapanku pagi ini dengan seorang perempuan penjual kopi. Sekarang tebak, di mana kira-kira aku berada. Aku kasih tanda ya. Oiya, sebelum tanda-tanda itu aku sebutkan, aku mau melanjutkan menulis percakapan yang barusan aku lakukan bersama perempuan itu, sesaat setelah aku mengetik beberapa paragraph dari tulisan ini.

“Kuliah di mana, Nak?”

“Di Unhas, Ma. Tapi sudah lama lulus. Dua tahun lalu.”

“Sudah terangkat, Nak?”

 ‘Terangkat’ yang ia maksud tentu saja lulus menjadi ‘Pegawai Negeri Sipil’, alias PNS.

“Tidak, Ma. Saya sekarang usaha kecil-kecilan di dunia perbukuan.”

Aku menggunakan kata ‘usaha’ karena aku bingung mau pakai kata apa.

“O, pengusaha, Nak!”

“He-he-he! Bukan, Ma! Tapi, Cuma kerja kecil-kecilan.”

Aku jadi bingung sendiri mau menjelaskan apa soal kerjaku kepada perempuan itu.

Perempuan itu bernama Nadiah. Ia bercerita, sejak 1997 berjualan di tempatnya sekarang.

Astaga, aku lupa, tadi aku bilang mau kasih kamu tanda-tanda tempat aku melakukan perbincangan pagi hari ini kan? Oke, Maha, kali ini aku mulai dari awal perjalananku dari tempatku tinggal, Jl Abdullah Daeng Suria. Pagi itu hari Minggu yang gerimis. Dari sana, aku naik pete-pete kampus 07 (Maha, tadi aku lihat seorang perempuan di sampingku di atas pete-pete duduk manis, pandangannya fokus pada sebuah buku tipis di genggamannya. Ia membaca Agatha Christie berjudul Three Acts Tragedy. Ia memakai jaket hitam, celana jeans hitam, tas hijau, sandal ardilles hitam. Rambut hitam panjangnya ia gulung dan ia ikat. Ia tidak menggunakan perhiasan telinga. Entah mengapa aku selalu senang dan menganggap semua perempuan yang sedang membaca buku di atas angkutan umum itu cantik. Lalu aku beralih mengintip ke lembar bacaannya: Bab XX. Pembuka paragrafnya begini: “Sebenarnya anda ini kawan atau lawan?”).

Sekitar 10 menit, aku turun pas di depan Kantor PLN. Aku lanjut naik mobil warna merah melalui jurusan Gowa. Sekitar 10 menit, aku turun, hanya berjarak ratusan meter sebelum pintu gerbang daerah Kabupaten Gowa. Lalu aku berjalan menembus gerimis yang tipis, melewati deretan mobil panther. Beberapa orang mendatangiku, menanyakan hendak ke mana aku. Aku menyebut sebuah nama daerah di satu Kabupaten di Sulawesi Selatan. Sebetulnya aku sudah tahu ke mana hendak ku tuju di sana. Aku terus berjalan menuju daerah yang paling ujung dari tempat aku masuk. Deretan mobil juga terparkir di sana. Riuh rendah suara orang-orang menghiasi pagi: ada yang menjajakan sandal, roti, aneka penganan dan lain-lain. Seseorang yang sudah aku kenal menghampiriku. Ia menyambut tas jinjing hitamku, lalu memasukkan ke mobilnya yang berwarna putih. Lalu aku pun memesan kopi, dan terjadilah percakapan seperti di awal tulisan ini.

Nah, Maha, apakah deskripsi tempat itu sudah memberi tanda di mana aku berada? Aku yakin kau tahu. Kau mungkin teringat saat Ayah dan Ibumu mengajak kau ke Bone atau ke kampung Ayahmu, Kolaka. Kau mungkin teringat saat-saat sebuah bus akan membawamu ke tujuan. Kau juga mungkin teringat saat-saat jelang minum obat-mu di atas bus agar tak mabuk darat. Apakah kau menerka bahwa tempat itu adalah Terminal? Jika iya, kau benar, Maha, kau benar! Aku berada di Terminal Mallengkeri, pagi itu. Tujuanku hendak ke Sinjai, daerah tempat aku ‘belajar’.

