Cerita dari Komputer


Makassar bukan sekadar kota besar tempat aku menempuh pendidikan tinggi. Makassar adalah ‘titik-balik’ kehidupanku. Titik-balik yang mengguncang segala pengertian tentang banyak hal—dari pertemanan hingga keimanan. Dan sebagian titik-balik itu bertolak dari komputer. Ada banyak kisah yang lucu hingga mengharukan terkait dengan ‘barang’ yang begitu dekat dengan jari tangan kita ini…

Sebagai catatan: persentuhanku dengan komputer tak berhubungan dengan tingkat keahlian mengutak-atik perangkantnya. Setidaknya sampai hari ini jika laptopku bermasalah, aku masih sering kelimpungan dan kelabakan. 

Aku tak tahu persis kapan pertama kali bersentuhan dengan komputer. Yang paling kuingat adalah aku dan seorang teman mendatangi warnet dekat kampus Unhas. Masa itu tahun 2001, dan kami berstatus Maba (Mahasiswa Baru). Dan kalau tak salah, itu di bulan puasa. Orang bisa menebak, kami pasti sedang cari tugas kuliah, yang ujung-ujungnya ‘bertualang’ ke dunia ‘biru’ yang penuh getar. Hahaha!


Komputer masih menjadi barang langka dan mahal bagi sebagian besar teman angkatanku masa itu. Khusus bagi mahasiswa yang datang dari kampung seperti aku ini. Kecuali mungkin mereka yang berasal dari keluarga tajir, mungkin ber-orangtua tuan tanah, pedagang toko besar di kampungnya, dan sebagainya.Komputer langka karena biasanya hanya di warnet kami bisa mengaksesnya, mahal karena untuk mengaksesnya harus mengeluarkan sejumlah uang. Apalagi jika kami harus nge-print tugas sekaligus di sana. 

Masa itu belum ada pemindah data bernama flashdisk. Dulu saya dan teman-teman pakai disket, berbentuk persegi empat, sebesar kurang lebih setelapak tangan orang dewasa. Untuk memindahkan dan mengambil data dari komputer, disket itu dimasukkan ke tubuh bagian depan komputer, biasanya tepat di atas fasilitas CD-ROOM. Nanti di layar komputer akan muncul ‘Floppy A’. Harga disket beragam. Yang saya tahu, ada yang Rp. 2500 sampai Rp. 5000. Biasanya semakin mahal, semakin berkualitas, alias tak cepat rusak, tahan lama.

Tahun 2003, kalau tidak salah, saya juga punya pengalaman unik menyangkut komputer. Ceritanya begini: saya dan seorang teman, Fathan, sepakat menjalankan ‘bisnis jasa pengetikan berjalan’. Oiya, Fathan itu teman angkatan dan satu jurusan. Ia pindahan dari Sastra Perancis karena ternyata merasa tak terlalu menguasai bahasa. Saya lanjut: ‘bisnis’ itu prosesnya seperti ini, Maba dan junior lainnya yang ingin mengerjakan tugas seperti makalah, tak perlu ke warung jasa pengetikan resmi. Cukup artikelnya diberikan ke kami, nanti kami yang kerjakan dan print sekaligus. Saya lupa berapa tarif yang kami berlakukan saat itu. Yang jelas kami beri harga diskon. Hahaha! 

Masalahnya: di mana kami akan mengetiknya? Komputer kami tak punya. Di secretariat organisasi kami, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) jarak terlalu jauh. Yah, kami teringat teman satu angkatan satu jurusan. Namanya Sasmi. Ia perempuan mungil, berjilbab. Sepertinya ia berasal dari keluarga cukup berada. Ke sana lah kami menuju. Kami hanya membawa bekal tinta, beberapa disket, beberapa lembar kertas berisi tulisan. Oiya, kami tentu tak lupa membawa makanan ringan ke sana. 

