Cerita dari Belukarhujan

Beberapa hari terakhir seseorang pecinta pelangi menyapaku dengan Belukar Hujan. Dia menyapaku demikian mungkin karena melihat nama blogku ini. Tentu saja aku balas menyapanya dengan ‘pelangi’. Dalam pesan pendek yang saling-balas itu, kami membubuhkan symbol ‘#’ di depan sapaan itu. Awalnya bermula dari saling replay twit di twitter, dengan hastag #pelangi. Nah, di sini aku tak akan bercerita tentang kisah bagaimana ‘Belukar Hujan’ dan ‘pelangi’ berkomunikasi. Tapi aku akan berkisah tentang dari mana ‘belukar hujan’ ini aku dapatkan. Terima kasih, #pelangi, kau membuatku mengingat kembali sejarah ‘belukarhujan’. ;-)

Sebagai satu frase, ‘belukarhujan’ aku dapatkan dari satu cerita pendek berjudul Surau, karya Eka Kurniawan. Aku lupa persisnya di buku kumpulan cerpen (kumcer) yang mana. Yang jelas ada di antara dua kumcer ini: “Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya” dan “Cinta Tak Ada Mati”. Dalam ‘Surau’, frase ‘belukarhujan’ persis berada di kata pertama, kalimat pertama, paragraph pertama. Kenapa aku langsung jatuh hati dengan frase ini? Itu dimungkinkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kesenanganku akan hujan. Hal lainnya yang berkaitan dengan cerpen itu: kisahnya yang kuanggap agak mirip-mirip dengan sejarah hidupku.

Dalam ingatanku yang samar, ‘Surau’ berkisah tentang seorang laki-laki yang terjebak hujan dalam perjalanan pulang dari suatu tempat. Ia kemudian berteduh pada sebuah surau. Dari sanalah isi cerpen itu mengalir. Ia melihat seorang tua (mungkin seorang Imam surau) tengah sholat. Perlahan ingatannya membawa ia ke masa lalunya, ke rimba kanak-kanaknya yang penuh kisah indah dan suram. Seluruh kenangannya berkaitan dengan pengajaran agama yang ia dapatkan.

Ia teringat semua cara yang diberikan lingkungannya, khususnya orang-tuanya, dalam hal membuat ia menjadi ‘alim’. Kesan yang tertangkap dalam kepalaku, si laki-laki itu tidak pernah menjalani semua ajaran itu dengan sadar. Mungkin karena ia menganggap semua itu diberikan dan ia dapatkan dengan penuh paksaan. Ia terkenang bagaimana ia disuruh rajin mengaji, rajin sholat, dan bebebapa aktifitas keagamaan lainnya. Sedikit saja ia melanggar, maka hukuman penuh kepedihan siap menantinya.

Singkat cerita: tiba-tiba laki-laki itu didesak oleh dorongan yang entah datang dari mana, menyuruhnya berwudhu untuk sholat. Ia pun mengikuti dorongan itu. Dengan kemantapan hati, ia masuk ke dalam surau. Sepanjang perjalanan dari tempat ia berwudhu menuju satu sajadah, refleksi-refleksi terus bernarasi dalam kepalanya. Saat ia hendak mengambil gerakan pertama dalam sholat, ia tiba-tiba mengurungkannya, lalu ia bergegas pulang. Ia ternyata telah lupa lafadz sholat. :-(

Usai membaca cerpen itu, tiba-tiba aku teringat masa kecilku dulu. Tentu ada beberapa perbedaan mencolok antara tokoh itu dengan diriku. Jika ia sering mendapat siksaan dan hukuman sebab sering melanggar, sebaliknya dengan diriku: pujian lah yang sering aku dapatkan. Untuk urusan praktek agama, aku tidak terlalu bermasalah. Ini disebabkan mungkin karena seluruh jenjang pendidikan semua berbasis Islam. Dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah, hingga Pesantren.

Pada jenjang pendidikan dasar, aku dan teman-teman cukup pandai dalam hal praktek agama: mulai dari sholat, mengaji hingga menghafal ayat dan hadits. Dan kalau tak salah, sebelum tamat Madrasah, aku sudah menamatkan Qur-an besar, dan sempat membantu guru ngajiku mengajarkan murid-murid barunya. Kebetulan guru mengajiku adalah pamanku sendiri. Oiya, sebetulnya, aku pernah lama berguru pada orang lain, sebelum kemudian berpindah ke pamanku. Guru ngaji pertamaku bernama Pak Mawardi Usman. Ia tokoh Muhammadiyah yang cukup dikenal oleh orang kampung. Rumahnya persis di belakang masjid. Saya sangat akrab dengan tiga anaknya, khususnya yang nomor dua bernama Mujahid, karena satu kelas denganku di Madrasah. Sekarang ketiga anaknya ada yang sudah lulus dan menikah, ada juga yang masih kuliah. Kebetulan ketiga-tiganya kuliah di Malang. Dan mereka bertiga adalah laki-laki.

Perbedaan mencolok lainnya antara tokoh dalam cerpen Surau dengan diriku adalah soal ke-lupa-annya pada lafadz sholat. Aku tak mungkin mengalami itu. Setamat Madrasah, aku lanjut ke Pesantren di kampungku bernama Pesantren (Ma’hadi) Daarul Muttaqien—rumah orang-orang yang bertaqwa. Pada tahun pertama aku ikut lomba MTQ (Musabaqoh Tilaawatil Qur’an) tingkat kecamatan, menjadi hafidz Juz-amma. Aku lolos dan lanjut ke MTQ tingkat Kabupaten di Taliwang, yang kini sudah masuk wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, setelah pemekaran. Di jenjang ini aku tidak lolos, aku tiba-tiba demam panggung. Jadi dengan aktifitas yang menuntut daya ingat penuh itu, tak mungkin bagiku melupakan soal lafadz sholat, yang jika disbanding-bandingkan dengan ke-32 ayat dalam Juz-amma, tak seberapa panjangnya.