Nah, Maha, izinkan aku melanjutkan menulis apa yang aku bincangkan bersama Ibu Nadiah. Apa yang aku bincangkan sedikit banyak berkaitan dengan apa yang hendak aku ceritakan ke kamu.

Seperti yang kubilang tadi, Ibu Nadiah berjualan di terminal itu sejak 1997. Awalnya ia berjualan di daerah Limbung, Kabupaten Gowa, tak jauh dari rumahnya. Namun, sejak pelebaran jalan menggusur tempat ia berjualan, ia pun mencari tempat baru, dan ia menyewa tempat di terminal tersebut. Ia membayar uang kontribusi perhari Rp. 2000. Tapi jumlah itu baru berlaku beberapa tahun setelah reformasi tahun 1998. Beberapa tahun sebelum itu ia hanya membayar Rp. 500. Selain setoran kontribusi harian itu, Ibu Nadiah juga membayar kartu menjual, yang dulunya pernah berjumlah Rp. 500 ribu, kini sudah satu juta lebih.

Ibu Nadiah memiliki tiga anak, dua laki-laki satu perempuan. Dua yang pertama sudah sarjana dan sudah ‘terangkat’. Satunya lagi masih mahasiswa, sebentar lagi—bulan Desember ini—akan wisuda. Ketiga-tiga anaknya kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan jurusan yang sama: Fakultas Olahraga dan Seni. Satu anaknya ada yang sudah ‘terangkat’ di Kalimantan.

Ia memiliki beberapa cucu (tadi saya lupa Tanya jumlah cucunya). Cucunya sudah ada yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Teknik. “Maklum, Bapaknya atau menantu saya itu keturunan China dan orang perbengkelan,” katanya. “Jadi dia ingin anaknya mengikuti jejaknya.”

Maha, perlu kau tahu, saat Ibu Nadiah menceritakan semua itu, raut wajahnya bersinar, senyumnya mengembang, dan nada suaranya begitu renyah. Ia seperti seorang supporter sepakbola yang memberitakan kemenangan tim andalannya. Atau lebih tepatnya: seperti pelatih yang membangga-banggakan timnya kepada mereka yang tidak menyaksikan pertandingan.

Tiba-tiba sosok imajiner anak-anaknya hadir di pikiranku. Aku tentu tak mengenal mereka, tapi cerita Ibu Nadiah tentang mereka menghidupkan mereka dalam otakku. Tak ubahnya seperti dirimu, Maha! Meski aku pernah melihat sosokmu, namun itu sungguh singkat. Bahkan mungkin kita tak pernah saling sapa. Tapi kisah-kisah yang membanjir di blog kedua Ayah dan Ibumu tentangmu—tingkah-tingkah konyolmu, kegemaranmu, dan sebagainya—aku seperti hadir menyaksikan kau melakukan semua itu. Kau begitu ‘dekat’ terasa, namun sungguh susah menjelaskan soal ‘kedekatan’ itu.

Sebab itulah, Maha, saat pada minggu akhir November Ibumu mengirimiku pesan lewat Facebook, memintaku menyumbang ‘kado’ untukmu, aku tiba-tiba berfikir, bagaimana caranya kita merancang hadiah buat seseorang yang tak kita kenal dalam bentuk komunikasi intens dengan pribadinya secara langsung? Bagaimana mengucapkan salam yang hangat kepada ia yang tak pernah saya dengar suaranya, memperhatikan wajahnya secara seksama, melihat gaya jalannya, dan sebagainya—agar tak terjebak pada sikap ‘Sok Kenal Sok Dekat’?