Setiba di sana, biasanya malam hari, beraksilah kami. Tanpa bermaksud sombong, kalau urusan membuat narasi dari satu data untuk memperpanjang halaman, kami jagonya. Apalagi kalau sekedar buat kata pengantar? Sini, berikan ke kami. Hahahaha! Setelah print selesai, kami bergegas pulang. Hasil dari ‘bisnis’ itu kami belikan lauk pauk untuk makan kami sehari-hari. Jika mengenang masa-masa itu, saya terkadang tak bisa menahan diri untuk tertawa. :-P 

Nah, persentuhan intensku dengan komputer dimulai tahun 2004. Masa ini aku aktif di Organisasi Pers Mahasiswa Unhas bernama Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM). Kami punya terbitan bernama Catatan Kaki. Tahun itu aku resmi memegang jabatan sebagai Ketua Umum periode 2004-2005. 

Aku lupa merk komputer UKPM masa itu. Yang jelas kami, anggotanya, menyebutnya komputer ‘Garuda’. Tak jelas dari mana dan apa arti nama itu. Tapi ada cerita menarik mengenai komputer itu. Konon, katanya komputer itu dibeli oleh pengurus lama sesaat setelah Reformasi 98.

 Begini kisah samar yang kudengar: dulu UKPM dikenal sebagai tempat kumpulnya para aktifis Unhas. Di sana para aktifis berdiskusi dan menyusun rencana aksi bersama-sama. Sebagaimana diketahui, aura dan semangat demonstrasi menjalar ke banyak kota di Indonesia, tak terkecuali Makassar. Nah, pada satu aksi demonstrasi, tiba-tiba ada mobil besar yan singgah di jalan raya dalam kampus, dekat secretariat. Mobil itu ternyata berisi banyak sekali dos berisi air minum. Katanya, kalau tak salah, itu sumbangan seseorang atau mungkin institusi bahkan boleh jadi satu pemilik toko besar, yang diberikan kepada para demonstran. 

Masalahnya kemudian, dos air itu tidak terdistribusi. Saya lupa alasannya apa. Yang jelas itu bukan sebuah kesengajaan. Konon katanya berhari-hari dos air mineral itu tersimpan di gudang kecil secretariat. Entah usul dari mana, ada yang mengatakan sebaiknya dos air itu dijual saja. Singkat cerita, dos air mineral itu dijual. Dan dibelikanlah komputer ‘Garuda’ itu.

Komputer ‘Garuda’ itu selalu dikenang oleh teman-teman angkatanku di UKPM. Bahkan ada beberapa senior yang menganggap ia ‘sahabat’ sejati. Bagaimana tidak, tampakannya yang terkesan putih lusuh, namun tahan jatuh dan tahan virus. Selain itu, berbagai macam hal yang menyatukan dan mengakrabkan anak-anak UKPM (senior dan junior) dijembatani oleh komputer ‘Garuda’ itu. Aku sebut saja satu folder untuk ajang curhat di sana. Kami menamakan folder ajang curhat itu dengan ‘TERROR.COM’. Entah siapa yang pertama memberi nama ini. 

‘TERROR.COM’ adalah lembar maya microsoftword tempat anak-anak UKPM menuliskan apa saja yang mereka ingin tulis. Mulai dari curhat pribadi sampai curhat ideologi. Mulai dari curhat tentang Negara sampai curhat tentang ‘ibu negara’. Istilah ‘ibu negara’ adalah sinonim dengan ‘gebetan’.  Bahkan catatan keseharian mereka menyangkut perkuliahan juga mereka tulis di sana. Yang menarik, biasanya pada saat seseorang menanggapi tulisan teman yang lain. Tanggapan mencandai, sampai bernada sinis sungguh bagian yang sayang untuk dilewatkan. Saya agak sangsi jika anak-anak UKPM generasi saya akan melupakan ‘TERROR.COM’.

Jadi ‘TERROR.COM’ semacam ‘pintu masuk’ bagi rumah yang lain yang dibangun di atas pondasi kebersamaan dan penyatuan batin anak-anak UKPM. Bagi senior yang lama tak bertandang ke secretariat, lalu mereka datang dan tak menemukan orang di sana, mereka tak akan kecewa. Mereka akan menyalakan komputer, lalu mencari folder tersebut. Biasanya jika mereka usai membaca, akan menanggapi bagian yang ingin ia tanggapi. Dan saat pengurus aktif memeriksa folder tersebut sepulang kuliah, mereka akan tahu, ‘oh ternyata kakak senior ini tadi datang ke sini!” Sungguh kenangan yang menyenangkan.