Tapi bukan berarti hal itu tak menimbulkan masalah dalam diriku. Belakangan, khususnya saat kuliah, kegamangan menyangkut keimanan mulai goyah, atau setidak-tidaknya mendapat tantangan baru. Ini dimulai dari Pesantren, saat aku dan mungkin juga beberapa temanku, mulai tak puas dengan pengetahuan yang kami dapatkan di Pesantren. Aku sendiri terkadang sering dihantui pertanyaan yang tak menemukan jawabannya menyangkut beberapa pelajaran di Pesantren. Yang paling kuingat, dan hal ini sering kali kuceritakan ke beberapa teman, adalah pelajaran Bulughul Maram. Ayat pertama dalam pelajaran tersebut adalah: Innaddiina indallaahil islam—agama yang paling benar di sisi Allah adalah agama Islam. Nah, saya tak puas dengan tafsir itu. Masa sih begitu artinya? Berarti jika ia satu-satunya yang benar, artinya yang lain salah, dan jika menggunakan logika bahwa yang benarlah yang masuk sorga, berarti agama lain akan masuk neraka? Lalu bagaimana dengan ayat lain yang mengatakan bahwa Tuhan akan membalas kebaikan seeorang meski kebaikan itu sebesar biji sawi?

Singkat cerita: masa kuliah adalah masa penuh pembongkaran segala keyakinan soal agama dalam diriku. Aku jatuh cinta pada ajaran Islam Liberal, khususnya yang digawangi si Ulil Abshar Abdalla. Tapi di kemudian hari saya jengah dengan ajaran ini yang terlalu liberal. Saya juga mulai membaca berbagai referensi gerakan-gerakan Teologi Pembebasan, khususnya yang bergerak di Amerika Latin. Saya bahkan pernah begitu senang dengan ajaran-ajaran Budha. Saya membaca berbagai buku (baik fiksi atau non-fiksi) menyangkut Budha. Saya mulai ikut memaki para ulama yang kerjanya sholat saja, tapi melupakan ibadah sosial mereka. Implikasinya, mereka dengan mudah distir kekuasaan yang menunggangi pengaruh mereka dan kesadaran apolitik mereka untuk menopang berbagai kebijakan yang tidak berpihak dan menyengsarakan rakyat banyak. Tapi, pelan-pelan, saya seperti menemukan satu keteguhan hati baru: kebaikan dan keadilan adalah komitmen dasar yang harus diperjuangkan. Karena komitmen dasar ini saya yakin ada pada semua agama, jadi kita tak perlu meninggalkan segala praktek agama kita. Itu hanya menyangkut metode teknis beragama belaka, bukan soal prinsip. Dan segala kebaikan serta komitmen akan keadilan itu tak boleh hanya ditempatkan dalam ruang abstrak-individualis, namun harus dipraktekkan dalam ruang kehidupan yang lebih luas.

Nah, panjang juga ya refleksiku dari cerpen Surau itu ya. Hehehe! Baik, sekarang soal kesenanganku akan hujan. Terus terang aku belum menemukan jawaban memuaskan soal ini. Tapi aku menerka-nerka, kesenanganku akan hujan itu implikasi dari jiwaku yang agak sedikit ‘perenung’. Dan peristiwa hujan seperti memberi ruang yang lapang untuk menajamkan sisi ‘perenung’-ku ini. Aduh, ‘perenung’ mungkin bukan kata yang cocok. Intinya, aku senang berada pada kondisi di mana pikiranku mengembara ke mana-mana, menghadirkan berbagai macam peristiwa di dalam kepala, membiarkan mereka mencari bentuknya sendiri. Nah, biasanya saat hujan peristiwa bathin itu semakin liar. Entah kenapa. Makanya, aku senang menulis saat hujan. Hehehe!

Selain senang dengan hujan yang kusaksikan sendiri, aku juga senang ‘membaca’ hujan dalam karya-karya sastra. Asmara dalam hujan, peperangan di tengah deras hujan, kematian dalam hujan, kesadaran yang lahir di tengah hujan, dan sebagainya, dan sebagainya. [selain itu, aku paling senang dengan karya yang bertemakan soal kepulangan dan keberangkatan. Entah kenapa jika setiap kali membaca karya yang bertemakan kedua hal itu, aku seperti menyaksikan sari-bathin kehidupan manusia ada dalam dua tema ini]. Puthut EA, seorang sastrawan yang kugemari karya-karyanya, kerap kali menghadirkan dua tema itu, selain juga tema tentang perempuan yang biasa bercerita dari sudut pandang perempuan atau gadis kecil.

Begitulah, mungkin masih ada beberapa kisah yang terkait dengan hujan. Tapi sementara ini hanya itu yang terlintas dan memohon segera dituliskan. Yah, seandainya bukan karena #pelangi, mungkin ingatan ini akan terkubur lebih lama dalam bilik ingatan, usang dan berdebu karena tak terbaca, dan bisa jadi ia akan ludes dimakan rayap-waktu.

Mungkin itulah mukjizat bercerita dengan banyak orang: akan selalu ada kisah yang hadir dan membuat makna baru yang selama ini mungkin dianggap biasa-biasa saja. :-)

(Kampungbuku, Kamis 19 Januari 2012)
 

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.