Nah, Maha, aku mulai berfikir: kamu yang ada dalam fikiranku bukanlah kamu yang aku pelajari secara langsung. Kamu yang saya kenal adalah kamu yang telah bercampur dengan kisah-kisah Ayah dan Ibumu, kebahagiaan kedua orang tuamu, harapan-harapan mereka tentangmu, dan tentu kisah tentang mereka berdua yang mereka selipkan dalam kisah tentangmu (dan ini laten dalam setiap cerita akan kamu, Maha!).

Jadi, aku agak sangsi, Maha, kado ini semata-mata untuk dirimu. Lazimnya, seseorang datang membawakan kado kepada ia yang berulang tahun, menyerahkan secara langsung, berjabat tangan, cium pipi kiri cium pipi kanan, lalu mengucapkan ucapan selamat dan doa-doa yang tulus. Nah, Ayah dan Ibumu begitu penuh gairah meminta ‘kado’ kepada teman-teman dekat mereka, dan itu akan mereka persembahkan kepadamu. Tidakkah ini berarti kado ini sebetulnya adalah ‘doa’ tersendiri dari mereka berdua untuk kamu? Dan tidakkah berarti bahwa ‘kado’ ini juga adalah doa buat mereka berdua? Yah, seperti itulah kiranya yang harus berlaku.

Baik, Maha, kita selesaikan bagian ini dengan percakapan terakhirku  bersama Ibu Nadiah. Saat sopir menyuruhku bersiap-siap untuk pergi, aku mematikan laptop.

“Baik-baik, Nak ya! Meski kau bukan anakku, tapi aku mendoakanmu seperti aku mendoakan anakku juga.”

“Terima kasih banyak, Ma! Semoga semuanya aman-aman saja!”

Kalimat itu sungguh singkat, Maha! Doa Ibu Nadiah untukku memang tak melebihi dan tak mendekati panjang satu meter jika dituliskan, dan tak sampai satu detik untuk mengucapkannya, namun harapan yang terkandung di dalamnya merentang jauh ke depan, hingga ke akhir kehidupanku.

Semoga doaku untukmu, Maha, seperti doa Ibu Nadiah tadi…

*****

Suatu hari di tahun 2002. Di Daerah Karuwisi, satu kawasan di jantung kota Makassar, terjadi penggusuran. Aku berada di sana, Maha. Aku ikut dengan barisan teman-teman Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi. Jumlah kami tak banyak. Mungkin tak melebihi 20-an orang. Panas terik membakar kulit.

Teman-teman saya berdiri berhadap-hadapan dengan aparat kepolisian. Aku sempat meninggalkan barisan, berkeliling ke rumah-rumah warga. Aku melewati satu rumah yang ramai. Sepertinya ada acara pernikahan yang (akan) berlangsung. Aku juga berbaur dengan beberapa warga. Aku duduk di samping seorang bapak tua. Wajahnya murung.

“Bapak juga akan digusur, Pak?”

“Iya, nak!”

“Ada uang ganti ruginya toh, Pak?”

“Ada. Tapi tak seberapa!”

“Terus rencananya pindah ke mana, Pak?”

Maha, pertanyaan terakhir saya itu tidak terjawab. Si Bapak Tua hanya menunduk. Mungkin ia sedang menyembunyikan kesedihannya.

Perlu Maha tahu, percakapanku itu senantiasa menghantuiku. Terus hidup di ingatanku. Sebetulnya tak ada yang istimewa dari isi percakapan itu. Hanya saja ia menjadi membekas, karena aku berada di sana, merasakan getaran dan ‘grativasi’ dari suasana penggusuran, dan menyaksikan sendiri raut si Bapak Tua tadi. Dan itu merupakan ‘aksi’ pertamaku di mana aku benar-benar merasa terlibat secara batin. Dan itu adalah aksi pertamaku saat pertama kali bergabung dengan organisasi LMND tadi.