Sekarang tradisi itu tak ada lagi di UKPM. Apalagi sejak Facebook menggeledah masuk hingga ke ruang sempit secretariat. TERROR.COM sudah punah. Sejarah baru telah datang. Dan kenangan tentang semua itu bagai kitab suci tua: dibaca sudah tak terlalu bermanfaat, dibuang takut berdosa. 

Usai memikul tanggung jawab sebagai Ketua Umum, saya ‘kembali’ ke Fakultas. Saya tak benar-benar meninggalkan UKPM. Organisasi itu menurutku terlalu seksi untuk ditinggalkan. Ia rumah kedua secara fisik, tapi rumah pertama bagi kelahiran kesadaranku dalam membentuk pribadiku yang sekarang. Di Fakultas, saya menggagas kegiatan menulis di Jurusanku, Ilmu Sejarah. Kegiatan ini terus berlangsung sampai saat ini. Selain itu, saya dengan beberapa junior satu letting di bawah angkatanku, menggagas satu komunitas yang kami beri nama Dialektika. Kami menggelar diskusi, menerbitkan bulletin, dan sekali-kali tergabung dalam aliansi aksi. Sekitar ada satu semester komunitas ini menjalani masa keemasan. Kami cukup dikenal oleh beberapa group diskusi lain di fakultas, mungkin juga di fakultas lain.

Di Dialektika ini, kegairahan lain saya dapatkan. Ini tak bermaksud membanding-bandingkan dengan organisasi yang pernah saya tempati sebelumnya. Kegairahan ini muncul karena posisi kami setara, dalam artian, kami belajar sama-sama. Meski saya secara otomatis menjadi konsultan menulis untuk bulletin karena predikat ‘jurnalis kampus’, itu tak benar-benar membebani. Saya merasakan sekali bagaimana kami yang tak lebih dari tujuh orang ini merancang banyak hal untuk komunitas kami. Kami mengadakan diskusi hampir tiap malam. Biasanya temanya kebanyakan soal sejarah, mungkin karena basic keilmuan kami yang sama, padahal komunitas kami tak kami maksudkan tertutup untuk satu jurusan saja.

Nah, di sini saya lagi-lagi intens dengan komputer. Karena sedikit punya dasar melay-out pakai program pagemaker, otomatis sayalah yang sering begadang, menata-letak tulisan teman-teman sehabis deadline tengah malam. Saya mengerjakan semua itu dengan sangat bersemangat, diiringi lirih music winamp yang menyatu dengan orchestra tak tentu nada dari suara ngorok teman-teman yang tertidur. 

Semangat kami mendapat apresiasi cukup besar dari kalangan dosen kami. Kami membawa terbitan kami, sambil diskusi soal kegiatan-kegiatan kami. Dari sana, dengan terang-terangan kami katakana bahwa kami butuh dukungan dana. Dana itu untuk membiayai terbitan dan membiayai proses diskusi yang sering kami gelar di koridor-koridor kampus. Dan mereka tanpa kesan berat hati menyumbang beberapa rupiah. Bahkan ada yang ingin menyumbang tulisan untuk edisi terbitan berikutnya. Sebagai tanggungjawab, kami selalu datang kembali menyerahkan nota-nota sebagai bukti bahwa sumbangan mereka telah disalurkan pada jalan yang benar. Hehehe!

‘Dialektika’ ini perlahan-lahan mati-suri sejak kami pulang dari KKN, tahun 2006 silam. Tak ada semangat lagi untuk mengaktifkannya. Para awaknya sibuk dengan urusan skripsi. Saya kembali lagi ke UKPM. Kalau tak salah, tahun 2006 ini saya terpilih menjadi Koordinator Dewan Pers UKPM. Saya agak lupa. Yang jelas itu di masa kepengurusan Khairil Akbar. 

