Sejarah yang Menyenangkan


Alas Pikir
Pada mulanya adalah buku komputer: Pedoman Lotus1-2-3 Edisi Kelima, terbitan Andi Offset Yogyakarta tahun 1993. Ditulis oleh Ir. Zinsari. Dari sana, ide pun mengalir untuk merancang satu kegiatan menarik terkait sejarah dengan konteks lokal: Makassar.

Komputer, bagi kami, bukan sekadar seperangkat “alat yang dipakai untuk mengolah data menurut perintah yang telah dirumuskan” [Wikipedia]. Namun, ia adalah salah-satu cermin melihat berbagai fenomena perubahan sosial-masyarakat dalam periode sejarah. Komputer merupakan satu produk masyarakat ‘modern’ yang kelahiran dan pertumbuhannya turut mempengaruhi begitu banyak aspek dalam hubungan manusia.

Di Makassar, perkembangan kota tumbuh dengan begitu pesat. Pertumbuhan ini ditandai salah satunya dengan meningkatnya konsumsi barang teknologi seperti komputer. Bangunan pusat belanja barang elektronik perlahan bertambah, seperti MTC dan Computer City. Festival komputer berskala besar beberapa tahun belakangan mulai marak. Yang paling sohor adalah Festival Komputer Indonesia (FKI) yang diadakan tiap tahun di Celebes Convention Centre (CCC) yang bertempat di kawasan Pantai Losari.


Ruang lain yang menjadi daerah ‘invasi’ bisnis dunia komputer adalah wilayah-wilayah sekitar bangunan institusi pendidikan dan permukiman pelajar serta mahasiswa. Di Makassar, di beberapa titik, perguruan-perguruan tinggi ada yang tengah membangun kampus mereka. Di mana ada rencana pembangunan untuk hal-hal tersebut: jasa pengetikan, warung internet, servis komputer, turut tumbuh bersama jenis bangunan lain dengan fungsi beragam. Ini mengisyaratkan, komputer adalah barang yang turut mempengaruhi ruang, hadir dalam waktu yang spesifik. 

Nah, dari alas pikir di atas, kami berupaya menjadikan komputer sebagai ‘kendaraan’ menuju ruang-lampau, mencari perubahan apa yang disumbangkan oleh teknologi ini, mencatat, menganalisa dan mendiskusikannya bersama khalayak. Cerita-cerita unik dari manusia-manusia yang hidup dalam ruang-lampau itu akan ditulis, untuk melihat perubahan apa yang terjadi akibat dari persentuhan dengan dunia komputer. Tak sekadar itu, ‘kendaraan’ ini sendiri akan coba diupayakan untuk dikaji: asal-muasal mesin, perubahan dan perkembangannya, dan kehandalan ‘sopir’ sebagai ‘pengendali’.  

Tujuan Penelitian
Tujuan kegiatan ini berangkat dari keinginan sederhana: belajar [menulis] sejarah dengan lebih menyenangkan, santai, dan berawal dari hal-hal sederhana, dekat dengan jari tangan kita sendiri. Lebih jauh, mencoba memahami apa yang terjadi di ruang-lampau tadi, dengan meneliti dan mengkaji langsung secara bersama-sama.

Dalam lapangan wacana [penulisan] sejarah, jamak diketahui, penulisan sejarah, khususnya pada era Orde Baru, sedikit memberi ruang bagi “kisah-kisah orang biasa, teknologi dan kehidupan sehari-hari, dan pada dimensi sosialnya” (Dhanang Dispati Puguh: http://www.scribd.com/doc/46257709/Memikir-Ulang-Historiografi-Indonesia. Akses Sabtu, 14 Januari 2012. 02.14 wita). Implikasinya, sejarah dipahami dan dicitrakan sebagai satu narasi besar, satu produk berbentuk tulisan yang hanya berkutat dengan masalah kekuasaan dan ‘politik’. Ini berbarengan dengan ‘ketidakpercayaan’ sebagian masyarakat terhadap karya-karya sejarah yang pernah ditulis sebelumnya. Implikasi lebih jauh, bagi orang yang ingin meneliti sejarah, ‘tersesat’ ke dalam objek kajian yang ‘nun-jauh’ di ‘sana’. Bagi mereka yang ‘tersesat’ ini, fenomena sehari-hari bukanlah objek bagi penelitian sejarah. 

Mengonsumsi alur historis wacana penelitian dan penulisan sejarah dan memahami ‘kecacatannya’ tentu tak cukup untuk mengubah pola-pikir. Tak cukup menjadi pasif, mesti ada gerakan aktif. “Perlu ada ide dan gerakan untuk mengajak orang meneliti sejarah sehari-sehari, melakukan penelitian sejarah alternatif.” (Dias Pradimara, komunikasi pribadi, 12 Januari 2012).

‘Gerakan aktif’ tadi itulah yang akan kami upayakan. Berangkat dari ‘komputer’, kami menyiapkan diri melakukan penelitian. Penelitian terbagi dalam dua bentuk: penulisan dan visual. Minggu kedua Januari setidaknya dilakukan dua kali pertemuan. Dalam dua pertemuan itu, dibahas berbagai hal menyangkut isi dan bentuk penelitian, serta rencana pameran sebagai ‘rangkaian akhir’. Apa-apa saja objeknya, siapa narasumbernya, dan yang tak kalah penting: siapa saja yang harus dilibatkan untuk melakukan penelitian ini. 

Pertemuan awal (10 Januari), dibicarakan soal rangkaian kegiatan yang dilakukan saat pra-pameran dan waktu berlangsung pameran. Tentu saja gambaran rangkaian kegiatan tersebut masih sangat abstrak dan mentah. Misalnya, rangkaian kegiatan pra seminar adalah penelitian berbentuk tulisan dan visual. Saat pameran berlangsung, data-data yang didapatkan akan disajikan untuk khalayak. Masing-masing kerja ditentukan penanggung-jawabnya.

Pertemuan kedua (11 Januari), pembicaraan sudah mengarah kepada hal-hal yang lebih detail. Misalnya, didiskusikan area mana saja yang bakal menjadi objek penelitian. Tercatat ada beberapa daftar nama narasumber, dan beberapa orang dari kalangan ‘profesional’ menyangkut dunia komputer. 

Sementara ini, beberapa partisipan kegiatan yang mengikuti pertemuan diamanahkan untuk menyososialisasikan serta mengajak beberapa teman untuk bergabung. Tentu masih ada banyak hal yang perlu didiskusikan dan dipermantap. 

Kami mengajak anda untuk bergabung.

POSTED BY belukarhujan
POSTED IN
DISCUSSION 0 Comments
Diberdayakan oleh Blogger.