Maha, Ayahmu itu adalah salah satu anggota organisasi itu. Ia lebih dahulu telah aktif di sana. Aku tak tahu apakah ia ikut saat aksi di Karuwisi tadi. Aku mengenal ayahmu sebagai laki-laki dengan suara yang khas, ada getaran di setiap kata-katanya. Sebagaimana laki-laki di era-nya, ia gondrong. Agak bergelombang, kukira. Ia tak merokok, atau aku saja yang tak pernah melihatnya merokok. Ia cerdas, tentu saja. Dan yang saya senang, ia rajin sholat. Belakangan aku tahu, ia lulusan pesantren. Pantas saja biasanya aku terkadang mendengarnya bercakap dengan beberapa orang menggunakan bahasa Arab, bahasa di mana daerah para unta berkeliaran.

Aku sering bertemu dengan ayahmu di secretariat kami. Sekretariat kami adalah secretariat yang terlampau sederhana, bahkan untuk mereka yang mencintai kebersihan, akan mengatakan tempat kami kumuh. Tapi yang membahagiakan saya di sana ada kesetaraan. Kesetaraan itu mulai dipraktikkan dari cara memanggil pribadi—sebagai symbol tak ada senioritas—sampai urusan dapur. Kami saling memanggil dengan sebutan ‘Coy’, bukan ‘Kanda’ atau ‘Dinda’. Karena bagi kami urusan hormat-menghormati bukan soal ‘angkatan’ atau ‘jabatan’ dalam struktur.  Di dapur kami juga ada tulisan dinding yang intinya menggunakan dan membersihkan sendiri segala alat dapur yang digunakan. Itulah usaha kami mempraktikkan dalam kehidupan seharian kami semua slogan-slogan ‘besar’ seperti: hancurkan feodalisme, hancurkan penindasan.

Ayahmu yang kukenal adalah laki-laki yang berorasi dengan tenang, kadang menyelipkan cerita-cerita di dalamnya. Memang tak ada masalah dengan orasi berapi-api, ini hanya sekedar membuat perbedaan dalam cara ayahmu berorasi dengan yang lainnya. Ayahmu seorang pembaca puisi dengan penuh emosi. Mimiknya saat berpuisi akan segera meninggalkan mimic kesehariaannya saat bercengkrama dengan teman-temannya. Nah, berbicara tentang dunia perpuisian dan seni lainnya, tak mungkin tidak mengikutkan ibumu itu.

Aku mengenal singkat sejarah ibumu sebagai seorang mahasiswi penggiat teater. Aku pernah melihatnya beraksi dalam sebuah pementasan. Aku menduga, ibumu itu cukup dikenal dalam dunia teater kampus. Belakangan, saya mengenal cukup akrab ayah dan ibumu, tentu saja kali ini bukan sebagai sosok pribadi yang terpisah, tetapi sebagai satu pasang nama yang mustahil dipisahkan: Boby-Nita, atau Nita-Boby. Terasa ganjil jika hanya menyebut salah-satunya saja. Apa ini berarti bahwa mereka berdua diberkati semesta, Maha?

Lihat, Maha, awalnya aku mengenal dua pribadi itu secara terpisah, kini pelan-pelan sebagai satu-kesatuan, dan lebih jauh mulai sering melihat mereka beraksi bersama dalam banyak momen. Khususnya dalam aksi seni. Lebih khusus lagi dalam aksi teatrikal. Momen yang hingga kini terus hidup di kepalaku adalah saat ada sebuah acara di kampus. Di sana aku menyaksikan ayah dan ibumu saling membelakangi, saling memunggungi dalam satu sarung. Aku lupa warna sarungnya. Aku juga lupa tema teatrikal apa yang mereka perankan saat itu.

Aku tentu pernah mendapatkan kesempatan bermain teater bersama mereka, atau salah satu dari mereka. Pertama, saat  jelang perayaan 1 Mei, atau menyambut Hari Buruh Sedunia. Itu di tahun 2006. Waktu itu aku hanya mengisi posisi sebagai pemain gitar. Kedua, waktu aksi menolak Globalisasi. Aksi kami itu di wilayah Jalan Tol Makassar. Aku sudah lupa tahunnya. Kali ini aku benar-benar terlibat sebagai actor. Duh, Maha, itu saat-saat yang paling menyenangkan…
Ah, Maha, kukira kau tahu semua ini. Aku pernah melihatmu di satu sudut dari sebuah arena acara, sementara ayah atau ibumu sedang khusyu’ memainkan sebuah peran di sana.