Lalu apa yang tersisa dari kenangan tentang ‘Dialektika’ itu? Pertama, tentu saja soal komputer. Apa yang saya lakukan, jejak tulisan dan lay-out saya tersimpan di komputer milik seorang teman, yang kamarnya kami jadikan sekretariat. Semua karya-karya kami menjadi fosil di sana. Yang cukup menggembirakan, beberapa tahun setelah menyandang gelar sarjana, setelah semua awaknya ada yang pulang ke Flores, ke Pinrang dan sebagainya, tiba-tiba teman di Palu mengirim beberapa folder tulisan saya yang pernah tersimpan di komputernya. Bahkan ada dua bab rencana novel yang tak selesai yang saya tulis di sela-sela waktu senggang. Saya nyaris jatuh menangis membacanya kembali. Betapa tidak, beberapa karya itu ada yang saya lahirkan di tengah malam yang begitu menyakitkan: perut lapar dan tak ada makanan. Uang juga tak ada. Selain itu, perasaan haru itu bercampur dengan kebahagiaan. Saya ingat ada beberapa dari karya itu yang masuk di beberapa Koran Lokal. Dan kau tahu, tak ada yang lebih indah dari perasaan menikmati hasil kerjamu sendiri dan orang-orang mengapresiasinya. Dunia terasa begitu indah dan menyenangkan…

Seusai sarjana, saya melanglang ke berbagai pelosok desa, ikut jadi volunteer untuk beberapa program yang dijalankan oleh Sekolah Rakyat Petani Payo Payo, satu lembaga yang bergerak pada masalah Pedesaan. Lembaga ini berada di bawah payung komunitas bernama Ininnawa. Ininnawa sendiri memiliki beberapa ‘organ’ lain selain Payo Payo. Bibilioholic menggiatkan budaya literasi lewat perpustakaannya, RumahKamu (Rumah Kaum Muda) menggiatkan penelitian untuk pelajar, Penerbit Ininnawa menerbitkan buku sejarah-budaya lokal, dan sekarang ada AcSI (Active Society) yang aktif mengadvokasi pedagang pasar tradisional lewat advokasi berbasis riset.

Dan begitulah kilatan kisah yang lahir dari beberapa komputer yang pernah saya ‘jamah’. Dulu, waktu sebelum marak penggunaan laptop, mahasiswa selalu berada di kamarnya jika ingin mengerjakan tugas. Sekarang lain sudah. Pengerjaan tugas bisa dikerjakan di pinggir koridor, di samping WC kampus, dan titik-titik lainnya yang selama ini tak mungkin untuk tempat komputer.

Dulu bahan diskusi masih sebagian besar dari buku, yang ulasannya ditulis ke komputer. Sekarang buku dengan mudah dibaca di komputer. Dulu analisa lahir dari perdebatan sengit yang menggairahkan, sekarang analisa sepertinya mudah dikutip dari sana-sini di internet. Kebijaksanaan sepertinya tak lagi dicari di dunia nyata, tapi di dunia maya. Kita tak lagi membaca tulisan, tapi tulisan yang begitu banyak berseliweran yang membaca kita. Saya sendiri bingung dan biasanya gamang menghadapi fenomena ini. 

Saya akhiri saja tulisan ini tanpa kesimpulan apa-apa, yah mungkin sedikit pertanyaan konyol dan tidak nyambung: bagaimana kira-kira masyarakat masa depan menyimpan dan menikmati kenangan mereka?


(Ditulis sesaat setelah usai membuat TOR untuk satu kegiatan di Kampungbuku. Kebetulan temanya tentang komputer. Maka jadilah tulisan ini. Sabtu, 14 Januari 2012. 06.03 wita)

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 2 Comments

2 Responses to : Cerita dari Komputer

  1. Kau mau tau bagaimana masyarakat masa depan menikmati kenangan? dengan berkisah kepada sesamanya, barangkali dlm sebuah lingkaran yang tak terlalu besar dan ditengah-tengahnya terdapat api unggun, sembari berpuisi, menyanyi, dan berdansa. Semuanya mereka lakukan dibawah terang bulan: rembulan kuminis!... hihihi :D

  2. terro bagai kitab suci tua: dibaca sudah tak terlalu bermanfaat, dibuang takut berdosa.

    bagaimana kalau kamu menginisiasi group FB bernama terror ded....
    kita ramaikan bersama dengan berbagai diskusi tentang aktivitas kita masing2...Mungkin tidak akan sehebat TERROR UKPM, setidaknya ia tetap ada

Diberdayakan oleh Blogger.