Menurutku, Maha, jika kau dewasa nanti, yang terpenting dari semua momen yang kuceritakan dan mungkin pernah kau saksikan sendiri dengan mata kanak-kanakmu adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini: mengapa ayah dan ibu melakukan semua itu? Untuk apa dan untuk siapa?

Aku ‘dengar’ ayah dan ibumu cerita dalam blog mereka, sekarang ini kau sering mendengarkan lagu-lagu indie dan alternative, mulai berlatih bermain drum, dan mulai belajar bernyanyi. Sekilas ini seperti sebuah pepatah: “(usaha menjadikan) buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Bersenang-senanglah dengan semua itu, Maha. Latih otot-otot lengan dan kakimu saat bermain drum, latih laring suaramu saat bernyanyi. Jika dewasa nanti, kau harus melatih pikiranmu untuk membuat lirik yang sederhana, penuh makna, dan membebaskan tentunya. Untuk mencapai semua itu, ayah dan ibumu adalah orang tepat untuk diajak diskusi…

Aku yakin ayah dan ibumu tak akan melakukan pemaksaan keinginan dan pemikiran untukmu. Mereka telah melewati begitu banyak pengalaman berkomunikasi dengan banyak orang, berdiskusi tanpa memaksakan pendapat, tentu juga tanpa membuat kompromi terhadap prinsip-prinsip yang mereka miliki. Saya kira mereka paham betul apa yang pernah dinyatakan seorang penulis bernama Dee, dalam salah-satu cerpennya: “segala sesuatu tak bisa dipaksakan, namun layak diberi jalan!” Belajarlah dari mereka, Maha! Belajarlah dari mereka…

*******

Seorang nelayan sedang bersitirahat di bawah pohon kelapa. Lalu datanglah seorang dari kota. Seorang pengusaha.

“Kenapa bapak tidak melaut?”

“Sudah. Tadi aku dapat tiga ekor ikan besar. Aku rasa itu cukup untuk makan hari ini.”

“Wah, seandainya bapak menunda istirahat dan melanjutkan melaut, bapak akan mendapatkan lebih banyak ikan!”

“Untuk apa saya mendapatkan banyak ikan?”

“Ya, lebihnya bapak bisa jual.”

“Lalu?”

“Ya, bapak bisa mendapatkan banyak uang. Lalu bapak bisa menabungnya. Lalu bapak bisa membeli beberapa perahu lagi. Setelah itu, bapak mempekerjakan lebih banyak orang untuk perahu bapak.”

“Untuk apa saya harus melakukan itu semua?”

“Ya, supaya bapak mendapatkan lebih banyak waktu tanpa bekerja lagi, dan bisa beristirahat lebih lama. Bapak bisa bersenang-senang.”

“Terus yang sedang saya lakukan sekarang ini apa?”

Maha, itu cerita yang mengharukanku saat pertama kali membacanya pada sebuah buku. Itu membuatku berfikir ulang tentang makna kesederhanaan dan kerja keras. Tentang kebahagiaan dan inisiatif. Tentang hidup dan tantangannya.

Belakangan ini aku begitu suka dengan frase singkat yang sering dituliskan dan dibicarakan ayahmu dan teman-temannya: BAHAGIA ITU SEDERHANA. Ya, Maha! Bahagia itu pada intinya sederhana. Sangat sederhana. Ah, kufikir yang paling tahu tentang kebahagiaan itu adalah kanak-kanak seperti dirimu. Tak mungkin kamu mendefinisikan kebahagiaan itu apa, karena kamu sedang berada di dalamnya dan menjalaninya. Belajar, bermain, memiliki banyak teman, bertengkar dengan temanmu, lalu meminta maaf, bermain lagi, dan saat lelah kau istirahat, tertidur, lalu bermimpi indah…

Nah, Maha, tanpa bermaksud mengusik kebahagiaanmu saat ini, aku hendak berbagi tentang kebahagiaan yang tengah diperjuangkan banyak orang dewasa saat ini. Mudah sebetulnya melihat apa buktinya orang-orang mengejar kebahagiaan itu. Kamu bisa lihat di televise, di kota-kota, di kampung-kampung, bahkan mungkin di semua sudut dunia ini. Kamu bisa lihat bagaimana orang-orang menyaksikan seseorang yang disebut bijak berbicara dengan kalimat-kalimat yang ‘meneduhkan’ di hadapan mereka. Ada yang bertepuk tangan, mengangguk-angguk, bahkan sampai mengeluarkan air mata saat I ‘orang-bijak’ tersebut menyelesaikan kalimatnya. Mereka membawa masalah masing-masing untuk diringankan bahkan diselesaikan olh si orang bijak. Yah, mungkin suatu saat kau akan mengalami hal yang serupa jika dewasa nanti. Kau akan meminta pendapat orang-tuamu jika kau memiliki masalah di sekolahmu, entah saat kau bertengkar dengan teman-temanmu, atau kau membuat gurumu jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu yang berada di luar koridor kurikulum. Tetapi, Maha, tentu kasus mereka tadi lebih kompleks dan harus dibicarakan lebih teliti, agar tak terjebak pada pandangan bahwa itu semua wajar-wajar saja.

Maha, mari kembali menganalisa cerita si nelayan di awal tadi. Si nelayan sungguh sederhana dalam berfikir: bekerja keras mencari ikan, saat dirasa cukup, ia akan beristirahat dengan nyaman di bawah pohon kelapa. Sementara si orang kota, pengusaha itu, menginginkan si nelayan menunda istirahatnya dan mencari ikan lebih banyak. Maha, dua orang itu adalah cermin dari kehidupan orang dewasa saat ini. Kebahagiaan dan kesederhanaan memiliki makna berbeda bagi dua orang itu, si nelayan dan si pengusaha. Si nelayan memaknai kebahagiaan sebagai satu rantai sederhana: “bekerja-hasil kerja cukup-beristirahat.” Sedangkan si pengusaha: “bekerja-bekerja lebih keras-hasilkan lebih banyak ikan- pekerjakan banyak orang-hasilkan banyak uang untuk diri sendiri-lalu beristirahat.” Nah, aku serahkan kepada dirimu yang mana yang lebih sederhana dari dua rantai untuk menghasilkan ‘kebahagiaan’.

Nah, Maha, dua rantai itu kini semakin kompleks dan semakin rumit untuk dipikirkan. Sekarang dua keinginan untuk kebahagiaan itu sudah berkembang dalam ruang lebih lebar dan mengglobal. Tapi pada intinya, dua rantai itu tadi-lah yang terus berperang dan bertarung. Setidak-tidaknya menurutku begitu. Kau boleh meminta ayah dan ibumu untuk mendiskusikan ini, dan meluruskan jika ada yang keliru. Rantai kebahagiaan si nelayan tadi yang menurutku hendak diwujudkan ayah dan ibumu. Sementara rantai kebahagiaan si pengusaha adalah sesuatu yang mesti dilawan.

Dua ‘rantai kebahagiaan’ yang bertolak belakang dan saling hendak menegasikan itu kini sudah mengambil bentuk dalam ranah Negara dan institusi formal. (Duh, Maha, bahasaku semakin rumit saja. Aku sih menganggapnya penting, tapi aku punya keterbatasan menyederhanakan penjelasannya. Minta ayahmu menjelaskannya dengan sederhana ya. Hehehe!) Namun, yang kerap kali menang dan punya kekuatan besar adalah ‘rantai kebahagiaan’ si pengusaha. Ingat, pengusaha yang dimaksud di sini adalah orang yang mengobrol dengan nelayan tadi ya.

Nah, Maha, banyak sekali orang yang mengejar kebahagiaan tapi tak mempersoalkan soal ‘rantai kebahagiaan’-nya. Banyak sekali orang yang menginginkan kebahagiaan tanpa melihat penyebab dan akar masalah ketidakbahagiaan. Atau mereka melihat ketidakbahagiaan semata sebagai fenomena bathin saja, sehingga menjamurlah lembaga-lembaga penyedia nasehat, muncullah bintang-bintang dengan segudang kata-kata bijak. Tentu pada kasus tertentu kita membutuhkan semua itu.

Maha, aku pernah membaca fenomena sebuah negeri di mana teknologinya maju, rakyatnya ‘pekerja keras’, tapi banyak orang yang tidak bahagia di dalamnya. Pengejaran akan kebahagiaan tidak otomatis menyurutkan keberadaan ketidakbahagiaan. Aku melihat fenomena ini dalam negeri itu: kursus senyum, latihan nafas yang teratur, kursus berdansa, pelatihan kesopanan, pelatihan menghilangkan stress dan susah tidur, dan sebagainya. Mereka melakukan itu semua karena mereka susah untuk tersenyum, susah bernafas teratur, gerakan mereka sehari-hari begitu kaku, dan sebagainya. Tambahan lagi, aku juga melihat di negeri itu: para orang tua akan menjadi begitu bahagia jika mereka bisa masuk penjara, karena di sanalah mereka menemukan teman berbincang, sebab di kehidupan sehari-hari mereka, semua orang yang lebih muda dari mereka begitu sibuk mengikuti ‘rantai kebahagiaan’ si pengusaha tadi. Selain itu, ada juga sepasang kekasih yang sibuk dengan ‘rantai kebahagiaan’ si pengusaha, begitu ketakutan menghadapi masa depan jika mereka kelak berumah tangga. Maka mereka pun membeli robot yang bertindak sebagai bayi, yang bisa menangis, tertawa, berak, kencing, untuk melatih diri mereka sebelum mereka memiliki momongan. Saya juga melihat tayangan di televise yang meliput tentang negeri itu, di mana orang-orang di negeri itu telah menemukan minuman berenergi untuk menghilangkan wasir disebabkan duduk berlama-lama saat bekerja. Sungguh ironis!

Pikiran kanak-kanakmu mungkin susah untuk memahami itu. Mungkin menurutmu, Maha, kalau ingin tersenyum, ya tersenyum saja, kalau ingin tertawa, ya ‘kerjai’ temanmu atau lontarkan beberapa lelucon, atau jika ingin tidak terkena wasir, ya ubah pola kerjanya, atau istirahatlah yang cukup. Begitu mungkin menurut pikiran kanak-kanakmu. Ya, menurutku pribadi, sebaiknya pikiran kanak-kanak seperti itulah yang harus diperjuangkan sekarang ini.

Aku pernah membaca satu dongeng tentang seorang bocah yang berani mengatakan dan berteriak bahwa seorang raja di hadapannya telanjang bulat. Jadi ceritanya seperti ini: seorang raja hendak mencari pembuat pakaian yang bisa membuatkan ia baju dan celana paling indah yang pernah ada. Ia pun menemukan pembuat pakaian terkenal. Si pembuat pakaian kemudian merancang pakaian yang ‘paling indah’. Mereka pura-pura menjahit, mereka pura-pura menggaris pola baju. Mereka berusaha meyakinkan si raja bahwa yang mereka lakukan adalah usaha mereka membuat pakaian ‘paling indah’. Saat pakaian itu selesai, si raja diminta membuka baju dan celana, dan disuruh mengenakan pakaian yang ‘paling indah’ yang mereka pernah buat. Karena kepiawaian mereka meyakinkan raja dengan ‘teori-teori’ tentang keindahan berpakaian, si raja mengenakan juga pakaian yang ‘paling indah’ itu. Ia pun berkeliling kota memamerkan pakaiannya. Semua rakyat tak ada yang berani berkomentar. Mungkin di antara mereka ada yang menganggap itu pakaian ‘paling indah’. Nah, Maha, tiba-tiba ada seorang bocah laki-laki yang muncul di depan kerumunan orang dewasa, berteriak dengan lantang, ‘Raja telanjang. Raja telanjang bulat…”

Lalu kira-kira hikmah dongeng di atas, Maha? Aku tak tahu menurutmu seperti apa hikmahnya. Menurutku, kita harus mengatakan yang sebenarnya, sejujurnya tentang realitas kehidupan ini, meski banyak orang menganggap itu memang seperti itu adanya, seperti itu adanya. Pertahankan pendapat kanak-kanakmu bahwa untuk tersenyum, ya ajak sebanyak-banyak teman untuk bergurau, lupakan yang lain. Tak perlu membayar berbagai kursus hanya untuk melakukan itu semua. Berbagilah dengan banyak orang.

*****

Maha, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan sejenak. Kita akan menuju sebuah gua yang dalam dan agak seram. Tapi tak perlu khawatir, kita tak akan masuk ke dalamnya. Cukup berdiri di bibirnya saja.

Nah, Maha, saksikan stalaktit-stalaktitnya yang menggantung di kerongkongan goa. Lihat dengan seksama bagai setitik air menggantung di ujung runcingnya, atau kelelawar yang tidur di dekatnya. Maha, teriaklah sekeras-kerasnya, ucapkan dengan lantang, ‘AKUUU BERULAAANG TAAAHUNN HAAARIII IINIIIII….”

Sekarang apa yang terjadi, Maha? Ada suara yang muncul serupa suaramu. Suara itu juga meneriakkan kalimat yang sama seperti yang kau teriakkan tadi. Itulah gema, Maha! Gema dari suaramu. Gema itu adalah pelajaran bahwa dalam hidup, apa yang kau ‘tanam’ itu juga yang akan kau ‘petik’. Kebahagiaan yang kau tanam, kebahagiaan pula yang akan kau tuai. Tentu makna ini makna yang sejati-jatinya, bukan dalam koridor permainan bahasa dan logika. Sebagai petani, kebahagiaan itu adalah ketika mereka menanam padi, padilah yang akan mereka panen, padi yang akan mereka makan bersama keluarga. Lihat sekarang, banyak petani menanam padi, tapi yang mereka makan adalah beras dari padi luar negeri.

Nah, Maha, sekarang saksikan kelelawar-kelelawar itu beterbangan keluar, lalu belok kiri sebagaimana begitulah yang selalu terjadi. Anggaplah mereka keluar goa untuk merayakan ulang tahunmu. Anggap suara-suara mereka itu adalah ucapan selamat ulang tahun untukmu seorang…

Jika kau sudah bosan berada di bibir goa, mari kita pulang. Aku akan mengantarmu sampai di halaman rumahmu. Bawa masuk sebuah kado dariku. Jika kau bertanya untuk siapa kado itu, kau akan menemukan sebuah penjelasan di ujung tulisan di dalamnya.

"Ada sebuah kalimat dalam bahasa Belanda, ‘Ik Do Het Je!’ Jika diucapkan dengan lebih cepat, ia terdengat seperti ‘Ikedoe’, lalu jika diucapkan lebih cepat lagi, ia terdengar seperti  ‘Kedoe’ dan jika dipendekkan lagi akan menjadi ‘Kado’. Itulah asal-usul kata KADO.

Maha, kalimat Belanda itu berarti ‘Aku buatkan untukmu’. Jadi jika aku memberimu sebuah kado, tentu itu aku buatkan untuk hadiah ulang tahunmu. Semoga cerita-cerita di dalamnya berkenan untukmu. Semoga…”

(Sinjai, Senin 05 Desember 2012. Di tengah hujan dan kabut yang liris….)

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Ik Do Het Je, Maha!

  1. Anonim says:

    Hmmm sungguh kado yang istimewa....ijin di repost yah dedy

  2. Anonim says:

    dengan senang hati. silakan!

Diberdayakan oleh Blogger.